Bahaya Tersembunyi Kebakaran Hutan di Lahan Gambut

Ada fenomena yang dikenal sebagai ground fire.

Diterbitkan 15 Oktober 2026, 14:24 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Lubang yang menganga dengan pijar merah menyala di lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan menjadi tanda adanya bahaya tersembunyi. Meski api di permukaan tampak padam, bara ternyata masih dapat merambat di bawah tanah dan memicu kebakaran yang sulit dideteksi.

Fenomena yang dikenal sebagai ground fire atau kebakaran bawah permukaan ini terjadi pada lahan gambut yang memiliki lapisan material organik tebal.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan, menjelaskan bahwa bara api dapat terus membakar material organik di dalam gambut meski permukaan lahan terlihat tidak lagi terbakar.

“Fenomena lubang api bawah tanah pada kebakaran lahan gambut di Kalimantan merupakan bentuk ground fire atau api bawah permukaan. Lahan gambut tersusun atas tumpukan material organik tebal yang kaya akan gas metana. Ketika terjadi kebakaran, area permukaan mungkin terlihat sudah padam, tetapi bara api (smoldering) terus merayap di bawah tanah,” kata Berton dalam keterangan tertulis, Kamis (15/10/2026).

 

 

Proses pembakaran di bawah permukaan tersebut dapat mengikis lapisan organik hingga membentuk rongga di dalam tanah. Ketika material di bawahnya habis terbakar, lapisan tanah di atasnya kehilangan penopang dan akhirnya melesak, menyisakan lubang yang dapat mengeluarkan asap serta pijar api.

“Saat lapisan organik di dalam tanah habis terbakar, struktur tanah di atasnya melesak dan membentuk rongga atau lubang yang mengeluarkan asap serta pijar api. Sifatnya yang tersembunyi dan minim radiasi panas tinggi di permukaan membuat api bawah tanah ini sulit terdeteksi oleh citra satelit pemantau hotspot biasa,” jelasnya.

Karakteristik tersebut membuat penanganan karhutla di lahan gambut memerlukan metode khusus. Pemadaman tidak cukup hanya dengan membasahi permukaan lahan karena bara api masih dapat bertahan di lapisan bawah tanah.

Menurut Berton, salah satu upaya yang dilakukan ialah pembasahan menyeluruh hingga ke lapisan gambut yang terbakar melalui teknik penyuntikan air.

“Untuk menangani fenomena tersebut, pemadaman dilakukan melalui pembasahan total (ground soaking) dengan teknik penyuntikan air (water injection) menembus kedalaman gambut menggunakan pipa bertekanan tinggi,” ujar Berton.

Optimalkan Modifikasi Cuaca

Selain pemadaman langsung, BNPB juga mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta TNI apabila kondisi memungkinkan. Operasi ini bertujuan memicu hujan buatan untuk membantu membasahi wilayah terdampak, terutama titik kebakaran yang sulit dijangkau oleh satuan tugas di darat.

“Bila memungkinkan, langkah ini dikombinasikan dengan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) bersama BMKG dan TNI untuk memicu hujan buatan di titik-titik yang sulit dijangkau satgas darat,” katanya.

Upaya pencegahan juga dilakukan melalui pembangunan sumur bor dan penutupan sekat kanal untuk menjaga tinggi muka air tanah. Dengan kondisi gambut yang tetap basah, risiko lahan terbakar diharapkan dapat ditekan.

Di sisi lain, masyarakat diminta berhati-hati ketika berada di kawasan yang terdampak karhutla. Permukaan tanah yang terlihat padat belum tentu aman karena bisa menyembunyikan rongga akibat pembakaran material organik di bawahnya. Struktur tanah yang rapuh berisiko ambles dan membahayakan warga yang melintas.

“Selain itu, pengerjaan sumur bor serta penutupan sekat kanal terus dioptimalkan guna menjaga tinggi muka air tanah tetap basah. Membatasi akses masyarakat ke lokasi terdampak jadi penting karena struktur tanah yang tersisa sangat rapuh dan rawan ambles, sehingga berisiko membuat warga terperosok ke dalam rongga bara panas,” pungkasnya.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6