Sukses

Mitos Bupati Demak, Mengapa Hanya Boleh Satu Kali Menjabat?

Data 25 tahun terakhir, tidak ada satupun bupati Demak yang mulus menjalani periode kedua. Pilihannya ada tiga, kalah pilkada, meninggal dunia saat masa jabatan belum selesai, atau terlilit masalah yang mengharuskan ia berhenti menjadi bupati.

Liputan6.com, Demak - Setiap tempat punya cerita, dan setiap cerita ada tempatnya. Lahirlah mitos-mitos sebagai sejarah lisan yang tak tercatat dalam sejarah.

Di Kabupaten Demak, ada mitos bahwa Kepala Daerah atau Bupati hanya bisa menjabat satu kali saja. Jika memaksakan diri mengikuti pilkada Demak konon di periode kedua akan ada hambatan.

Menurut Sugiarno, salah satu warga Demak, halangan itu bisa berupa apapun. Ada yang sukses memenangkan tapi kemudian dia akan meninggal dunia mengejutkan saat masa jabatan belum habis.

"Ada juga yang kemudian ketahuan korupsi sehingga diberhentikan di tengah masa jabatan. Yang paling bagus adalah ia hanya kalah saja," katanya.

Ditambahkan oleh Sugiarno, mitos ini bermula dari zaman dulu.

"Saya ingat, mbah saya pernah bercerita tentang Raden Ayu Kartika. Ia adalah pemimpin Demak yang bagus," katanya.

Dalam masa kepemimpinan Raden Ayu Kartika, hukum ditegakkan dengan adil, perdagangan dan pertanian sangat maju. Saat itu masyarakat Demak cukup sejahtera.

"Mbah saya nggak menyebut beliau itu lurah, bupati, atau apa. Cuma nyebut pemimpin," katanya.

Karena merasa mendapat dukungan dari masyarakat, Raden Ayu Kartika akan melanjutkan pengabdiannya. Maka ia optimis akan dipilih lagi.

"Saat itu dia mulai dikelilingi para penjilat kekuasaan. Dikelilingi orang-orang yang hanya mencari keuntungan," kata Sugiarno.

Dalam proses pemilihan, tiba-tiba banyak fitnah menyerang Raden Ayu Kartika. Celakanya orang-orang yang mengelilingi malah menghilang satu demi satu.

Ia kalah dalam pemilihan kepala desa itu. Kalahnya menyakitkan, bukan karena perbuatan tercela tapi karena fitnah.

"Jika kita telaah lebih dalam, sebenarnya Raden Ayu Kartika sudah melakukan perbuatan tercela. Di batinnya sudah ada bibit-bibit keserakahan," katanya.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Bukti Kebenaran Mitos

Mitos yang diceritakan Sugiarno ini secara empiris menimpa beberapa bupati.

Data dalam 25 tahun terakhir menunjukkan bahwa Endang Setyaningdyah, bupati Demak periode 2001-2006 kalah dalam upayanya meraih periode kedua. Ia dikalahkan Tafta Zani yang sebelumnya menjadi Sekda.

Naiknya Tafta Zani dan kemenangannya di periode kedua saat itu diyakini akan memecahkan mitos. Ternyata Tafta Zani mengakhiri jabatannya lebih cepat karena sakit kemudian meninggal dunia pada tahun kedua periode kedua jabatannya.

Wakilnya Dachirin Said melanjutkan jabatannya sampai 2016. 

Berikutnya Dachirin Said digantikan HM Natsir untuk periode 2016-2021. Natsir juga gagal menang dalam kontestasi di periode kedua. Ia dikalahkan anak muda perempuan bernama Eis'tianah.

Eis'tianah menjabat untuk periode 2021-2026. Saat ini ia masih menjabat sebagai bupati dan menunggu rekomendasi dari PDIP untuk maju periode berikutnya.

Akankah mitos ini kembali terulang.

"Kalau saya sih percaya kisah itu. Kalau nggak percaya dan mau mencoba ya silakan saja. Toh nanti masyarakat yang akan melihat buktinya," kata Sugiarno.

Selain di Demak, ada lagi daerah lain di Jawa Tengah yang juga diselimuti mitos yang sama. Akan diceritakan dalam tulisan berikutnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.