Terungkap Identitas Terduga Pelaku Pencambukan di KPPG Bogor

Identitas keduanya terungkap usai polisi mendatangi lokasi kejadian dan memeriksa sejumlah saksi.

Liputan6.com, Jakarta - Polresta Bogor mengungkap identitas korban serta terduga pelaku pencambukan di Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor yang videonya viral di media sosial. Identitas keduanya terungkap usai polisi mendatangi lokasi kejadian dan memeriksa sejumlah saksi.

"Diduga tersangka penganiayaan itu Koordinator Wilayah Purwakarta berinisial GD dan korban berinisial RAN," ujar Kasi Humas Polres Bogor, Ipda Imam, Jumat (16/10/2026).

Imam menjelaskan bahwa RAN merupakan salah satu Kepala SPPG di wilayah Purwakarta yang datang ke kantor KPPG Bogor. Dia mengatakan, pihaknya juga telah meminta keterangan dari Kepala KPPG Bogor, Haidir.

"Kepala KPPG membenarkan adanya peristiwa tersebut," jelas Imam.

Berdasarkan keterangan yang dihimpun Polresta Bogor, Kepala KPPG Bogor sempat mendengar teriakan sewaktu insiden berlangsung. Ia pun langsung menegur terduga pelaku agar tidak melakukan aksi tersebut.

"Sempat ditegur dan tidak boleh melakukan hal itu (pencambukan) karena ini adalah kantor KPPG," terang Imam.

Selain itu, polisi memperoleh informasi bahwa perselisihan tersebut sejatinya telah diselesaikan secara damai oleh kedua belah pihak di lokasi kejadian.

"Berdasarkan Kepala KPPG permasalahannya sudah diselesaikan secara musyawarah dari kedua belah pihak," ucap Imam.

Sementara itu, Kapolsek Bogor Utara, Kompol Enjo Sutarjo, berencana memanggil kedua belah pihak untuk dimintai klarifikasi lebih lanjut. Jajarannya juga telah mendatangi lokasi kejadian guna mengumpulkan keterangan terkait dugaan aksi pencambukan tersebut.

"Tadi malam anggota sudah ke lokasi kejadian, keduanya sudah kembali ke Purwakarta karena keduanya asalnya dari sana," singkat Enjo.

Viral Video Pria Diduga Dicambuk

Sebelumnya, sebuah video yang memperlihatkan seorang pria diduga menjadi korban pencambukan di Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Bogor viral di media sosial. Kepala KPPG Bogor, Haidir, membenarkan adanya perselisihan yang melibatkan dua Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) di kantornya.

"Kejadiannya itu terjadi pada Rabu kemarin (14/10/2026), kira-kira jam 15.00 WIB," ujar Haidir saat dikonfirmasi awak media, dikutip Jumat (16/10/2026) malam.

Haidir menjelaskan, dugaan pencambukan tersebut berawal dari perselisihan antara dua SPPI asal Purwakarta. Keduanya diketahui merupakan kepala dapur, tetapi saat kejadian tidak sedang bertugas mengelola dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

"Nah memang kami harus mendalami kembali sebenarnya ada masalah apa yang terjadi antara kedua SPPI tersebut," jelas dia.

Haidir mengatakan, saat peristiwa itu terjadi, dirinya bersama sejumlah pimpinan KPPG, kepala subbagian tata usaha (Kasubag TU), dan koordinator wilayah (Korwil) Kota Bogor sedang berada di kantor. Dia tengah mengurus sejumlah hal terkait perencanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Beberapa detik kemudian kami mendengar ada yang berteriak di halaman luar KPPG," terang Haidir.

Mendengar teriakan tersebut, Haidir langsung keluar untuk mencari sumber suara. Dia kemudian mendapati kedua SPPI tengah berselisih dan bersama pihaknya berupaya melerai mereka.

"Kami melerai mereka, kami langsung panggil ke dalam dan memberikan teguran keras kepada keduanya," ucapnya.

 

Tak Ada Toleransi

Haidir menegaskan, segala bentuk kekerasan tidak dibenarkan, termasuk di lingkungan KPPG Bogor. Setelah kejadian tersebut, kedua SPPI disebut telah berdamai dan kembali ke Purwakarta.

"Kami dari KPPG Bogor ingin menegaskan bahwa KPPG Bogor tidak mentoleransi semua bentuk kekerasan sekecil apapun. Kami mohon maaf kepada pimpinan dan rakyat Indonesia atas kegaduhan yang terjadi, ini akan menjadi pembelajaran bagi kami ke depan," ungkap dia.

Haidir menambahkan, kedua SPPI tersebut datang ke kantor untuk keperluan tertentu di luar tugas mereka di dapur. Namun, pihaknya belum mengetahui secara pasti penyebab perselisihan, termasuk apakah masalah itu telah terjadi sebelum keduanya tiba di kantor atau justru muncul setelah mereka datang.

"Ini adalah kantor kadang-kadang mereka ke kantor selain bekerja di dapur, mereka ada urusan-urusan. Akan tetapi kami belum mendapatkan kejelasan, apakah perselisihan itu adalah perselisihan pribadi yang sebelum mereka datang ke kantor perselisihan setelah mereka datang ke kantor," tuturnya.

Atas kejadian tersebut, Haidir memastikan kedua pihak akan dikenai sanksi sesuai dengan kesalahan masing-masing.

"Pasti (sanksi), tidak boleh ada kekerasan dan semua kesalahan ada konsekuensinya," Haidir menandaskan.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6