Sukses

Tradisi Dou Sandik, Nyanyian Pujian Masyarakat Biak Numfor

Bagi masyarakat setempat, tradisi dou (nyanyian) sekaligus menjadi wujud ekspresi jiwa manusia terhadap Tuhan dan karya ciptaan-Nya.

Liputan6.com, Papua - Masyarakat di Kabupaten Biak Numfor di Papua memuliki tradisi bernama dou sandik. Tradisi dou sandik bagi komunitas masyarakat Guyub Tutur Biak Numfor (GTBN) merupakan pengintegrasian tuturan bahasa yang dikemas dengan lebih apik.

GTBN merupakan komunitas masyarakat yang menggunakan varian bahasa yang sama sebagai media sosial-budaya. Sementara itu, tradisi dou sandik merupakan salah satu dari sekian banyak tradisi dou di Biak Numfor.

Dou sandik merupakan pujian dan penyembahan yang dituturkan pada saat acara ritual keagamaan atau pesta keimanan. Bagi masyarakat setempat, tradisi dou (nyanyian) sekaligus menjadi wujud ekspresi jiwa manusia terhadap Tuhan dan karya ciptaan-Nya.

Mengutip dari dapobas.kemdikbud.go.id, tradisi ini menjadi media penguatan karakter, salah satunya sebagai produk dan praktik GTBN yang menggambarkan pandangannya tentang diri, alam (dunia), dan Tuhan.


Tradisi ini juga dipandang sebagai wujud interaksi langue dan parole dengan Tuhan dan sebagai nilai budaya yang memperkaya tuturan makna dan fungsi bahasa. Tradisi dou sandik juga dipandang sebagai media yang mampu memagari entitas (kesatuan lahiriah) tentang ekspresi kehidupan.

Sebagai cerminan identitas, tradisi ini merupakan upaya pengungkapan ide, gagasan, dan isi pikiran. Secara garis besar, tradisi ini menjadi sarana yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama manusia.

 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 2 halaman

Jenis Nyanyian

Bagi GTBN, tradisi dou sandik yang dilakukan setiap waktu memiliki semboyan, "nggo wor ba ido, na nggo mar (jika kami tidak menyanyi, maka kami akan mati)". Berikut beberapa jenis dou (nyanyian) yang menjadi sarana untuk mengungkapkan isi hati, baik suka maupun duka:

1. Dou kangkarem: nyanyian yang dituturkan saat upacara pemujaan

2. Dou moringkir: nyanyian pengiring ritual saat berada di lautan

3. Dou erisam bepok: nyanyian yang dituturkan dengan semangat saat berlayar mengarungi lautan atau saat angin kencang

4. Dou erisam bemawa: nyanyian yang dituturkan di atas perahu saat angin bertiup sepoi-sepoi

5. Dou wonggei: nyanyian yang dituturkan untuk mengiringi perjalanan di laut saat melakukan perdagangan antarkampung, antarpulau, dan antaretnis

6. Dou nambojaren: nyanyian yang dituturkan saat ritual tengah malam dilaksanakan sampai pagi hari atau menyindir insos gadis yang hamil tanpa suami

7. Dou kansyaru: nyanyian yang dituturkan oleh seorang nyonya tuan rumah penyelenggara ritual

8. Dou dunsner: nyanyian peringatan yang dituturkan untuk memperingatkan para penyanyi dan penari dalam sebuah ritual adat agar bersiaga menyambut pagi sebagai lambang kemenangan

9. Dou sandia: nyanyian yang dituturkan untuk menyambut datangnya sang fajar menyingsing, yakni antara pukul 02.00 hingga 06.00 pagi

10. Dou randan: nyanyian yang dituturkan pada siang hari antara pukul 11.00 hingga 14.00 dalam posisi duduk

11. Dou mamun: nyanyian yang dituturkan saat perjalanan ke medan perang dengan syair yang menantang

12. Dou beyuser: nyanyian panjang yang dituturkan untuk mengisahkan kejadian di masa lampau, sekarang, maupun masa depan

13. Dou kayob: nyanyian ratapan yang diciptakan secara spontan tanpa terikat oleh kerangka atau konvensi tertentu

14. Dou beba: nyanyian kebesaran bagi kaum pelaut dan hanya dinyanyikan pada saat di atas perahu

15. Dou sandik: tradisi pujian dan penyembahan yang dituturkan saat acara ritual keagamaan atau pesta keimanan.

 

 

Penulis: Resla

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.