Sukses

Mengenal Srikandi Damkar Bandung, Perempuan Tangguh Penjinak Si Jago Merah

Liputan6.com, Bandung - Potensi kebakaran wilayah padat penduduk menjadi permasalahan di kota besar termasuk Kota Bandung. Dinas Kebakaran dan Penanggulangan Bencana (Diskar PB) menyadari dampak besar yang dapat ditimbulkan apabila kebakaran terjadi dan penanganannya tidak direncanakan dengan baik sejak dini.

Namun, penanganan kebakaran tidak hanya dilakukan kaum pria. Ada juga srikandi pemadam kebakaran yang selalu siaga di Kantor Diskar PB Kota Bandung.

Tugas utama mereka di bagian logistik dan pelaporan. Meski begitu, tak jarang para srikandi ini juga ikut menjadi tim dalam memberikan layanan pemadaman kebakaran.

Seperti yang terlihat pada Selasa (7/1/2020). Waktu menunjukkan pukul 10.30 WIB. Namun, pengeras suara di kantor Diskar PB terdengar telah terjadi kebakaran di kawasan Kosambi.

Ratika Yuli Puspika, Winneke, Euis Rati, Pipit Ariyanti, dan Risma Boris sontak beranjak dari kursi. Mereka langsung bersiap menggunakan baju perlengkapan pelindung diri.

Tak berselang lama kemudian kendaraan sudah mengeluarkan sirine. Kelima wanita itu pun bergegas ke lokasi kebakaran.

Saat berada di lapangan, mereka bolak-balik mengangkut air dari hydrant. Winneke, satu-satunya wanita yang membawa kamera membidik ke lokasi kebakaran di sebuah gedung bekas toko perbelanjaan.

Kebetulan tidak ada korban dalam kebakaran tersebut. Namun menurut Ratika (33), pihaknya akan membantu evakuasi korban dari kalangan perempuan jika membutuhkan pertolongan.

"Kalau di lapangan biasanya kita bantu logistik, dokumentasi dan di sela pendinginan kita juga bantu menyiramkan air. Tapi kalau untuk evakuasi yang kita tangani biasanya ibu-ibu dan anak," kata Ratika.

Dia menjelaskan, srikandi pemadam berjumlah 35 orang dengan wilayah kerja yang tersebar di lima titik. Sementara di markas komando ada tujuh orang yang berdinas sehari-harinya.

"Untuk yang turun ke lapangan itu ada tujuh, cuma hari ini ada lima karena kebetulan sekarang yang satu lagi hamil dan satu lagi sedang izin," ujarnya.

Ratika dan kawan-kawan masih berstatus pegawai harian lepas (PHL) di Diskar PB. Jika dibandingkan dengan risiko pekerjaannya, penghasilan mereka sebagai petugas pemadam kebakaran belum mencapai layak.

Meski begitu, Ratika melihat pekerjaan yang dilakoninya sebagai pengabdian. Menurutnya, semua pekerjaan memiliki risiko.

"Memang risiko pekerjaan kita lebih tinggi. Tapi, karena risiko cedera tidak hanya bisa dialami di tempat berisiko. Kita lagi jalan bisa kecelakaan kan," katanya.

Ratika juga mengaku belum pernah mengalami cedera parah selama menjalani tugas. "Kalau luka, luka sobek, terkena panas mah sudah biasa. Kalau luka berat jangan sampai saja," ujarnya.

2 dari 2 halaman

Dibentuk 2017

Kepala Bidang Kesiapsiagaan Operasi Pemadaman dan Penyelamatan Diskar PB Kota Bandung Kurnia Saputra mengungkapkan para srikandi pemadam itu ada sejak 2017 lalu.

Awalnya, keberadaan perempuan di dinas kebakaran sebagai upaya kesetaraan gender di dalam dunia kerja.

Namun belakangan, kehadiran tim pemadam kebakaran perempuan Bandung ini lebih tepat karena selama ini korban kebakaran paling banyak adalah perempuan dan anak-anak.

"Mereka siap kapan pun dibutuhkan di lokasi kebakaran. Bahkan, srikandi pemadam kita juga ada yang dilatih mengendarai truk tangki," ujar Kurnia.

Selain pemadaman api, para srikandi ini juga turut bekerja dalam menanggulangi bencana hingga penyelamatan manusia dan hewan. Mereka telah digembleng dengan keras melalui berbagai pelatihan.

"Untuk srikandi pemadam ini kerjanya 8 jam sehari, lima hari dalam seminggu. Mereka memang berbeda untuk jam kerja, kalau laki-laki kerjanya 24 jam dan liburnya dua hari," kata Kurnia.

Simak video pilihan di bawah ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Ini Temuan Polisi soal Kekaisaran Sunda Empire di Bandung
Artikel Selanjutnya
Geger Sunda Empire, Wali Kota Bandung: Jangan Buat Kegaduhanlah