Sukses

Wall Street Melambung, Indeks S&P Cetak Rekor Berkat Saham Industri

Liputan6.com, New York - Bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street menguat pada perdagangan saham Selasa, 3 Agustus 2021. Indeks S&P 500 cetak rekor tertinggi baru dengan kekuatan pasar lebih luas di tengah kekhawatiran COVID-19.

Pada penutupan perdagangan wall street, indeks Dow Jones naik 278,24 poin atau 0,8 persen menjadi 35.116,40. Indeks S&P 500 naik 0,8 persen ke posisi tertinggi baru di posisi 4.423,15. Sementara itu, indeks  saham Nasdaq bertambah 0,6 persen menjadi 14.761,29.

"Volatilitas harian diharapkan setelah pergerakan kuat untuk saham sejak musim semi tahun lalu,” ujar Direktur Perdagangan dan Derivatif Schwab Center for Financial Research, Randy Frederick dilansir dari CNBC, Rabu (4/8/2021).

Ia menambahkan, pelaku pasar tahu valuasi cukup tinggi. Indeks S&P 500 naik hampir 100 persen sejak posisi terendah pada Maret 2020. Ia menuturkan, pasar di wall street cenderung sedikit gelisah terhadap segala jenis berita saat ini.

“Pandangan saya untuk sebagian besar pada kuartal III adalah saya mengharapkan pasar sebagian besar sideway dengan volatilitas yang sedikit meningkat,” ujar dia.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Imbal Hasil Obligasi Bertenor 10 Tahun Stabil

Imbal hasil surat berharga AS bertenor 10 tahun stabil pada Selasa, 3 Agustus 2021. Sebelumnya imbal hasil obligasi ini turun ke posisi terendah dalam lima bulan pada Senin, 2 Agustus 2021.

Sementara itu, indeks Dow Jones naik didukung saham yang terkait dengan pemulihan ekonomi termasuk bank dan perusahaan industri seperti Caterpillar dan 3M.

Saham perawatan kesehatan antara lain Amgen, Johnson and Johnson juga memimpin penguatan. Di sektor teknologi, saham Apple dan IBM masing-masing naik hampir 1,3 persen dan 1,9 persen.

Di sisi lain, saham perusahaan yang akan paling terpukul oleh potensi pembatasan kesehatan baru termasuk maskapai dan jalur pelayaran merosot pada perdagangan Selasa, 3 Agustus 2021 sehingga membatasi kenaikan pasar.

Adapun penyebaran varian delta COVID-19 terus mengaburkan prospek ekonomi. Rata-rata kasus harian COVID-19 di Amerika Serikat mencapai 72.790 pada Jumat pekan lalu, melampaui puncak yang terlihat pada musim panas lalu ketika negara itu tidak memiliki vaksin COVID-19 yang resmi. Hal itu berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit.

Namun, sisi positifnya, AS mencapai tonggak untuk vaksinasi COVID-19 mencapai 70 persen. “Varian delta COVID-19 sekarang menyebar dengan cepat di Amerika Serikat dan penurunan aktivitas tidak dapat dikesampingkan,” ujar CIO UBS, Solita Marcell.

3 dari 3 halaman

Saham Robinhood Melonjak

Namun, potensi perlambatan apapun harus diredam. Selain itu, harga minyak yang menguat juga menjadi sumber kekuatan lain, bahkan ketika harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun menjadi USD 70 per barel.

Direktur Pelaksana CIBC Private Wealth Adam Karpf menuturkan, pergerakan minyak lebih disebabkan oleh pola perdagangan ketimbang varian delta yang mengambil perhatian dari pertumbuhan global.

“Dengan asumsi ini akan tetap terkendali. Kami memiliki beberapa bulan dan mnggu, pasar minyak mentah dan industri energi yang kuat, dan ini adalah nafas,” ujar Karpf.

Sementara itu, saham perusahaan pialang ritel Robinhood menguat 24 persen lebih tinggi dan mendorong jauh dari saat harga pertamanya pada penawaran umum perdana pekan lalu.

Saham Under Armour naik 7,5 persen setelah perusahaan mengalahkan prediksi kinerja. Saham Clorox turun lebih dari 9 persen setelah laporan yang mengecewakan.

Saham Simon Property melompat 2,5 persen setelah pemilik mal mengatakan penjualan kembali bangkit kembali ke tingkat sebelum pandemi COVID-19, naik 80 persen dari tahun lalu. Selain itu, perseroan juga melaporkan tingkat hunian lebih tinggi.

Hingga Jumat, 88 persen perusahaan S&P 500 telah melaporkan kejutan pendapatan yang positif pada kuartal II. Hal ini menandai persentase tertinggi sejak FactSet mulai melacak metrik ini pada 2008.