Wall Street Melejit Setelah Rilis Data Ketenagakerjaan AS Melemah

Indeks saham acuan di wall street kompak melesat usai rilis data ketenagakerjaan AS.

Diterbitkan 03 Oktober 2026, 07:42 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan saham Jumat, 2 Oktober 2026 (Sabtu pagi Jakarta). Wall street melesat seiring data ketenagakerjaan yang melemah secara tak terduga yang memicu harapan the Federal Reserve (the Fed) akan mempertahankan suku bunga stabil pada Oktober.

Mengutip CNBC, Sabtu (3/10/2026), indeks Dow Jones melesat 250 poin atau 0,5% dan ditutup ke 51.176,46. Indeks S&P 500 menguat 0,7%. Sementara itu, indeks Nasdaq bertambah 1,2% menjadi 27.190,86. Indeks ini sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang sebelum akhirnya kembali turun seiring berbalik arahnya imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Wall street meski reli menjelang akhir pekan, tetapi cenderung tertekan selama sepekan. Indeks Dow Jones merosot 1,3%. Indeks S&P 500 turun 0,3%. Indeks Nasdaq melesat 0,6%.

Sementara itu, imbal hasil treasury sempat turun pada Jumat pekan ini setelah rilis laporan ketenagakerjaan pada September. Akan tetapi, imbal hasil kembali naik sehingga menekan harga saham AS turun dari level tertinggi sesi perdagangan tersebut.

Saham-saham teknologi menguat seiring kembalinya minat risiko di Wall Street. Saham Nvidia sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa untuk pertama kalinya sejak Mei, meskipun akhirnya ditutup di bawah rekor penutupan sebelumnya. Saham CrowdStrike, Palo Alto Networks, dan AMD juga sempat mencapai rekor tertinggi sepanjang masa. Saham AMD sendiri naik hampir 3%.

 

Laporan Nonfarm Payrolls

Laporan nonfarm payrolls bulan lalu menunjukkan ekonomi AS menambah 29.000 lapangan kerja, sementara tingkat pengangguran naik menjadi 4,2%. Konsensus Dow Jones sebelumnya memperkirakan pertumbuhan lapangan kerja sebesar 84.000 dan tingkat pengangguran tetap stabil di angka 4,1%.

"Ini adalah jenis angka yang memang diinginkan pasar dari sisi ketenagakerjaan," ujar Kepala Strategi Pasar di Osaic, Phil Blancato.

"Tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, tidak terlalu fantastis, namun juga tidak menunjukkan pelemahan,” ia menambahkan.

Angka tersebut membuat para pelaku pasar mengevaluasi kembali langkah Federal Reserve selanjutnya. Berdasarkan data CME FedWatch Tool, perdagangan kontrak berjangka fed funds mengindikasikan kemungkinan sebesar 77% bank sentral akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan bulan ini.

 

Harga Minyak Melemah

Chief Investment Officer di Nuveen, Saira Malik mengatakan kepada CNBC, laporan tersebut dapat memberikan dukungan bagi pasar menjelang dimulainya musim laporan keuangan perusahaan, yang menurutnya akan menunjukkan kinerja "sangat kuat."

"Jadi, menurut saya ini bisa menjadi awal dari reli Santa Claus yang selama ini kita harapkan," ujarnya.

Harga minyak mengalami penurunan, yang turut menopang pasar saham menyusul laporan sejumlah negara Eropa sedang mempertimbangkan pelepasan cadangan bahan bakar strategis akibat tekanan dari pemerintahan Trump.

Para investor mengawali Oktober setelah mencatatkan kenaikan moderat pada sesi perdagangan Kamis. Namun, indeks Dow dan S&P 500 diperkirakan mencatat penurunan mingguan di tengah aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global, sementara Nasdaq menjadi satu-satunya indeks utama yang berpotensi menutup pekan dengan kenaikan.