Anak Krakatau Erupsi Sore Ini, Petugas Ungkap Kondisi Terkini

Kolom abu vulkanik teramati membumbung hingga sekitar 250 meter di atas puncak gunung.

Diterbitkan 09 Oktober 2026, 17:57 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

 

Liputan6.com, Jakarta - Gunung Anak Krakatau (GAK) di perairan Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali erupsi pada Jumat (9/10/2026) sore. Kolom abu vulkanik teramati membumbung hingga sekitar 250 meter di atas puncak gunung, dengan warna kelabu, cokelat, hingga hitam pekat.

Meski kembali mengalami erupsi, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level II atau Waspada. Aktivitas tersebut dinilai berkaitan dengan energi vulkanik yang masih dilepaskan dari dalam gunung.

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno, membenarkan terjadinya erupsi tersebut.

"Iya, betul. Masih ada energi yang harus dikeluarkan, makanya masih terjadi erupsi, baik besar maupun kecil. Itu tergantung energi yang dikeluarkan," kata Suwarno saat dikonfirmasi Liputan6.com, Jumat (9/10).

Berdasarkan laporan pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui laman MAGMA Indonesia, erupsi terjadi pada pukul 16.17 WIB. Kolom abu teramati berintensitas tebal dan bergerak condong ke arah utara hingga barat laut.

Tinggi kolom letusan mencapai sekitar 250 meter di atas puncak atau setara dengan 407 meter di atas permukaan laut. Aktivitas tersebut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 39 milimeter dan durasi sementara sekitar 3 menit 46 detik. Dalam laporan tersebut, erupsi disebut masih berlangsung saat pengamatan dilaporkan.

Suwarno menjelaskan, status Gunung Anak Krakatau masih bertahan pada Level II atau Waspada karena aktivitas kegempaan belum menunjukkan peningkatan signifikan, sedangkan letusan yang terjadi relatif kecil.

"Pertimbangannya, kegempaannya belum signifikan dan letusannya juga kecil. Makanya masih bertahan sementara di Level II atau Waspada," jelasnya.

Menurut Suwarno, perubahan status gunung api tidak hanya ditentukan oleh terjadinya erupsi, tetapi juga perkembangan aktivitas kegempaan yang terekam melalui peralatan pemantauan. Peningkatan gempa vulkanik secara signifikan dapat menjadi salah satu indikator untuk mengevaluasi tingkat aktivitas gunung tersebut.

Dia memastikan peralatan pemantauan di pos pengamatan masih berfungsi dengan baik sehingga tetap dapat merekam perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Masalah peralatan, kita masih tetap berfungsi dan tidak mengurangi data-data GAK," katanya.

 

Potensi Erupsi Susulan

Terkait kemungkinan terjadinya erupsi susulan, Suwarno mengatakan hal tersebut bergantung pada perkembangan energi vulkanik yang dilepaskan. Petugas terus memantau sejumlah indikator, termasuk gempa vulkanik dangkal, gempa vulkanik dalam, dan tremor, untuk mengetahui perkembangan aktivitas gunung api.

Pemantauan dilakukan menggunakan instrumen yang tersedia serta pengamatan visual melalui kamera pengawas atau CCTV.

Di tengah aktivitas vulkanik tersebut, masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki diimbau tidak mendekati Gunung Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.

Suwarno mengingatkan bahwa aktivitas di luar batas aman yang direkomendasikan dapat membahayakan keselamatan, terutama jika terjadi lontaran material vulkanik dari kawah.

"Risikonya jika mendekati radius yang sudah direkomendasikan Badan Geologi PVMBG, itu harus kita indahkan karena dikhawatirkan terkena lontaran batu pijar dan debu dari kawah aktif GAK," jelasnya.

Imbauan serupa ditujukan kepada nelayan, pelaku wisata, dan masyarakat yang beraktivitas di perairan sekitar Selat Sunda agar tetap mematuhi rekomendasi resmi.

Sementara itu, masyarakat yang terdampak abu vulkanik diminta menggunakan masker untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan serta pelindung mata guna mencegah iritasi.

"Kami mengimbau masyarakat, nelayan, dan wisatawan untuk menjaga keselamatan bersama dengan menaati rekomendasi Badan Geologi PVMBG. Jika terdampak abu vulkanik, segera gunakan masker dan pelindung mata," pungkas Suwarno.

Â