Sukses

Mengenang Maestro Tari Gusmiati Suid

Liputan6.com, Batusangkar: Berbagai cara dapat dilakukan untuk mengenang jasa-jasa seorang seniman. Baru-baru ini, seribu hari wafatnya maestro tari Gusmiati Suid diperingati di kota kelahirannya, Batusangkar, Sumatra Barat. Dalam acara yang berlangsung sederhana di Gedung Nasional Batusangkar, ini masyarakat disuguhi sejumlah pertunjukan tari yang ditampilkan Grup Gumarang Sakti.

Acara diawali dengan pembacaan doa untuk almarhumah yang meninggal 28 September 2001 dalam usia 59 tahun di Jakarta. Acara dilanjutkan dengan pemutaran video klip karya-karya terbaik Gusmiati. Kemudian, baru ditampilkan salah satu master piece pendiri Grup Gumarang Sakti, Api Dalam Sekam.

Menurut Boi G. Sakti, anak sulung almarhumah, peringatan seribu hari dengan menampilkan salah satu karya terbaik di Batusangkar adalah wujud pertanggungjawaban moral. Pasalnya, ketika Gumarang Sakti pertama berdiri di Batusangkar pada 1981, grup ini didukung penuh masyarakat Batusangkar.

Bagi masyarakat Minangkabau, Gusmiati dianggap sebagai tokoh pemberontak di dunia tari. Hampir semua karya tarinya keluar dari pakem yang ada di Ranah Minang yang saat itu didominasi aliran seni tari Melayu. Itu tampak pada tari Api Dalam Sekam. Tak ada gerak gemulai dari penari. Semuanya menari dengan kekuatan, seperti gerak silat Minangkabau. Sedangkan unsur Minang hanya ditampilkan dalam bakaba atau memberi kabar kepada penonton.(ORS/Denni Risman dan Del Fadillah)