Bursa Saham Asia Hari Ini Tertekan, Indeks Nikkei Susut 1,2%

Bursa saham Asia Pasifik tertekan pada Selasa, (13/10/2026) di tengah harga minyak yang sentuh US$ 106 per barel setelah serangan Houthi ke Bandara Riyadh.

Diterbitkan 13 Oktober 2026, 08:50 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Asia Pasifik tergelincir pada perdagangan saham Selasa, (13/10/2026). Koreksi bursa saham Asia hari ini terjadi di tengah kekhawatiran baru mengenai gangguan pasokan minyak mendorong harga minyak Brent melampaui US$ 106 per barel menyusul serangan mematikan di bandara Arab Saudi pada Sabtu pekan lalu.

Mengutip CNBC, di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang turun 1,2%. Indeks Topix mendatar. Indeks Kospi di Korea Selatan anjlok 3,29% saat pembukaan. Indeks Kosdaq terpangkas 2,49%. Indeks ASX 200 di Australia merosot 0,33%.

Adapun bank-bank besar seperti JPMorgan, Goldman Sachs, Citigroup dan Well Fargo akan merilis laporan keuangan sebelum pembukaan perdagangan saham Selasa. Demikian juga UnitedHealth akan merilis laporan keuangan.

Laporan-laporan awal ini dapat menentukan arah bagi musim laporan keuangan yang diwarnai ekspektasi tinggi. Menurut FactSet, rata-rata analis memperkirakan laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 tumbuh hampir 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Chief Market Strategis Ameriprise, Anthony Saglimbene menuturkan, tiga kelompok kemungkinan besar akan menentukan bagaimana investor menilai musim laporan keuangan ini,

1) Bank (kondisi kesehatan sektor konsumen dan bisnis)

2) Perusahaan Teknologi Besar (monetisasi AI), dan

3) Energi (ketahanan laba yang didorong oleh harga minyak)

"Di luar sektor-sektor tersebut, kondisi kesehatan konsumen dan bisnis di tengah suku bunga yang lebih tinggi, biaya yang meningkat, serta kekhawatiran mengenai lingkungan makroekonomi akan dipantau secara ketat di berbagai sektor sepanjang musim ini,” ia menambahkan.

 

Sentimen Pasar Global

Pada Selasa, investor juga akan mencermati data penjualan rumah yang sudah ada (existing home sales) serta komentar dari pejabat Federal Reserve, yakni Christopher Waller, Tom Barkin, dan Susan Collins.

Pada akhir pekan ini, data inflasi bulan September akan dirilis, hal ini berpotensi memicu gejolak pada imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS (Treasury) setelah sempat mencapai level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Pasar obligasi AS tutup pada Senin karena libur Indigenous Peoples’ Day.

Wall Street melewati sesi perdagangan dengan hasil yang beragam. Indeks Dow ditutup naik lebih dari 195 poin pada Senin, sementara penurunan pada saham-saham sektor memori menyeret indeks Nasdaq Compositedan S&P 500 ke zona negatif pada hari tersebut.

Sementara itu, indeks S&P Futures melemah 0,1%. Indeks Nasdaq Futures susut 0,2% dan indeks Nasdaq naik 17 poin.