Sukses

Cerita Andrea Ramadhan, Pilot Drone yang Sempat Rekam Puncak Gunung Semeru Sebelum Erupsi

Liputan6.com, Jakarta - Andrea Ramadhan, seorang pilot drone profesional berhasil merekam penampakan puncak Gunung Semeru sebelum terjadi erupsi dahsyat pada Sabtu (4/12/2021). Dirinya lantas membagikan video tersebut di channel Youtube miliknya, dan mendapat ratusan ribu penonton dalam dalam satu hari tayang.

Saat dihubungi Liputan6.com, Senin (6/12/2021), Andrea yang gemar merekam penampakan puncak-puncak gunung menggunakan drone itu mengatakan, video tersebut diambil sekitar sebulan sebelum Gunung Semeru mengalami erupsi dahsyat.

Dirinya menerbangkan drone dari sebuah ladang perkebunan milik warga, di kawasan Ampel Gading, Malang, Jawa Timur, di ketinggian 1.400 meter di atas permukaan laut. Video diambil sekitar pukul 06.35 WIB.

Sebelum mengambil gambar menggunakan drone, Andrea memastikan jalur drone tidak melewati Ranu Kumbola, wilayah yang masih dilarang untuk jalur pendakian, sehingga tidak mengganggu habitat fauna yang ada di kawasan itu.  

“Saya sempet deg-degan karena ini kok drone gak naik-naik, ternyata anginnya kenceng. Ada awan topi yang menutupi kawah,” katanya.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Ada Letupan Rutin

Dirinya juga menceritakan, tidak ada tanda-tanda gunung tersebut bakal erupsi besar. Sama seperti gunung-gunung lainnya yang pernah direkam sebelumnya. “Gak ada apa-apa kayak normal saja. Memng sekian menit ada letupan-letupan rutin,” katanya.

Andrea menceritakan, menerbangkan drone ke puncak Gunung Semeru menjadi pengalaman yang paling berat. Selain kontur gunung yang terjal, drone juga harus melawan ganasnya angin di penghujung tahun.

“Apalagi ini pas lagi ada badai angin. Ada awan topi atas puncak,” katanya.

3 dari 3 halaman

14 Orang Meninggal Dunia

Seperti diberitakan sebelumnya, Gunung Semeru meluncurkan awan panas guguran pada Sabtu (4/12/2021). Peningkatan aktivitas gunung tertinggi di Pulau Jawa itu membuat beberapa desa di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, diliputi awan panas guguran dan hujan abu vulkanik.

Warga yang berada di Desa Sumberwuluh, Candipuro, merasakan keadaan yang gelap gulita pada pukul 15.00 WIB.

Dalam keadaan gelap, warga desa di lereng Gunung Semeru berbondong-bondong mengungsi guna menghindari dampak awan panas guguran dan hujan abu.

Awan panas guguran dan hujan abu dari Gunung Semeru telah menyebabkan warga meninggal dunia dan terluka serta mengakibatkan permukiman dan fasilitas umum rusak.

Menurut data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang yang diperbarui pada Minggu (5/12/2021) pukul 17.00 WIB, bencana alam itu menyebabkan setidaknya 14 orang meninggal dunia dan 69 orang terluka. Warga yang meninggal dunia dan terluka merupakan warga Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro.