Â
Liputan6.com, Nunukan - Wilayah Krayan di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, merupakan wilayah unik di Indonesia. Meski sah dimiliki republik ini, namun hidup dalam pelukan logistik Malaysia.
Di kawasan ini, bisa jadi Indonesia terasa jauh. Jalan darat dari pusat Kabupaten Malinau, belum sepenuhnya tembus. Konon kabarnya masih dalam tahap pembangunan, tapi sebagian warga menyebutnya baru sebatas perencanaan. Namun dari Malaysia, hanya perlu satu-dua jam saja lewat darat.
Advertisement
Tak heran jika di sini deretan kendaraan roda empat berpelat nomor Malaysia. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan cerminan nyata dari geografi dan realitas ekonomi yang membentuk kehidupan di salah satu sudut terjauh negeri ini. Soal suplai bahan pokok dan kebutuhan lain, sudah pasti mudah menebaknya berasal dari mana.
Kondisi ini mencerminkan realitas kawasan perbatasan yang masih lebih mudah dijangkau dari Serawak, dibandingkan dari ibu kota kabupaten sendiri. Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, warga Desa Pa' Kidang justru membangun masa depan lewat wisata alam yang lestari bernama Buduk Udan. Buduk Udan, dalam bahasa lokal juga berarti 'negeri di atas awan'.
Hamparan kabut tebal yang menggulung dari lereng Bukit Buduk Udan menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung. Berada di ketinggian sekitar 1.475 meter di atas permukaan laut, lokasi ini menawarkan pemandangan khas 'negeri di atas awan' yang makin dikenal wisatawan lokal hingga mancanegara, terutama dari negara tetangga Malaysia.
Buduk Udan terletak di Lokasi Tang Paye dan menjadi salah satu jalur masuk menuju kawasan Taman Nasional Kayan Mentarang (TNKM). Pengelolaannya dilakukan oleh kelompok wisata Pa’ Kidang Makmur yang merupakan kelompok binaan Balai TNKM, tepatnya di bawah Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Long Bawan.
Perjalanan menuju lokasi ini dimulai dari Bandara Yuvai Semaring di Long Bawan. Dari sana, perjalanan dilanjutkan ke Desa Pa’ Kidang menggunakan kendaraan darat, kemudian diteruskan dengan berjalan kaki sejauh 5 kilometer melalui jalur trekking menuju Buduk Udan. Jalur ini menjadi bagian dari pengalaman ekowisata di Krayan.
Ketua Kelompok Wisata Pa’ Kidang Makmur, Doni, mengatakan Buduk Udan telah menjadi lokasi andalan desa dalam sektor pariwisata.
"Buduk Udan merupakan lokasi wisata andalan di desa kami. Sampai saat ini jumlah kunjungan yang datang sangat banyak, berasal dari wisatawan lokal maupun dari wisatawan luar Krayan bahkan dari negara tetangga (Malaysia)," ujar Doni.
Popularitas destinasi ini turut mendorong pengakuan nasional. Pada 2023, Desa Pa’ Kidang meraih Anugerah Desa Wisata dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, masuk dalam 100 besar desa wisata terbaik di Indonesia dan 10 besar di Kalimantan Utara.
"Kami mengucapkan terima kasih atas dukungan Balai Taman Nasional Kayan Mentarang terkait peningkatan kapasitas kelompok wisata dan bantuan sarana dan prasarana untuk menunjang pengembangan ekowisata di desa kami," tambah Doni.
Â
Dukungan dari Balai TNKM
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5324852/original/092706400_1755868639-Buduk_Udan__1_.jpg)
Kepala Balai Taman Nasional Kayan Mentarang, Seno Pramudito menyatakan pengembangan wisata di Desa Pa’ Kidang merupakan bagian dari strategi pemberdayaan masyarakat di wilayah penyangga taman nasional.
"Desa Pa’ Kidang merupakan salah satu desa penyangga kita, dan di sana merupakan desa binaan kita dan sudah dibentuk kelompok wisata di dalam pengembangan yang ada di sana," ujarnya.
Pihaknya telah memberikan pelatihan kepemanduan kepada masyarakat, serta bantuan berupa shelter dan papan-papan informasi untuk mendukung fasilitas wisata. Salah satu langkah penting adalah pembentukan kelompok khusus monitoring bunga Rafflesia pricei, spesies langka dan dilindungi yang tumbuh di kawasan tersebut.
"Balai Taman Nasional Kayan Mentarang juga sudah membentuk kelompok khusus monitoring dari Rafflesia pricei, sehingga masyarakat di sana juga bisa menentukan waktunya Rafflesia tersebut berkembang, sehingga pengunjung di sana bisa mendapatkan berkembangnya Rafflesia pricei tersebut," ungkap Seno.
Dia berharap kawasan Buduk Udan dapat terus dikembangkan dan dilestarikan agar meningkatkan pendapatan masyarakat serta menarik dukungan dari mitra dan pemerintah daerah.
Â
Â
Advertisement
Harapan untuk Masa Depan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5324853/original/045919000_1755868750-Buduk_Udan__3_.jpg)
Pengelolaan berbasis komunitas menjadi kunci utama. Kelompok Wisata Pa’ Kidang Makmur tak hanya menyediakan layanan wisata, namun juga terlibat langsung dalam pelestarian lingkungan sekitar, termasuk melalui kelompok monitoring untuk Rafflesia pricei yang keberadaannya hanya ditemukan di kawasan tertentu di wilayah Krayan Barat.
Balai Taman Nasional Kayan Mentarang menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pengembangan dan pelestarian. Menurutnya, kawasan seperti Buduk Udan bukan hanya menyimpan nilai ekologis yang tinggi, tetapi juga menjadi harapan ekonomi baru bagi masyarakat adat yang hidup berdampingan dengan hutan.
"Kami berharap bahwa lokasi destinasi wisata di Desa Pa’ Kidang, khususnya di Buduk Udan ini, dapat dikembangkan dan juga dapat dilestarikan sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat," ujar Seno Pramudito.
"Kami juga mengharapkan para mitra, Pemda juga mendukung kegiatan pengembangan destinasi wisata di Desa Pa’ Kidang ini," sambungnya.
Ekowisata seperti Buduk Udan merupakan contoh nyata bagaimana masyarakat bisa menjadi garda terdepan pelindung alam, tanpa kehilangan peluang untuk mendapatkan penghidupan yang layak.
Di sisi lain, aksesibilitas menuju wilayah Krayan masih menjadi tantangan utama. Kepala Seksi Pengelolaan TN Wilayah I Long Bawan, Hery Gunawan, menyebut bahwa ketergantungan masyarakat Krayan terhadap Malaysia masih sangat tinggi karena kondisi infrastruktur Indonesia belum sepenuhnya terhubung ke kawasan ini.
"Memang benar, sebagian besar kendaraan di sana dari Malaysia terutama kendaraan roda empat," jelas Hery.
Distribusi logistik dan kebutuhan pokok seperti sembako, hingga bahan bangunan, sebagian besar masih masuk melalui jalur Malaysia, seperti dari Lawas atau Ba’kelalan di Sarawak.
"Ekonomi sangat berhubungan langsung dengan Malaysia karena aksesibilitas lebih dekat dengan Malaysia. Karena akses jalan darat saat ini masih proses pembangunan dari Malinau tembus Long Bawan," tambahnya.
Meski berada di wilayah terpencil dengan akses terbatas, geliat pengembangan wisata di Desa Pa’ Kidang terus menunjukkan arah positif. Dukungan dari masyarakat setempat berpadu dengan pendampingan aktif dari Balai Taman Nasional Kayan Mentarang.
Buduk Udan, yang dulunya hanya dikenal oleh warga lokal, kini tumbuh menjadi destinasi wisata alam unggulan di perbatasan Indonesia-Malaysia.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/1889296/original/004329000_1587451663-WhatsApp_Image_2020-04-21_at_13.43.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5324851/original/057833400_1755868532-Buduk_Udan__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/344610/original/093311000_1471573794-foto-new.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309790/original/022314100_1782176318-000_B7XQ8ZR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028216/original/059069000_1732870090-logo_piala_dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471172/original/087617600_1782374206-IMG-20260625-WA0035.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262546/original/008930600_1781836184-063_2282273523.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8411046/original/046902000_1782294947-000_B83G9YJ.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263356/original/061813100_1781903816-AP26170714954300-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8450010/original/046935500_1782346255-063_2283182603.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8442423/original/051297200_1782335693-063_2283164257.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8458114/original/001317800_1782356893-000_B88W362.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259075/original/006227600_1781447167-Turki_vs_Australia-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8459088/original/096988900_1782358208-000_B88W3AA.jpg)