Sukses

Mengintip Strategi Bisnis Jims Honey, Pabrik di Cina Dikendalikan dari Yogyakarta

Liputan6.com, Yogyakarta- Sebagai merek produk fashion seperti dompet dan tas, nama Jims Honey perlahan tapi pasti mulai dikenal banyak orang. Namun, siapa sangka usaha yang dibangun dengan modal sangat minim itu kini bisa beromzet lebih dari Rp 1 miliar per bulan.

Namanya Stefi. Perempuan berusia 28 tahun itu menjadi kunci di balik keberhasilan merek Jims Honey. Tidak sia-sia, ia mengubur mimpinya untuk menjadi dosen dan memilih fokus menjalani usaha yang dirintis sejak enam tahun silam ini.

Perjalanan Jim Honey bermula pada 2014. Saat itu Stefi hijrah dari Pontianak, kota asalnya, ke Yogyakarta untuk menempuh pendidikan S2. Sayangnya, jenjang pendidikan itu tidak pernah dituntaskanya.

“Papa saya sakit, usahanya tidak jalan lagi, jadi saya ingin bisnis saja untuk mencari uang, terlebih adik saya juga baru kuliah di Jakarta saat itu, butuh uang juga,” ujar perempuan kelahiran 27 Januari ini di Yogyakarta, Kamis (17/9/2020).

Namun, jangan dibayangkan ketika itu ia sudah memikirkan merek Jims Honey. Sebab, yang ia lakukan adalah membeli barang-barang dari Cina dan menjualnya kembali.

Soal modal awal juga jangan ditanya. Waktu itu, ia hanya memanfaatkan uang bulanan yang dikirimkan oleh orangtuanya sebesar Rp2,5 juta.

Waktunya untuk kuliah tersita mengurus dagangannya. Ia tidak sempat bermain atau piknik ke lokasi-lokasi wisata layaknya penduduk baru di Yogyakarta. Sepulang kuliah, ia mengemas barang dagangan, membalas WA pembeli, dan mengirim barang. Sampai akhirnya, pesanannya meningkat dan waktunya habis untuk berjualan.

Tidak mudah menjual produk saat itu. Sehari laku dua buah saja sudah bagus. Setahun lebih berjualan produk tanpa merek, Stefi memutuskan untuk memberi label produk-produk yang dijualnya.

Ia berkolaborasi dengan saudaranya yang berada di Jakarta, memesan barang dari pabrik di Cina dan memberi merek Jims Honey.

Nama Jims Honey diambil dari kata Jims, nama suami saudaranya, dan kata honey yang berarti madu.

“Madu ini kan manis bermanfaat untuk siapa saja, harapannya usaha ini bisa memberikan manfaat manis secara perekonomian untuk siapa pun,” ucapnya.

Produk Jims Honey pun bertambah, tidak hanya dompet dan tas, melainkan juga jam tangan, power bank, dan sebentar lagi juga meluncurkan tumbler. Harga yang terjangkau dengan kualitas yang baik menjadi kelebihan produk ini.

Dompet dibanderol mulai Rp 50.000, tas dan jam tangan mulai Rp 60.000, dan power bank mulai Rp 95.000.

Jumlah reseller produk Jims Honey juga mencapai ribuan orang dan tersebar di seluruh nusantara. Di Yogyakarta, ada lebih dari 500 reseller.

 

2 dari 4 halaman

Memastikan Kualitas Baik

Tidak ada persyaratan khusus untuk menjadi reseller. Stefi hanya meminta reseller setidaknya membeli satu produk dan memakai untuk diri sendiri. Tujuannya, supaya ketika reseller memasarkan produk sudah mengetahui kualitas barang tersebut.

Ribuan buah produk terjual setiap hari ternyata membuat pabrik di Cina yang memproduksi Jims Honey kewalahan. Semula pabrik itu juga memproduksi sejumlah produk untuk merek lain. Namun, kini pabrik itu hanya melayani produk Jims Honey.

Stefi juga berpikir untuk memiliki toko bahkan pabrik di Yogyakarta atau kota lain di Indonesia. Namun, itu masih rencana jangka panjang, terlebih di situasi pandemi seperti sekarang.

Terkait quality control produk, Stefi biasanya mendapat kiriman contoh produk dari pabrik sebelum akhirnya ia memesan dalam jumlah besar.

Jika barang yang dikirim dalam jumlah besar ada kerusakan, maka bisa diretur ke pabrik. Akan tetapi, itu juga tergantung dari jenis kerusakan.

“Kalau tidak terlalu parah, biasanya saya beri diskon untuk konsumen yang ingin membeli barang dengan kondisi tertentu,” kata Stefi.

Untuk pemilihan model produk, Jims Honey memiliki tim untuk survei. Stefi dan beberapa rekannya berkunjung ke Cina untuk mengupdate model terbaru.

 

 

 

3 dari 4 halaman

Gencar di Media Sosial

Pemasaran yang gencar dilakukan melalui media sosial. Stefi punya strategi khusus, salah satunya memanfaatkan influencer atau artis untuk mengiklankan produknya. Artis pertama yang dipakai untuk membantu mengiklankan adalah Tyas Mirasih.

“Setelah itu memang Jims Honey lumayan dikenal, penjualan meningkat,” tuturnya.

Namun, engagement Instagram saat ini tidak sebagus TikTok, sehingga ia memutuskan untuk lebih memprioritaskan iklan via TikTok.

Menurut Stefi, bekerja sama dengan selebgram atau artis bisa membuat merek produk semakin dikenal. Orang yang tidak tahu pun bisa menjadi tahu dan penasaran dengan membuka akun produk tersebut.

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan berikut ini: