Sukses

Alasan Archi Indonesia Gelar IPO pada 2021

Liputan6.com, Jakarta - Siap masuk Bursa Efek Indonesia (BEI) Juni 2021, PT Archi Indonesia Tbk mengaku bila tahun ini menjadi moment yang tepat bagi perusahaan untuk melakukan Initial Public Offering (IPO).

Sebelumnya Archi Indonesia sempat memiliki keinginan untuk masuk ke bursa saham pada 2014 lalu. Namun, perseroan memtuskan menunda IPO.

"Jadi 2014 lalu kita pernah memiliki niatan untuk melakukan IPO. Tahun 2013 Archi sebenarnya pernah listing di London, namun saat itu Rajawali selaku pemilik saham bicara, loh ini asetnya di Indonesia kenapa listingnya di London," kata Direktur Keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) Archi indonesia, Adam Jaya Putra, Senin (31/5/2021).

Namun, saat hendak melakukan IPO di Indonesia, harga emas kurang mendukung. Hal ini membuat perusahaan akhirnya menunda listing hingga saat ini.

"Jadi waktu itu Rajawali melakukan tender over menaikan kepemilikannya dari 52 persen menjadi 98 persen dan akhirnya 100 persen dan rencananya akan IPO di tahun 2014. Namun karena harga emas kurang mendukung akhirnya kami menunda IPO tersebut, tahun 2021 kami melihat sangat mendukung terutama untuk akselerasi perusahaan ke depan," ujarnya.

Archi Indonesia akan melepas sebanyak-banyaknya 4.967.500.000 lembar saham biasa atas nama, dengan nominal Rp10 untuk setiap saham. Ini akan mewakili sebanyak-banyaknya 20 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum Perdana Saham.

Sehubungan dengan aksi korporasi ini, Archi Indonesia akan menggunakan laporan keuangan konsolidasi audit yang berakhir pada 31 Desember 2020, dan telah menunjuk PT Citigroup Sekuritas Indonesia, PT Credit Suisse Sekuritas Indonesia, PT Mandiri Sekuritas, PT BNI Sekuritas, serta PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek dari IPO yang dilakukan.

 

 

2 dari 3 halaman

Gelar IPO

Sebelumnya, PT Archi Indonesia Tbk, perusahaan tambang pure-play emas (pure-play gold producer) siap melakukan Penawaran Umum Perdana Saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juni 2021.

Dalam keterangan resminya, Archi menegaskan pihaknya akan melepas sebanyak-banyaknya 4.967.500.000 lembar saham biasa atas nama, dengan nominal Rp10 untuk setiap saham. Ini akan mewakili sebanyak-banyaknya 20 persen dari modal yang ditempatkan dan disetor Perseroan setelah Penawaran Umum Perdana Saham.

Wakil Direktur Utama Archi, Rudy Suhendra mengatakan, tujuan perusahaan melakukan IPO ialah mengembangkan dan mengakselerasi rencana pertumbuhan bisnis, sekaligusmeningkatkan tata kelola perusahaan.

"Dengan mencatatkan saham perusahaan kami di BEI, Archi bermaksud untuk mempercepat rencana pertumbuhan kinerja perusahaan, dan lebih meningkatkan praktik tata kelola perusahaan yang baik dengan adanya pengawasan secara langsung dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI sebagai regulator, serta masyarakat secara umum," katanya Senin (31/5/2021).

Rudy juga menegaskan, Archi merupakan salah satu perusahaan yang memiliki exposure penuh terhadap bisnis pertambangan emas, dimana tambang ini merupakan komoditas dengan nilai yang stabil dan sangat menarik bagi investor.

"Emas sering dianggap sebagai salah satu komoditas teraman, dengan nilai investasi yang terpercaya serta sustained dari waktu ke waktu," ujarnya.

Sehubungan dengan aksi korporasi ini, Archi akan menggunakan laporan keuangan konsolidasi audit yang berakhir pada 31 Desember 2020, dan telah menunjuk PT Citigroup Sekuritas Indonesia, PT Credit Suisse Sekuritas Indonesia, PT Mandiri Sekuritas, PT BNI Sekuritas, serta PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin pelaksana emisi efek dari IPO yang dilakukan.

Direktur Keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) Archi Indonesia, Adam Jaya Putra menuturkan, 90 persen dana yang diperoleh dari IPO akan digunakan  perseroan atau entitas anak, untuk pembayaran sebagian pokok utang bank, sedangkan sisanya untuk  pembiayaan kegiatan operasional dan modal kerja. Archi memiliki lokasi tambang di provinsi Sulawesi Utara sejak 2011.

Tambang ini telah memproduksi 1.9 juta ons (setara dengan 58 ton) emas hingga 2020 dan memiliki Cadangan Bijih emas sebanyak 3,9 juta ons (setara dengan 121 ton) per akhir Desember 2020.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini