Sukses

Puting Beliung Porak-porandakan Purwokerto

Liputan6.com, Purwokerto - Pagi hingga siang cuaca di Purwokerto, Jawa Tengah, cerah berawan. Suhu panas lembap. Namun, menjelang sore, mendadak awan gelap (Kumulonimbus) menutupi langit dan memicu angin langkisau atau puting beliung.

Tak hanya Kota Purwokerto, rupanya angin kencang yang disertai hujan lebat juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Kabupaten Banyumas. Puluhan pohon bertumbangan diterjang angin yang kerap muncul pada masa pancaroba ini.

Sejumlah pohon yang tumbang diterjang puting beliung bahkan menimpa rumah dan toko milik warga di Purwokerto. Angin kencang itu juga menimpa badan jalan sehingga menyebabkan lalu lintas macet di sejumlah ruas jalan kota.

Tiga pohon peneduh di Jalan Pemuda Purwokerto tumbang. Dua pohon melintang jalan, satu pohon lainnya menimpa warung di depan Stasiun Besar Purwokerto.

Beruntung, saat pohon tumbang, tak ada kendaraan yang melintas sehingga tak menimbulkan korban jiwa. Namun, tetap saja pohon tumbang itu menyebabkan lalu lintas tersendat. Batang utama melintang di badan jalan. Dahan dan rantingnya menjulur hingga menyulitkan pejalan kaki di trotoar.

"Bahwa pada hari ini Jumat, 6 April 2018 sekitar pukul 14.30 WIB telah terjadi bencana angin puting beliung yang melanda wilayah Purwokerto dan Kecamatan Karanglewas," ucap Komandan Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Kabupaten Banyumas, Heriana Ady Chandra, Jumat malam, 6 April 2018.

2 dari 4 halaman

Puluhan Rumah Rusak Akibat Terjangan Puting Beliung

Puting beliung juga menyebabkan puluhan rumah rusak. Namun, belum seluruh rumah yang terdampak terdata.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Tagana Banyumas bersama instansi lain dan pemerintah desa masih terus mendata jumlah rumah rusak.

Terjangan angin langkisau juga terjadi di Desa Jipang Kecamatan Karanglewas, yang wilayahnya berdekatan dengan Kota Purwokerto. Atap rumah warga beterbangan diterjang puting beliung. Pepohonan bertumbangan.

Puluhan rumah rusak, mulai kategori ringan, sedang, hingga berat. Jumat malam, Tagana Banyumas dan Pemerintah Desa Jipang masih mendata secara rinci rumah yang terdampak terjangan angin puting beliung.

Sementara, di Desa Jipang, ada enam rumah yang berkategori rusak sedang dan berat. Seluruhnya berada di RW 3 Desa Jipang.

3 dari 4 halaman

Pohon Tahan Rubuh Tumbang Diterjang Puting Beliung

Kuatnya terjangan puting beliung terekam dari banyaknya pohon yang dikenal tahan rubuh, seperti duku, nangka, bahkan, pohon jati. Seluruhnya adalah pohon berkayu keras.

"Rumah Bapak Darto (50) di RT 03 RW 03 tertimpa pohon melinjo dan jati," Chandra menerangkan.

Selanjutnya, rumah Kasiwan (60) di Grumbul Grugrak RT 01 RW 03 tertimpa pohon rambutan, rumah milik Slamet Purwoko di RT 02 RW 03 tertimpa pohon mangga, rumah Makhsum RT 03 RW 03 tertimpa pohon duku. Selanjutnya, rumah milik Sirun di RT 03 RW 03 tertimpa pohon nangka.

Pohon di Taman Kota Purwokerto juga menimpa kabel jaringan listrik. Akibatnya, sebagian wilayah Karanglewas bagian barat listrik padam.

"Penanganan kejadian dilaksanakan oleh Tagana Banyumas, Pramuka Peduli, PMI Banyumas, Linmas Inti Banyumas, warga dan kepolisian," dia menjelaskan.

Tagana Banyumas dan pemerintah desa masih mendata secara terperinci, termasuk jumlah kerugiannya. Meski tak menimbulkan korban jiwa, tetapi kerugian yang ditimbulkan puting beliung diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan masa peralihan musim atau pancaroba di Jawa Tengah bagian selatan bakal terjadi antara April-Mei 2018.

4 dari 4 halaman

Pertanda Awal Munculnya Awan Kumulonimbus

Prakirawan BMKG, Rendy Krisnawan menerangkan pada masa peralihan musim ini, muncul potensi terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang, petir, atau bahkan puting beliung.

Kerap terjadi fluktuasi cuaca lokal yang cukup esktrem, terutama di daerah yang berdekatan dengan pegunungan. Pemanasan lokal menyebabkan turunnya tekanan udara dan memicu aliran udara kencang dari daerah-daerah sekitarnya.

Awan hujan dalam konsentrasi tinggi pun terbentuk dan memicu hujan lebat skala lokal. Yang paling diwaspadai adalah munculnya awan kumulonimbus (cumulonimbus).

Awan kumolonimbus ini berpotensi memicu terjadinya hujan lebat disertai angin kencang, petir, dan juga puting beliung. Kumulonimbus biasanya muncul pada siang menjelang sore atau sore hari.

Secara kasat mata, awan kumulonimbus didahului oleh matahari yang bersinar penuh, cuaca cerah atau cerah berawan, dan suhu tinggi.

Saat peningkatan suhu itu lah, tekanan udara turun. Penguapan pun terjadi dengan cepat dan memicu kelembapan tinggi.

 

Simak video pilihan berikut ini: