Sukses

Peternak Sapi Perah di Sleman Ramai-Ramai Alih Profesi, Kenapa?

Liputan6.com, Yogyakarta - Ada fakta unik di Sleman perihal dinamika peternak sapi perah. Populasi sapi perah di Sleman mengalami penurunan. Hal ini berbanding lurus dengan jumlah peternak sapi perah di kabupaten ini yang semakin sedikit. Namun, produksi susu sapi justru relatif stabil, bahkan mengalami kenaikan walaupun tidak signifikan.

Pada 2018 tercatat 3.823 ekor sapi perah yang berada 12 kecamatan di Sleman. Sedangkan pada tahun ini, populasi sapi perah di Sleman sebanyak 3.779 ekor.

Produksi susu sapi mengalami peningkatan sejak 2016. Pada tahun itu, produksi susu sapi yang dikelola oleh empat koperasi peternak sapi perah sebanyak 3,5 juta liter, tahun berikutnya menjadi 3,7 juta liter, dan pada 2018 serta 2019 menjadi 3,8 juta liter.

“Ada peningkatan produksi susu, karena ada kepedulian koperasi yang bermitra dengan peternak sapi perah, termasuk mendampingi dalam beternak yang baik,” ujar Harjanto, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Sleman di sela-sela media gathering Program Kemitraan Peningkatan Mutu Susu Sarihusada, Selasa (21/1/2020).

Ia berpendapat penurunan jumlah peternak sapi perah karena tidak ada regenerasi peternak sapi perah. Misal, anak tidak mau meneruskan usaha ternak sapi perah ayahnya.

Sebagian peternak sapi perah juga beralih profesi menjadi penambang pasir. Populasi sapi perah terbanyak di Sleman berada di Kecamatan Pakem, Cangkringan, dan Turi.

Menurut Harjanto, sebagian masyarakat ingin mendapatkan uang secara cepat. Sebab, memelihara sapi peternak membutuhkan ketelatenan dan perhatian khusus sehingga bisa berpoduksi dengan baik.

“Kami terus berusaha mendorong masyarakat untuk menjadi peternak sapi perah karena sebenarnya bisa memperoleh uang secara bulanan dari penjualan susu,” kata Harjanto.

 

2 dari 2 halaman

Pendampingan Peternak Lokal

Sustainable Director Danone Indonesia, Karyanto Wibowo, menuturkan Danone melalui Sarihusada telah melaksanakan program Peningkatan Mutu Susu selama 29 tahun dengan menggandeng praktisi dari Universitas Gadjah Mada dengan pola kemitraan.

“Kami berupaya untuk berbagi pengetahuan dan memberikan pendampingan kepada peternak lokal mitra Sarihusada yang ada di Jogjakarta dan Jawa Tengah di mana kami beroperasi,” ujarnya.

Upaya ini menjadi cara menghasilkan susu berkualitas tinggi dari peternak sapi perah lokal yang dapat diserap industri susu nasional.

Melalui program Peningkatan Mutu Susu, Danone mendorong peningkatan kualitas susu segar melalui tiga pendekatan, yaitu, membantu penerapan good farming practices dan good manufacturing practices, meningkatkan pengetahuan peternak, dan memberikan bantuan sarana, prasarana serta proyek percontohan.

Program Peningkatan Mutu Susu bertujuan untuk mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi oleh peternak lokal, seperti, keterbatasan persediaan bibit sapi perah berkualitas, keterbatasan lahan untuk penanaman hijauan, rendahnya minat generasi muda menjadi peternak.

“Masalah lain adalah terbatasnya pakan konsentrat yang berkualitas dengan harga terjangkau, kelangkaan sumber air, hingga rendahnya pengetahuan peternak dalam menerapkan teknologi dalam memelihara sapi perah,” kata Karyanto.