Sukses

Mama Regina, Perempuan Hebat dari Raja Ampat

Liputan6.com, Raja Ampat - “Kalau ada kesempatan ke Raja Ampat, mampirlah ke Puyau Homestay di Kabare – Pulau Waigeo, homestay milik Mama Regina,” kata Regina Lapon menutup presentasinya di Semarang 21 Desember 2019 lalu.

Saat itu dia berbicara pada Lomba Inovasi Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 2019 yang diadakan oleh Kementerian Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA). Mewakili Yayasan Maniambyan Raja Ampat (MARA), namanya masuk The Best 7 Inovator dalam lomba tingkat nasional itu.

Penghargaan itu tak berlebihan. Regina Lapon atau yang biasa dipanggil dengan Mama Regina adalah inspirasi dari Raja Ampat. Perjuangannya turut membangun wisata Raja Ampat sangat inspiratif. Dia perempuan pertama yang membangun homestay sendiri di Raja Ampat.

Tak hanya menyokong kebutuhan finansial pembangunan homestay, ia juga mampu menghidupi dan memenuhi kebutuhan sehari-hari seluruh orang yang terlibat dalam pembangunan homestaynya.

Mama Regina berhasil menginspirasi keluarga lain untuk membangun homestay di tanah adat mereka masing-masing. Hingga kini, sudah ada homestay lain yang berdiri di Kabare, tidak lepas dari peran sertanya turut membimbing mereka.

Sesuai dengan visi yang diusung oleh Yayasan MARA, Mama Regina memberikan salah satu contoh bagaimana ekowisata justru memiliki peran dalam konservasi flora dan fauna di Raja Ampat.

Semua capaian Mama Regina itu berawal dari tekad besar tidak ingin anaknya dan seluruh anak di keluarganya putus sekolah karena tidak mampu, atau tidak bisa memeroleh pekerjaan setelah sekolah. Untuk itu dia mulai berjuang.

Pada 2006, suami Mama Regina meninggal dunia. Di saat yang sama, anak pertama mereka masih berusia tiga bulan dalam kandungan. Setelah melahirkan, ia terpaksa menitipkan Charles bayi di rumah keluarganya di Sorong, karena untuk menghidupi anaknya tersebut ia harus bekerja.

Delapan tahun lamanya Mama Regina bekerja di sebuah tambang Nikel di kampungnya di Kabare Raja Ampat. Mulai dari menjadi juru masak, hingga akhirnya ia dipercaya menjadi pengambil sampel tanah untuk laboratorium. Uang yang diperoleh tidak hanya untuk membiayai Charles, namun juga tiga orang anak asuhnya, yang juga merupakan keponakannya yang yatim-piatu.

 

 

 

2 dari 3 halaman

Kembali ke Raja Ampat

Suatu hari, inspirasi membangun kampung halaman itu datang.

“Di Raja Ampat, pariwisata adalah usaha tanpa batas waktu. Sudah seharusnya masyarakat lokal Raja Ampat yang mengembangkannya, di atas tanah adat mereka sendiri” ujar pemilik tambang pada suatu kesempatan.

Itulah awal terbesitnya mimpi Regina Lapon untuk memiliki homestay sendiri.

Tahun 2014, Regina berhenti bekerja di tambang dan kembali ke Sorong agar lebih dekat dengan anak-anaknya. Ia kemudian bekerja sebagai penjual ikan di pasar. Namun salah seorang anak asuhnya yang sudah berhasil menjadi pilot memintanya berhenti berjualan dan membelikannya sebuah perahu motor.

Dengan menggaji seorang motoris, Regina memulai langkahnya dalam dunia pariwisata Raja Ampat, yaitu sebagai pemandu wisata lokal. Sambil berkeliling mengantar tamu, Regina belajar banyak hal dari homestay-homestay dan lokasi-lokasi wisata yang ia kunjungi.

Regina juga bergabung dengan MARA, yayasan lokal yang diinisiasi oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Papua Barat bersama Fauna & Flora International-Indonesia Program (FFI-IP) Raja Ampat. MARA memiliki visi mewujudkan konservasi sumberdaya alam melalui pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, sumber daya manusia, dan kemitraan.

