Empat Santri di Kursi Menteri Prabowo-Gibran

Empat tokoh ini pernah menempuh pendidikan pesantren sebelum berkiprah di pemerintahan. Mereka menjalani jalur karier yang berbeda hingga masuk Kabinet Merah Putih.

Diterbitkan 22 Oktober 2026, 07:28 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Bagi sebagian orang, pesantren identik dengan kehidupan santri yang belajar agama, mengaji kitab, dan mempersiapkan diri menjadi pendidik atau pendakwah.

Namun, perjalanan sejumlah alumninya menunjukkan bahwa pengalaman mondok dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju beragam profesi, termasuk jabatan di pemerintahan.

Di Kabinet Merah Putih pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, terdapat sejumlah menteri yang memiliki latar belakang pendidikan pesantren. Mereka datang dari lingkungan dan jalur pendidikan berbeda, kemudian menempuh perjalanan masing-masing sebelum masuk ke lingkaran pengambil kebijakan negara.

Empat di antaranya adalah Menteri Agama Nasaruddin Umar, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, serta Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Nasaruddin Umar, dari As'adiyah ke Kementerian Agama

Nama Nasaruddin Umar lekat dengan dunia pendidikan dan pemikiran Islam. Sebelum dipercaya menjadi Menteri Agama pada pemerintahan Prabowo-Gibran, ia dikenal sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal dan guru besar bidang tafsir di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Perjalanan pendidikannya bermula di Sulawesi Selatan. Nasaruddin menempuh pendidikan di Pondok Pesantren As'adiyah Sengkang, Kabupaten Wajo. Ia kemudian melanjutkan studi di IAIN Alauddin Ujung Pandang, sebelum meneruskan pendidikan pascasarjana di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Menurut profil yang dimuat Kompas.com, Nasaruddin menempuh pendidikan guru agama di Pesantren As'adiyah sebelum melanjutkan pendidikan tinggi. Ia meraih gelar sarjana pada 1984 dan menyelesaikan pendidikan doktoralnya pada 1998.

Kariernya di pemerintahan bukan hal baru. Nasaruddin pernah menjabat Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama pada 2006–2012, kemudian menjadi Wakil Menteri Agama pada 2011–2014. Ia juga dikenal melalui kiprahnya dalam kajian tafsir dan berbagai kegiatan lintas agama.

Pada 21 Oktober 2024, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Menteri Agama. Profil resmi Kementerian Agama mencatat jabatan tersebut, sekaligus sejumlah peran Nasaruddin di lembaga keagamaan dan pendidikan.

Gus Ipul, Santri Sarungan Kaya Asam Garam Dunia Politik

Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, juga memiliki latar pendidikan pesantren. Menteri Sosial ini dikenal sebagai tokoh yang lama berkiprah di lingkungan Nahdlatul Ulama dan politik nasional.

Gus Ipul tercatat pernah menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, dan Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Setelah itu, ia meniti karier melalui organisasi dan politik. Ia pernah menjadi anggota DPR, Sekretaris Jenderal Partai Kebangkitan Bangsa, serta Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Ia juga pernah menjabat Wakil Gubernur Jawa Timur selama dua periode, mendampingi Soekarwo pada 2009–2019. Sebelum masuk Kabinet Merah Putih, Gus Ipul menjabat Wali Kota Pasuruan pada 2021–2024.

Pada pemerintahan Prabowo-Gibran, Gus Ipul dipercaya memimpin Kementerian Sosial. Posisi itu menempatkannya pada urusan perlindungan sosial, penanganan kelompok rentan, dan program-program yang berkaitan dengan kesejahteraan masyarakat.

Perjalanan Gus Ipul menunjukkan bahwa latar pendidikan pesantren dapat berjalan berdampingan dengan pengalaman organisasi dan politik. Kariernya tidak hanya berkutat pada urusan keagamaan, tetapi juga berkembang ke bidang pelayanan publik dan kebijakan sosial.

Raja Juli Antoni, Santri Muhammadiyah Peraih Beasiswa Chevening

Jalur berbeda ditempuh Raja Juli Antoni. Menteri Kehutanan ini merupakan alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah di Garut, Jawa Barat. Ia menjalani pendidikan di pesantren tersebut selama enam tahun sebelum melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Menurut profil yang dimuat Muhammadiyah.or.id, Raja Juli kemudian meraih gelar sarjana Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir dari IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada 2001. Ia melanjutkan pendidikan magister di University of Bradford, Inggris, melalui beasiswa Chevening, lalu meraih gelar doktor dari University of Queensland, Australia.

Sebelum masuk kabinet, Raja Juli dikenal sebagai aktivis Muhammadiyah dan pernah menjabat Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah periode 2000–2002. Ia juga pernah menjadi Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Wakil Kepala Badan Pertanahan Nasional pada pemerintahan sebelumnya.

Pada Oktober 2024, ia dilantik sebagai Menteri Kehutanan. Jabatan tersebut menempatkannya pada salah satu bidang strategis yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan, perlindungan ekosistem, dan kebijakan perhutanan.

Latar pendidikannya menunjukkan bahwa perjalanan seorang santri tidak harus berhenti setelah menyelesaikan pendidikan di pondok. Raja Juli melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktoral dan mengembangkan pengalaman di organisasi serta pemerintahan.

Cak Imin, Santri Jadi Cawapres, Ketum Parpol hingga Menteri

Muhaimin Iskandar atau Cak Imin merupakan tokoh lain di Kabinet Merah Putih yang memiliki latar pendidikan pesantren. Ia menempuh pendidikan dasar di Jombang, Jawa Timur, kemudian melanjutkan pendidikan menengah pertama di Madrasah Tsanawiyah Pondok Pesantren Mambaul Maarif, Jombang. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan menengah atas di Madrasah Aliyah Negeri 1 Jombang.

Karier politiknya berkembang melalui organisasi mahasiswa dan partai politik. Muhaimin pernah menjabat Ketua Umum Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 1994. Ia kemudian terlibat dalam pembentukan Partai Kebangkitan Bangsa dan menduduki sejumlah jabatan politik, termasuk Wakil Ketua DPR serta Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Dalam pemerintahan Prabowo-Gibran, Muhaimin menjabat Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat. Tugas tersebut berkaitan dengan koordinasi program pemberdayaan masyarakat lintas kementerian dan lembaga.

Perjalanannya menambah gambaran tentang beragamnya profesi yang dijalani alumni pesantren.

Pendidikan pesantren menjadi bagian dari riwayat hidupnya, sementara pengalaman organisasi dan politik turut membentuk perjalanan karier hingga ke pemerintahan.

 

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6