Sukses

Negara Ini Gelontorkan Dana Puluhan Triliun Rupiah untuk Atasi Sakit Stres

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Singapura mengeluarkan dana hingga miliaran Dolar Amerika per tahun, untuk mengobati masalah kesehatan terkait stres.

Hal itu diungkapkan, perusahaan asuransi kesehatan Cigna, yang juga menemukan delapan negara yang mengalami hal serupa dengan Singapura. Seperti Amerika Serikat (AS), Inggris, Australia, Taiwan, Thailand, Hong Kong, UEA, dan Korea Selatan.

Ini terkuak dari survei data yang diambil dari Kementerian Kesehatan, Poliklinik Kelompok Kesehatan Nasional, SingHealth, Raffles Medical, dan Parkway Holdings.

Seperti dilansir dari Business Insider, Senin  (27/11/2019), secara total pemerintah Singapura diperkirakan menghabiskan total USD 2,3 miliar atau Rp 32,2 triliun terkait bantuan medis.

Dana bantuan ini demi warganya yang mengalami gangguan kesehatan stres. Dana ini hampir seperlima dari pengeluaran kesehatan tahunan negara itu.

Penyakit terkait stres menyebabkan lebih dari 160.000 warga di Singapura harus dirawat inap di rumah sakit. Bahkan lebih dari 3 juta kunjungan rumah sakit untuk perawatan setiap tahun di Singapura, dengan total 11 juta kunjungan setahun.

Menurut laporan itu, satu dari setiap tiga kunjungan dokter umum, pasien mengaitkan kondisi kesehatannya, dikarenakan stres.

2 dari 2 halaman

Tak Jadi Resesi, Ekonomi Singapura Tumbuh 0,5 Persen

Setelah beberapa kali terancam masuk jurang resesi, akhirnya Singapura berhasil menyelamatkan diri dan memulihkan kondisi ekonominya. Ekonomi Singapura tercatat tumbuh 0,5 persen, lebih tinggi dari proyeksi kuartal III 2019.

Mengutip laman CNBC, Jumat (22/11/2019), produk domestik bruto (PDB) Singapura naik 0,5 persen year on year. Angka ini sesuai dengan hasil jajak pendapat Reuters namun pertumbuhannya lebih tinggi 0,1 persen.

Pemerintah Singapura turut mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun ini menjadi 0,5 persen - 1 persen dari yang sebelumnya 0 persen - 1 persen.

Menteri Perdagangan dan Industri Singapura Gabriel Lim menyatakan, ada stabilisasi dalam ekonomi global, meski pertumbuhan ekonomi yang dirasakan masih melemah.

"Sektor manufaktur Singapura juga bekerja lebih baik dari harapan," ujarnya.

Lebih rinci, pada periode Juli hingga September 2019, ekonomi Singapura tumbuh 2,1 persen dari kuartal sebelumnya. Angka tersebut lebih tinggi dari perkiraan awal sebesar 0,6 persen.

Sebelumnya, ekonomi Singapura melemah imbas dari perang dagang yang tak kunjung menemui titik akhir. Akibatnya, ekspor Singapura melemah dan memperlambat ekonomi negara.

Loading
Artikel Selanjutnya
Tak Sadar Radang Otak, Dokter Mengira Remaja Ini Hilang Ingatan karena Stres
Artikel Selanjutnya
Singapura Desak Seluruh Negara Bekerja Sama Kurangi Emisi Karbon