Sukses

Tapering The Fed Tak Terlalu Mengkhawatirkan, Ini Alasannya

Liputan6.com, Lombok - Sejumlah indikator ekonomi Indonesia positif mulai dari ekspor Indonesia hingga defisit anggaran berada di level aman bakal dapat menjaga dari dampak langkah bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed) menerapkan tapering atau pengurangan pembelian obligasi.

Chief Economist PT Sarana Martin Daniel Siyaranamual menuturkan, federal market open commitee (FOMC) telah melakukan kebijakan tapering.

Kebijakan tapering yang dilakukan saat ini lebih baik ketimbang 2013 seiring dikomunikasi sudah dari jauh-jauh hari sehingga mempersiapkan pasar menghadapi kebijakan tersebut. Adapun saat ini yang belum dilakukan yaitu menaikkan suku bunga.

"Tapering saat ini lebih the Fed mulai komunikasikan dengan lebih baik keinginan mereka," ujar dia saat media gathering SMF, Lombok, NTB, dikutip Minggu (28/11/2021).

Ia menuturkan, Presiden AS Joe Biden mencalonkan kembali Jerome Powell sebagai ketua The Fed. Sosok Powell bukan orang baru di The Fed.

"Saat Mantan Presiden AS Donald Trump, Powell juga pernah masuk. Jerome Powell terkenal ingin tingkat pengganguran tidak tinggi-tinggi amat. Dia naikkan suku bunga rada ketakutan, pengusaha menjerit. Jadi kurangi aktivitas bank sentral di treasury bill. Kurangi sedikit-sedikit. Pesannya tak usah takut kebijakan tapering," ujar dia.

Dampak tapering itu dinilai belum terlalu mengkhawatirkan seiring indikator ekonomi Indonesia yang positif. "Nilai tukar rupiah kita terjaga. Ekspor kita terjaga, defisit transaksi berjalan di masih di level aman, defisit APBN kita masih berjalan di level aman, defisit ABPN di level aman. Otoritas fiskal dan moneter punya ruang nafas untuk antisipasi apa yang dilakukan oleh bank sentral AS," kata dia.

Martin mengatakan, the Fed tidak melakukan kebijakan tapering secara tiba-tiba, demikian juga dengan suku bunga.

"Artinya sampai pertengahan 2022, kebijakan interest bank sentral belum akan berjalan banyak. Tapering berjalan perlahan," kata dia.

Demikian juga dengan dampak Evergrande. Martin menilai Evergrande juga tidak terlalu mengkhawatirkan.

"Jangan takut dengan Evergrande. Suprime mortgage dilakukan diversifikasi produk turunan dari mortgage terjadi di Amerika Serikat. Di China tidak seperti itu," kata dia.

Adapun tekanan China melalui ekspor dan impor terhadap Indonesia. "Kalau begitu perekonomian China sedikit turun, nilai ekspor kita akan tetap terkoreksi," kata dia.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Prospek Ekonomi Indonesia

Meski demikian, Martin optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal posisi pada 2022-2023. Hal ini dengan catatan kasus COVID-19 dapat dikendalikan oleh pemerintah.

Selain itu, jika kinerja ekspor baik berlanjut dan pertumbuhan ekonomi dapat di atas 5 persen pada kuartal IV 2021, ekonomi Indonesia akan tumbuh 7-9 persen.

Martin menuturkan, pertumbuhan ekonomi itu juga didukung dari konsumsi rumah tangga."Kondisi ini dipertahankan kalau semester I 2022 (pertumbuhan ekonomi-red), 7- 9 persen," tutur dia.