Saat Limbah Sabut Kelapa Bikin Dapur Tetangga Tetap Mengebul

Berawal dari kejelian memandang limbah pantai, Iga Analusya membuktikan bahwa ketekunan, ruang belajar, dan manajemen modal yang terarah sanggup menggerakkan roda ekonomi lokal.

Diterbitkan 18 September 2026, 08:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Tumpukan sabut kelapa di sepanjang pesisir Padang dulunya tak lebih dari sekadar sampah pantai yang dibiarkan melapuk. Namun bagi Iga Analusya, hamparan limbah kecokelatan itu justru menyimpan potensi besar yang menanti untuk diselamatkan.

Melalui tangan dingin perempuan berusia 32 tahun ini, sabut yang terbuang disulap menjadi deretan produk bernilai estetika tinggi, mulai dari tas, dompet, pot tanaman, hingga aneka dekorasi berkesan alami.

Usaha kreatif bernama Farilla Craft itu lahir dari kejelian Iga melihat celah di lingkungan tempat tinggalnya.

Jejak langkah ini berawal dari sebuah ruang pelatihan pengolahan sabut kelapa yang dibagikan para ahli kepada warga pesisir pada 2021 lalu. Saat itulah, gagasan untuk mengolah limbah mulai mengecambah.

“Kita lihat limbah sabut kelapa itu tidak dimanfaatkan, padahal potensinya besar,” tutur Iga meretas kenangan. Bersama sang suami yang mengambil peran sebagai desainer produk, mereka berdua bahu-membahu membangun identitas Farilla Craft dari nol.

Usaha itu sebenarnya sudah menyala sebelum Iga menikah. Namun, pijakan usahanya baru benar-benar kokoh beberapa tahun kemudian, saat dorongan modal sebesar Rp3.000.000 masuk pada akhir 2023. Tambahan amunisi tersebut mengubah pola produksinya.

Iga tak lagi perlu menunggu pesanan datang untuk mulai membeli bahan baku; ia bisa langsung bergerak menyetok bahan dan menjaga ritme kerja.

Kini, seiring skala usaha yang makin melejit, kebiasaan Iga mengatur alokasi dana secara disiplin menjadi kunci kestabilan. Sebelum dana pencairan menyentuh tangannya, ia sudah mengantongi catatan rencana penggunaan yang mendetail. Prinsip itu membentenginya dari godaan pengeluaran konsumtif, memastikan tiap rupiah benar-benar berputar untuk dapur produksi.

Hasilnya tak main-main. Farilla Craft sanggup memproduksi hingga 100 pensil kerajinan dalam sekali jalan. Untuk pesanan skala besar, seperti dari instansi pemerintah, masa pengerjaan biasanya memakan waktu sekitar tiga minggu. Menariknya, dampak positif Farilla Craft tak berhenti di garasi rumah Iga.

Usaha ini telah melibatkan 15 hingga 20 pengrajin lokal yang didominasi ibu rumah tangga di kawasan pesisir tempatnya bermukim.

Meski begitu, bagi Iga, pencapaian finansial hanyalah separuh dari cerita. Nilai yang tak kalah berharga justru hadir dari ruang-ruang belajar yang ia temui di sepanjang jalan.

 

 

Banyak Buat Inovasi dari Ide-Ide Segar

Pengalamannya menembus jajaran 120 besar dalam ajang Mekaarpreneur 2026, misalnya, membuka wawasan baru tentang strategi pemasaran digital dan cara mengelola usaha berbasis teknologi.

“Kalau jadi orang biasa mungkin mengira program ini ya cuma untuk cari pinjaman saja. Tapi setelah kita ada di dalamnya, baru kelihatan ada hal lain yang jauh lebih bermanfaat,” ungkapnya.

Lenturnya pola pikir Iga juga membuatnya rajin menyerap gagasan baru. Kunjungan para mahasiswa yang melakukan studi banding ke tempatnya sering kali menjadi ruang diskusi yang menyegarkan.

Dari situ, ia mendapat ide-ide segar untuk memoles kemasan produk agar terlihat lebih modern, eksklusif, dan ramah di mata generasi muda, tanpa sedikit pun menghilangkan identitas tradisionalnya.

Melihat perjalanan Iga, Direktur Utama PNM, Kindaris, turut memberikan apresiasi atas kegigihan perempuan asal Padang tersebut dalam membaca peluang dari hal-hal kecil.

“Ibu Iga adalah contoh nyata bahwa modal hanyalah awal, tapi ketekunan dan kerja keras yang diiringi dengan pendampingan mampu membawa manfaat yang lebih luas dan menggerakkan orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan,” tutur Kindaris.

Melihat ke depan, Iga tak ingin melangkah sendiri. Ia memendam asa untuk memperluas galeri kerajinannya, sekaligus merangkul lebih banyak anak-anak putus sekolah dan ibu rumah tangga di pesisir Padang agar bisa tumbuh dan berkarya bersama Farilla Craft.