Sukses

Sepotong Nanas Picu Pria Riau Tikam Saudara Kembarnya

Liputan6.com, Pekanbaru - Sering berkelahi dengan saudara kembarnya, Rahmana Sinaga membeli sebilah pisau di pasar dengan niat untuk membela diri jika ‎terjadi pertengkaran lagi. Niatnya kemudian berujung kematian terhadap saudara kembarnya, Ramadhan Sinaga pada Jumat dini hari, 16 Juni 2017.

Dia ditangkap setelah melarikan diri ke dalam perkebunan sawit dan ditahan di Mapolsek Kandis, Kabupaten Siak, Riau. ‎Sementara, keluarganya menolak rencana polisi untuk memvisum tubuh korban. Jasad saudara kembar Rahmana itu langsung dikuburkan begitu pembunuhnya tertangkap.

"Atas perbuatannya ini, tersangka dijerat dengan pasal tentang pembunuhan berencana karena sudah seminggu menyimpan pisau itu. Sudah ada niat dari pelaku untuk menggunakan senjata tajam itu," kata Kabid Humas Polda Riau Kombes Guntur Aryo Tejo, Minggu malam, 18 Juni 2017.

Guntur menerangkan, Rahmana dan Ramadhan tinggal di Kampung Libo, Kecamatan Kandis, bersama keluarganya. Beberapa bulan belakangan, saudara kembar identik ini sering berkelahi oleh masalah sepele dan selalu pula diselesaikan secara kekeluargaan.

Puncaknya terjadi pada Jumat malam ketika sang kakak mengambil satu potong buah nanas milik adik kandungnya itu. Rahmana lalu marah-marah dan terjadi perkelahian di teras rumah. Perkelahian itu sempat dilerai oleh keluarganya.

Usai perkelahian itu, pelaku pergi dari rumahnya sementara korban tetap di rumah. Karena pelaku sering pulang setelah berkelahi, keluarganya tidak mengunci pintu rumah karena menganggapnya tidak akan berbuat nekat.

Pria Riau itu menikam saudara kembar identiknya yang sedang tertidur pulas. (Liputan6.com/M. Syukur)

"Dan ketika pulang itu, pelaku melihat korban sedang tidur pulas di ruang tamu. Pelaku langsung menuju dapur dan mengambil pisau yang sudah dibelinya satu pekan lalu," ucap Guntur.

Kelengahan korban langsung dimanfaatkan pelaku dan langsung menikamnya. Dia lalu kabur dan membuang pisau tadi di semak-semak belakang rumah, serta masuk ke perkebunan sawit untuk melarikan diri.

Korban yang terluka berteriak minta tolong. Suaranya didengar sang ibu dan keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi. Alangkah kagetnya sang ibu melihat anaknya terluka parah di bagian perut, lalu membangunkan suaminya untuk memberikan pertolongan.

"Korban sempat dibawa ke klinik setempat tapi sudah tidak bernyawa lagi karena kehabisan darah dalam perjalanan. Kejadian ini kemudian dilaporkan ke Polsek setempat untuk dilakukan penyelidikan," ucap Guntur.

Hasil penyelidikan memang mengarah kepada adik kembar korban karena tidak berada di rumah saat kejadian. Pencarian dilakukan hingga beberapa jam, dan akhirnya pelaku keluar dari perkebunan serta dilihat sekuriti di lokasi.

Keadaan pelaku yang pucat serta terlihat ketakutan membuat sekuriti curiga. Dia pun ditahan. Keberadaannya diberitahukan kepada petugas Bhabinkamtibmas untuk dijemput. Tanpa perlawanan, Rahmana kemudian dibawa ke Mapolsek untuk pengusutan lebih lanjut.

"Motif tersangka karena sering sakit hati, puncaknya ketika nanas tersangka dimakan pelaku. Ini membuatnya marah dan melancarkan niatnya kepada saudara kembarnya sendiri," kata Guntur.