Sukses

Tarian Syukur Warga Desa Latu Seram Barat untuk BBM Satu Harga

Liputan6.com, Maluku- Delapan gadis penari berjajar rapi di depan SPBU Mini Desa Latu, Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat, Provinsi Maluku.

Mereka berseragam kebaya putih dengan bawahan kain batik dan dilengkapi dengan hijab hitam. Tangan para penari gemulai dan badannya digerakkan naik dan turun, menarikan Tarian Sawat Adat Desa Negeri Latu yang diiringi oleh pukulan rebana yang dimainkan oleh Majelis Taklim dan remaja Masjid Wailai Kusukusu, Desa Latu.

"Tarian ini menggambarkan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, atas adanya ketersediaan BBM (bahan bakar minyak) di kampung ini," ucap Ketua RT Wailai Kusukusu, Desa Latu, Arif Rumalutur yang ikut menjadi panitia peresmian BBM Satu Harga di Kabupaten Seram Barat, pada Senin, 2 Oktober 2017.

Tarian Sawat Adat Desa Negeri Latu memang biasa dipersembahkan dalam setiap upacara syukur dari masyarakat setempat atas suatu keberhasilan.

Wajar saja masyarakat mengucapkan syukur atas hari ini, karena sejak 72 tahun Indonesia merdeka, warga Desa Latu, Seram Bagian Barat, tak pernah menikmati harga BBM sama seperti warga lainnya di Pulau Jawa dan sekitarnya.

"Kami biasa membeli BBM dengan harga Rp 9.000 -Rp 10 ribu per liternya. Jika BBM sulit, harga yang ditawarkan bisa mencapai Rp 11 ribu per liternya," Arif menambahkan.

Saksikan video pilihan berikut ini:

2 dari 3 halaman

BBM Satu Harga Desa Latu

Desa Latu merupakan desa strategis antara daerah Waipirit, Kabupaten Seram Bagian Barat dan Masohi yang terletak di Kabupaten Maluku Tengah.

Jarak tempuh yang harus ditempuh dari Desa Latu ke Waipirit, berkisar 40 kilometer yang ditempuh dengan jalan darat. Sementara, jarak tempuh dari Desa Latu ke Masohi berjarak 80 kilometer.

Pimpinan SPBU Mini Desa Latu, Jumadi menyebutkan dengan dibukanya SPBU, untuk mempermudah masyarakat mendapatkan BBM. Jumadi juga mempersilakan sejumlah perbankan untuk membuka ATM di SPBU-nya. Ini berfungsi untuk mempermudah akses ekonomi warga.

Konon kabarnya, sebelum adanya SPBU mini, sopir-sopir mobil truk, biasa membawa 3-4 jeriken ukuran 25 liter untuk persediaan BBM selama di perjalanan.

"Masyarakat selalu was-was akan kehabisan BBM di tengah perjalanan. Saya yakin, SPBU ini menjawab kebutuhan masyarakat akan BBM. Kami akan mengoperasikan SPBU ini 24 jam," Jumadi menambahkan.

SPBU Mini Amalatu dibangun dengan menjual tiga jenis produk, yakni premium, pertalite, dan solar. Dengan kapasitas tangki masing-masing produk sebesar 15 kiloliter, sehingga total kapasitas SPBU ini mencapai 45 kl.

Kabupaten Seram bagian Barat, Provinsi Maluku menjadi lokasi ke-25 yang menerapkan program BBM Satu Harga. Program BBM Satu Harga merupakan program pemerintah yang ditugaskan ke Pertamina. Tahun 2017, ada 54 lokasi 3T, yakni terluar, terdepan, dan tertinggal yang ditargetkan menjadi BBM Satu Harga.

SVP Fuel & Marketing Distibutor PT Pertamina (Persero), Gigih Wahyu Hari Irianto mengatakan sampai saat ini SPBU Mini Awalatu adalah SPBU ke-25 yang terbangun, yang masuk dalam kategori dari total 54 Lembaga Penyalur Rencana Program BBM Satu Harga di seluruh Indonesia.

Untuk Pertamina MOR VIII Maluku-Papua, SPBU Mini Amalatu merupakan titik ke-13 dari total 19 Lembaga Penyalur yang akan didirikan.

"Pendirian SPBU ini kami harap membawa dampak positif bagi perekonomian dan bagi masyarakat di kawasan timur Indonesia, khususnya masyarakat Seram Bagian Barat," kata Gigih Wahyu Hari Irianto.

3 dari 3 halaman

Warga Menikmati BBM Premium

Sementara, Bupati Seram Bagian Barat M. Yasin Payapo menyebutkan warga Amalatu sangat bersyukur atas kehadiran SPBU di daerahnya, sehingga masyarakat dapat menikmati BBM premium dengan harga Rp 6.450/liter dan solar seharga Rp 5.150/liter.

"Ini jelas meringankan beban masyarakat yang selama ini kesulitan dalam membeli BBM," ia mengungkapkan.

Sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 36 Tahun 2016 tentang Percepatan Pemberlakuan Satu Harga Jenis BBM Tertentu dan Jenis BBM Khusus Penugasan Secara Nasional, pemerintah menugaskan Pertamina merealisasikan BBM Satu Harga di seluruh wilayah Indonesia sejak 1 Januari 2017.

Kepala BPH Migas M.Fanshurullah Asa mengungkapkan, pembangunam SPBU di wilayah 3 T bukan merupakan hal yang mudah. Hal ini,mengingat geografis dan ongkos angkut yang tinggi, sehingga perlu dipastikan tepat sasaran peruntukannya.

"Perlu ada pengawasan dan monitoring dari pemerintah daerah dan aparat agar penyaluran BBM Satu Harga ini tepat sasaran," kata Fanshurullah yang juga hadir dalam kegiatan tersebut.