Pelatihan dan pendampingan ekowisata yang dilakukan oleh MARA, tidak hanya melibatkan pria seperti pada umumnya, melainkan juga mengajak perempuan untuk belajar bersama dalam satu ruang dan waktu.

Hingga akhirnya, pada Juni 2018, Mama Regina menambatkan perahu pemandu wisatanya dan memulai membangun homestaynya sendiri di tanah adat Keluarga Lapon, di kampungnya.

 

3 dari 3 halaman

Dayung dan Tokok Sagu

Bukan hal mudah bagi seorang perempuan untuk mengelola tanah adat keluarga, karena lumrah para pria yang memiliki hak tersebut. Namun Regina tidak berputus asa. Ia memulai dengan meminta izin dari seluruh tetua adat dan anggota Marga Lapon lain di kampungnya di Kabare. Setelah memeroleh izin, barulah ia berangkat ke area hutan mangrove, tempat ia akan membangun komplek homestaynya.

Regina harus mendayung sampannya selama 30 menit dari kampung menuju lokasi. Dibantu oleh Charles – putra kecilnya, Novi – anak asuhnya, dan keluarga Joshua Lapon – kakak kandungnya, mereka membersihkan area hutan, memotong kayu-kayu, hingga menganyam atap dan dinding sendiri.

Ketika paku atau minyak untuk gergaji mesin habis, ia menokok sagu dan mencari kopra, lalu menjualnya untuk mendapatkan uang dan membeli kebutuhan tersebut. Setahun kemudian, homestaynya tegak berdiri dan siap dikunjungi.

Homestay pertama di kampung Kabare itu ia beri nama Puyau, yang berasal dari kata Pu, yang berarti tokok sagu, dan Yauw, yang berarti dayung. Dua kata tersebut adalah yang tak pernah lepas dari keseharian mereka semasa membangun homestay.

Sejak Puyau Homestay berdiri, tidak ada lagi pembalakan kayu dan perburuan satwa ilegal di hutan sekitar area homestay. Pohon langka dan satwa liar yang hidup secara alami di sana merupakan atraksi yang menjadi daya tarik utama lokasinya. Mama Regina tidak segan-segan melarang langsung, bahkan melaporkan pelaku ke pihak yang berwenang.

Secara umum Mama Regina juga menginspirasi para perempuan untuk memperjuangkan mimpi. Sebagai perempuan, dia berani mengutarakan keinginannya pada keluarganya. Sekalipun tidak memeroleh bantuan biaya dan tenaga, namun seluruh keluarga besarnya menghormati hal tersebut dan memberikan izin, sehingga Regina boleh menggunakan area tersebut.

Di Raja Ampat, banyak sekali perempuan Raja Ampat yang berperan besar dalam perekonomian keluarga. Dalam sektor pariwisata, perekonomian keluarga di kampung-kampung berputar dari peran para perempuan yang membuat berbagai macam produk. Mereka membuat anyaman, ikan asin, minyak kelapa, dan lain sebagainya, yang kemudian mereka jual sebagai souvenir.

Selain itu, homestay milik masyarakat lokal juga dikelola oleh para perempuan dalam keluarga itu sendiri. Mereka berperan sebagai pelayan, pembersih kamar-kamar, hingga menjadi koki.

"Kami akan tetap bersemangat untuk terus memperbaiki pariwisata Raja Ampat. Mudah-mudahan pemerintah pusat bisa kasih turun harga tiket pesawat ke Papua. Supaya lebih banyak wisawatan datang ke Raja Ampat dan mampu kunjungi kitorang pu homestay…” harap Mama Regina.

(Ana Septiana / peneliti, kontributor Liputan6.com)

Loading
Artikel Selanjutnya
Kisah Maurits Kafiar, Titik Balik Si Pemburu Burung Papua
Artikel Selanjutnya
Raja Ampat Akan Punya Jalan Lingkar sepanjang 342 Km