Ahli Ungkap Alasan Kebakaran Hutan di Lahan Gambut Sulit Dipadamkan

Petugas perlu memastikan bara di dalam lapisan gambut benar-benar padam agar kebakaran tidak kembali muncul.

Diterbitkan 13 Oktober 2026, 10:35 WIB
Copy Link
Batalkan
Jadi intinya...
  • Karhutla gambut sulit dipadamkan karena api membara di bawah tanah (smouldering combustion).
  • Pemadaman terhambat oleh api tersembunyi, kurangnya air, akses sulit, dan angin kencang.
  • Pencegahan efektif dengan menjaga gambut tetap basah, lebih baik daripada memadamkan api.

Liputan6.com, Jakarta - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut menjadi tantangan dalam penanggulangan bencana. Sebab, api tidak hanya membakar vegetasi di permukaan, tetapi juga dapat bertahan di bawah tanah sehingga sulit dipadamkan sepenuhnya.

Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) sekaligus Dosen Magister Manajemen Bencana SPPB Universitas Indonesia (UI), Daryono, menjelaskan bahwa gambut yang mengering dapat mengalami smouldering combustion, yakni pembakaran membara tanpa nyala api yang jelas di bawah permukaan.

"Akibatnya, permukaan tanah yang terlihat tidak lagi mengeluarkan api belum tentu menunjukkan bahwa kebakaran telah benar-benar padam. Bara dapat tetap bertahan di lapisan gambut dan berpotensi kembali memicu kebakaran permukaan apabila kondisi mendukung," kata Daryono dalam keterangannya, Selasa (13/10/2026).

Menurut Daryono, kondisi tersebut membuat pemadaman tidak cukup dilakukan dengan mematikan kobaran api yang terlihat.

Petugas perlu memastikan bara di dalam lapisan gambut benar-benar padam agar kebakaran tidak kembali muncul.

Ia menyebut sejumlah kendala utama dalam pemadaman kebakaran gambut, mulai dari api yang tersembunyi di bawah permukaan, keterbatasan sumber air, hingga sulitnya akses menuju lokasi kebakaran.

"Pada puncak musim kemarau, ketersediaan air untuk pembasahan dapat berkurang. Banyak kawasan gambut juga berada di wilayah terpencil dengan keterbatasan akses kendaraan dan peralatan," ungkapnya.

Selain itu, angin dapat mempercepat penyebaran api di permukaan sekaligus membawa asap ke wilayah yang lebih jauh. Pemadaman menggunakan pengeboman air dari udara juga memiliki keterbatasan karena belum tentu mampu menjangkau seluruh bara yang tersisa di lapisan gambut.

"Karena itu, penanganan kebakaran gambut membutuhkan pembasahan yang memadai, pengelolaan tata air, pemantauan kondisi bawah permukaan, dan pemeriksaan berulang untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa," kata Daryono.

 

Gambut Mengering, Risiko Kebakaran Meningkat

Selain karakteristik api, kondisi ekosistem turut menentukan kerentanan lahan gambut terhadap kebakaran. Daryono menjelaskan, gambut dalam kondisi alami yang basah relatif sulit terbakar.

Namun, ketika mengering akibat gangguan tata air atau penurunan muka air tanah, risiko kebakaran meningkat.

Faktor iklim dan cuaca juga dapat memperburuk kondisi tersebut, terutama saat terjadi kekeringan berkepanjangan. Temperatur tinggi, kelembapan udara rendah, dan angin kencang dapat mempercepat penyebaran api ketika kebakaran terjadi.

"Namun, perlu dipahami bahwa kekeringan bukan berarti kebakaran pasti terjadi. Kekeringan terutama meningkatkan kerentanan lingkungan terhadap sumber penyulutan api," ujar Daryono.

Selain faktor cuaca dan kondisi lahan, aktivitas manusia juga berkontribusi terhadap risiko karhutla. Aktivitas tersebut antara lain penggunaan api untuk pembukaan atau pengelolaan lahan, kejadian yang tidak disengaja, maupun kelalaian manusia.

Daryono menekankan, penanganan kebakaran gambut tidak cukup hanya mengandalkan operasi pemadaman setelah api muncul. Upaya pencegahan perlu dilakukan dengan menjaga kondisi lingkungan agar tidak mudah terbakar.

"Prinsip terpenting dalam mitigasi kebakaran gambut adalah mempertahankan kondisi hidrologis gambut agar tetap basah. Mencegah gambut mengering umumnya jauh lebih efektif daripada memadamkan kebakaran setelah api berkembang luas," kata Daryono.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6