Sukses

Teror Kawanan Ular Kobra di Permukiman Warga di Banyumas

Liputan6.com, Banyumas - Rasiti, warga Dusun Pesawahan RT 02/3, Pesawahan, Rawalo, Banyumas tak bisa tenang. Sejumlah ular kobra mendadak bermunculan seperti meneror keluarganya.

Setidaknya ada tujuh ular kobra yang dia ketahui. Lima anakan dan dua lainnya diduga induk.

Khawatir celaka, ia melaporkan kemunculan ular kobra di belakang rumahnya itu kepada Kepala Dusun Pesawahan, Didi Putra. Terlebih ia kerap mengambil kayu bakar di belakang rumah atau ketika ada keperluan ke sumur.

Sang Kadus lantas melaporkan kemunculan ular kobra kepada Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Banyumas. Tak mengulur waktu, tim Tagana Kabupaten Banyumas dan Pramuka Peduli Kwarcab Banyumas, Jawa Tengah mengevakuasi evakuasi ular-ular tersebut, Kamis malam (2/12).

Koordinator Tagana Banyumas, Heriana Ady Chandra mengatakan, tim Tagana dan Pramuka Peduli mendatangi lokasi bersama dengan Babinsa Desa Pesawahan dan kepala dusun. Menurut keterangan Rasiti, posisi ular kobra ada di tempat penyimpanan kayu bakar, tepatnya di bagian bawah tumpukan kayu bakar di belakang rumah yang hanya berjarak sekitar dua meter dari rumah induk Rasiti.

Tim kemudian mencoba memindahkan tumpukan kayu bakar tersebut, benar saja tak selang berapa lama ditemukan satu anakan ular kobra dan langsung diamankan oleh tim. Hanya berselang 15 menit ditemukan lagi anakan kobra.

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

Saksikan Video Pilihan Ini:

2 dari 3 halaman

Fenomena Musim Hujan

“Sesaat tim sedang beristirahat, ada warga yang melihat indukan kobra, dan tim langsung mengamankan. Malam ini, tim baru berhasil mengamankan tiga ular kobra, dan akan dilakukan pengamanan lanjutan pada Jumat, 3 Desember 2021 pada siang hari agar lebih efektif,” kata Heriana, dalam keterangan tertulisnya.

Heriana mengungkapkan, salah satu fenomena yang terjadi saat musim hujan, yakni munculnya banyak anakan ular kobra Jawa yang berkeliaran di area permukiman.

Awal penghujan adalah musimnya telur ular menetas. Bahkan, sebenarnya tidak hanya ular kobra, tetapi juga jenis ular lainnya. Secara otomatis populasi anakan ular kobra pasti akan meningkat.

“Spesies ular kobra, menurut peneliti ular ini, habitat hidupnya berada di sekitar perumahan, lahan persawahan dan perkarangan. Saat induk ular kobra Jawa menemukan tempat yang tepat dan terlindungi di kawasan-kawasan tersebut, maka mereka akan meletakkan telur-telurnya,” dia menjelaskan.

Menurut dia, periode inkubasi telur kobra sekitar tiga bulan. Itu artinya, telur-telur tersebut kemungkinan sudah diletakkan sekitar tiga bulan lalu, kemudian di musim hujan ini mulai menetas.

“Setelah menetas, anakan ular kobra Jawa yang mungkin telurnya diletakkan di area permukiman, maka mereka akan menyebar di sekitar manusia,” ucap dia.

 

3 dari 3 halaman

Ketidakseimbangan Alam

Fenomena banyaknya anakan ular kobra Jawa berada di sekitar manusia atau permukiman juga terjadi tahun lalu. Banyaknya anakan ular kobra bermunculan di sekitar permukiman warga tentu memicu pertanyaan. Penyebabnya kemungkinan karena semakin sedikitnya populasi predator alami saat ini.

“Predator alami itu seperti elang, biawak, dan beberapa karnivora lainnya. Akibatnya, membuat populasi anakan ular ini semakin tidak terkontrol,” ungkapnya.

Selain itu, banyaknya anakan ular kobra di permukiman, bisa jadi disebabkan karena wilayah ini menyediakan shelter atau tempat berlindung bagi ular. Misalnya, banyak tumpukan barang baik di dalam maupun di luar rumah, yang kemudian menjadi tempat yang hangat dan lembab bagi ular untuk berlindung.

Terutama di masa musim hujan seperti saat ini. Permukiman juga menyediakan potensi makanan bagi ular. Mangsanya, yakni tikus banyak berada di lingkungan ini.

Oleh sebab itu, penting untuk selalu membersihkan rumah dengan membuang barang-barang tidak berguna, membuang sampah agar tidak mendatangkan tikus yang akan menarik ular kobra. Habitat ular kobra Jawa ini biasanya di area persawahan, pekarangan hingga permukiman.