Menilik Pertunjukan Komedi Stambul Tempo Dulu

Komedi stambul tempo dulu membuat suasana malam yang biasanya sepi seolah hidup kembali. Pertunjukan ini biasanya dimulai pukul 21.00 hingga sekitar tengah malam.

Diterbitkan 20 Mei 2025, 05:00 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Awal abad ke-19, pertunjukan komedi stambul oleh para bangsawan terasa sangat semarak pada malam hari. Hingga awal abad ke-20, pertunjukan sejenis ini masih dipertahankan.

Komedi stambul tempo dulu membuat suasana malam yang biasanya sepi seolah hidup kembali. Pertunjukan ini biasanya dimulai pukul 21.00 hingga sekitar tengah malam.

Mengutip dari laman Seni & Budaya Betawi, komedi stambul tempo dulu paling sering digelar di lapangan ujung Jalan Mangga Besar yang sekarang berbatasan dengan Jalan Hayam Wuruk. Berada di lapangan yang sama, dibangun pula gedung komedi Thalia. Nama tersebut merujuk pada Dewi Sandiwara Gembira dan Komedi dalam mitologi Yunani.

Gedung tersebut kemudian dijadikan bioskop. Selanjutnya dibongkar dan sejak beberapa tahun lalu menjadi perkantoran.

Bangku penonton dalam pertunjukan komedi stambul dibedakan berdasarkan nilai rupiahnya. Bangku kelas termurah duduk di bangku papan. Bangku tersebut biasanya penuh sesak dengan orang-orang Indonesia, Cina, dan anak-anak.

Pertunjukan komedi stambul dimulai pada 20.30 dengan pergantian musik ke orkes stambul. Orkes tersebut mengikuti susunan Prancis yang terdiri dari masing-masing satu buah piano, biola, klarinet, kornet, tombon, dan kontrabas.

Orkes dimulai dengan membawakan lagu mars yang gembira dan menyenangkan. Saat musik berhenti, penonton akan bersorak-sorai. Selanjutnya, terdengar bunyi dering lonceng yang keras dan nyaring. Bunyi tersebut menandakan bahwa pertunjukkan akan segera dimulai.

 

Berjajar Dua Baris

Panggung komedi stambul dipenuhi oleh para pemain yang berpakaian indah dengan posisi berjajar dua baris. Mereka menghaturkan salam melalui nyanyian lalu mengundurkan diri.

Pertunjukan dimulai dengan lakon Jula Juli Bintang Tiga. Rombongan yang paling terkenal mula-mula adalah The Malay Opera of Malacca yang menggelar lakon-lakon dari Timur maupun Barat, seperti Laila Majnun, Saudagar dari Venesia, dan Lohengrin.

Mengutip dari laman Portal Informasi Indonesia, pertunjukan kelompok komedi stambul (komedie stamboel) berawal di Surabaya pada 1891. Kelompok ini terdiri dari aktor-aktor berwajah Arab, musisi lokal, dan juragan keturunan Cina.

Mereka menampilkan cerita kisah Seribu Satu Malam dengan musik, efek, dan latar yang berganti-ganti. Awalnya, komedi stambul hanya dipertunjukkan secara eksklusif di wilayah Pecinan Surabaya. Tak lama, kesenian ini berubah menjadi pentas keliling. Pertunjukan keliling dalam istilah lokal disebut tobong.

Kepopuleran komedi stambul menjalar ke beberapa wilayah lain. Bentuk pertunjukannya kemudian diadopsi menjadi lenong oleh masyarakat Betawi. Meski mengalami pasang surut, pertunjukan komedi stambul masih tetap ada hingga sekarang.

Penulis: Resla