Sukses

Imlek di Bandara Pekanbaru, Baju Merah Jangan Sampai Lepas

Liputan6.com, Pekanbaru - Masih ingat dengan penggalan lagu Warkop DKI yang dinyanyikan Kasino berbunyi "yang baju merah jangan sampai lepas". Ya, nyanyian berjudul "Lagu Kode" ini kiranya cocok disematkan kepada pengelola Bandara Sultan Syarif Kasim II Kota Pekanbaru, Riau, dalam merayakan Imlek.

Para penumpang, baik kedatangan ataupun keberangkatan, akan dicegat petugas bandara yang berdandan oriental. Hal itu khusus dilakukan bagi mereka yang mengenakan baju merah di bandara.

Pantauan di bandara, tidak hanya warga keturunan Tionghoa yang dicegat. Namun, juga warga yang memakai hijab atau muslim dan diberikan kado spesial oleh petugas.

"Pencegatan" disertai dengan wajah yang ramah dan murah senyum. Tak ada satu pun yang berbaju merah lepas dan menerima bingkisan yang diketahui berisi cokelat.

"Silakan cokelatnya diterima. Ini khusus meriahkan Imlek," tutur seorang karyawati.

Penumpang tersenyum sekaligus mengucapkan terima kasih atas pemberian bingkisan tersebut.

"Pasti cokelatnya enak. Boleh saya langsung makan, ya," ujar penumpang yang diberikan cokelat.

General Manager PT Angkasa Pura II Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Jaya Tahoma Sirait, menyebut hal ini dilakukan untuk merayakan Imlek di Pekanbaru.

Dia menyebutkan, petugas berseragam ala Imlek sudah disiapkan di pintu keberangkatan dan kedatangan. Petugas sudah lama merencanakan ini untuk menyemarakkan Imlek di Pekanbaru.

Menurutnya, cokelat yang disediakan memang terbatas. Namun, intinya sudah tersampaikan, yaitu merayakan Imlek sebagai penghormatan dan menghargai hari besar masyarakat berbeda.

"Gong xi fa chai bagi yang merayakannya dan yang baju merah dapat cokelat," ucap Jaya.

Terkait liburan Imlek yang cukup panjang, Jaya menyatakan tidak ada kenaikan signifikan jumlah penumpang, baik kedatangan ataupun keberangkatan.

"Berdasarkan laporan hanya 2 persen kenaikannya, tidak terlalu signifikan," katanya.

Tujuan penumpang saat libur Imlek ini paling banyak adalah Singapura, Medan (Sumatera Utara), Jakarta, dan Batam (Kepulauan Riau).

1 dari 2 halaman

Imlek yang Menyejukkan di Bali

Warga etnis Tionghoa merayakan tahun baru Imlek pada Jumat (16/2/2018). Di berbagai wilayah di Indonesia, warga umat beragama lainnya turut merasakan kemeriahan tahun baru China tersebut. Salah satunya adalah Pulau Bali.

Akan tetapi, ada yang berbeda dari perayaan Imlek di provinsi yang dikenal dengan Pulau Seribu Pura itu.

Seperti terlihat di Wihara Dharmayana, Kuta, Kabupaten Badung. Selain ornamen khas Imlek, terlihat juga berbagai hiasan dengan ciri khas budaya Bali. Seperti sarana persembahyangan umat di dalam wihara itu menggunakan canang (sesajen dalam ritual Hindu) sebagai persembahan kepada leluhurnya.

Jika memasuki pelataran wihara yang berada di sekitar hutan mangrove itu, pengunjung akan disuguhkan pemandangan di pintu masuk dua pasang penjor.

Penjor adalah sarana ibadah umat Hindu saat hari raya Galungan dan Kuningan. Selain itu, pengunjung juga akan melihat umbul-umbul yang didominasi warna kuning dan merah menghiasi area wihara.

Pande Yudha, salah satu wisatawan yang hadir ke wihara itu, mengaku takjub dengan kerukunan antarumat beragama yang terjalin di Bali. Ia sedang berlibur dan tertarik datang ke wihara saat perayaan Imlek.

"Menariknya tadi saya lihat di dalam wihara banyak prasarana yang biasa digunakan orang Bali melakukan persembahyangan," ucap Yudha, wisatawan asal Bandung, Jawa Barat itu di Kuta, Jumat (16/2/2018).

Artikel Selanjutnya
Ayam Jago Menggonggong, Ucapan Selamat Imlek yang Kontroversial di Malaysia
Artikel Selanjutnya
Ingin Hoki di Tahun Anjing? Ini Sikap yang Perlu Diambil