Sukses

3 Cerita di Balik Syuting Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Liputan6.com, Jakarta Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak, berjaya dalam Piala Citra 2018 yang digelar pada akhir pekan lalu. Film arahan Mouly Surya ini, berhasil menyabet 10 Piala Citra, termasuk penghargaan utama berupa Film Terbaik.

Tak hanya di Piala Citra 2018, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak juga menuai beragam pujian dari masyarakat internasional. Salah satunya, adalah Grand Prize di Tokyo FILMeX pada 2017.

Sejumlah review dari media mancanegara pun memberikan penilaian positif terhadap Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak. Variety, bahkan menilai bahwa Mouly dan filmnya ini membuka jalan bagi sub-genre film baru, yakni film Satay Western.

 

Tak heran bila film ini menjadi perwakilan Indonesia untuk maju dalam kategori Best Foreign Language Film di Oscar 2019 mendatang.

Ternyata bukan hanya pencapaian Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak saja yang menarik. Melainkan juga berbagai cerita saat syuting film ini. Apa saja?

 

2 dari 4 halaman

1. Diilhami dari Kisah Nyata

Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak menceritakan tentang seorang janda (Marsha Timothy) yang membunuh dan memenggal kepala perampok yang menyatroni rumahnya.

Garin Nugroho, ternyata mendapat ide cerita film ini dari kejadian nyata, di mana ada orang-orang yang benar-benar dipenggal. "Film ini diangkat dari kisah nyata, dari kejadian sebenarnya. Waktu ke Sumba di tahun 1986 sama tahun 2004 antara enam sampai tujuh kali ada kejadian di pasar," tutur Garin Nugroho pada 2016 lalu, seperti dilansir dari Bintang.com.

Garin menceritakan bahwa tak jarang seseorang dihabisi nyawanya, lantaran dendam. "Jadi dia jalan ke pasar lalu orang yang sedang jualan dipotong lehernya dibawa kepalanya, kemudian dia nyerahin diri ke kantor polisi," tuturnya.

3 dari 4 halaman

2. Marsha Timothy Melihat Mumi

Di Sumba, lokasi syuting film ini, ternyata penguburan jenazah membutuhkan dana yang cukup besar bila dijalankan menurut tradisi di sana. Bila biayanya belum cukup, maka jenazah tersebut diawetkan dan disimpan lebih dulu di rumah.

Nah, di lokasi syuting, Marsha Timothy sempat kaget begitu mengetahui hal ini. "Yang kita kaget, kita pikir dimumi itu ditutup semua tapi di sana itu enggak. Jadi keliatan mukanya posisinya duduk. Itu yang aku baru tahu dan baru lihat," ujar Marsha Timothy.

4 dari 4 halaman

3. Gaul Bareng Ibu-Ibu Sumba

Bermain sebagai tokoh utama dalam film ini, tentu saja Marsha Timothy harus menampilkan perannya sebagai seorang wanita Sumba dengan maksimal. Salah satu hal yang menantang baginya, adalah menguasai dialek daerah ini.

Untuk mempercepat dirinya menguasai dialek ini, ia pun punya satu cara tersendiri. "Bergaul langsung sama ibu-ibu Sumba itu membantu sekali," tuturnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Film Toko Barang Mantan, Polemik Cinta dalam Berbagai Cerita
Artikel Selanjutnya
Mencari Makna Move On yang Sesungguhnya di Film Toko Barang Mantan