Sukses

Romi: Sesi Interaksi Paslon di Debat Pilpres Harus Diperbanyak

Liputan6.com, Jakarta - Dewan Penasehat Tim Kerja Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Romachurmuz menyoroti format debat pertama pilpres yang dinilai tidak menarik. Menurutnya, debat yang digagas KPU tersebut berlangsung garing.

"Bahkan media Australia menyebut debat itu bukan kelas presiden sebuah negara besar seperti Indonesia," kata Romachurmuzy saat menghadiri peringatan Harla ke-46 PPP di Kabupaten Gorontalo, Selasa 22 Januari 2019.

Menurut Ketua Umum PPP ini, di tiga sesi pertama, ada batasan waktu dan pertanyaan sehingga justru membuat para kandidat tampil kaku dan tidak bisa keluar dari tema tema spesifik tersebut. Kondisi itu membuat orang yang menyaksikan menilai debat tidak menarik.

"nginnya kita, di samping jadi tuntunan, debat ini juga jadi tontonan yang menarik. itulah kenapa disiarkan di televisi," ujarnya.  

Politikus yang akrab disapa Romi itu juga menilai sesi interaksi antar kandidat seharusnya diperbanyak. Merujuk pada debat pertama yang memiliki lima sesi, hanya sesi keempat dan kelima saja kedua kandidat berinteraksi secara langsung.

Adanya kisi kisi pertanyaan menjelang debat pertama juga tidak banyak membantu. Padahal keberadaan kisi kisi untuk membantu agar suasana debat bisa lebih menarik.

"Sampai Ira Koesno berulang kali mengingatkan paslon bahwa ini debat bukan pidato. Itu artinya debat cenderung berlangsung monolog," ujarnya.

2 dari 3 halaman

Yakin Lebih Baik

Romi sepakat kisi kisi pertanyaan ditiadakan di debat kedua nantinya. Sebagai incumbent, pihaknya memiliki cukup banyak materi yang tidak sempat disampaikan pada debat pertama.

Tema debat kedua, yakni sumber daya alam, pengelolaan ekonomi dan infrastuktur  sangat dikuasai Jokowi karena jadi program prioritas pemerintahan saat ini.

"Didebat kedua nanti performa paslon kita akan lebih baik," ujarnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Loading