Liputan6.com, Jakarta - Rombongan Persib Bandung U-18 diserang oknum suporter berinisial J di Rest Area Batang KM 360 pada Minggu (11/10) malam. Insiden ini disertai kekerasan dan penjarahan yang menyasar ofisial tim.
Salah seorang ofisial, Pandu Persada, mengatakan peristiwa bermula saat bus berhenti di lokasi tersebut, tak jauh dari kerumunan suporter J yang baru pulang usai menonton timnya bermain di Yogyakarta. Ia turun bersama rekannya, Ridwan, yang sempat mengingatkan agar lebih berhati-hati. Pandu mengaku tak menaruh curiga karena merasa tidak mengusik siapa pun.
"Kita enggak ganggu," kata Pandu Persada di Balai Kota Bandung, Senin (12/10).
Advertisement
Saat hendak kembali, Pandu melihat bus sudah dikerumuni. Ia juga mendapati Ridwan ditarik oleh salah seorang dari kelompok tersebut. Pandu mencoba melerai dan meminta Ridwan masuk ke bus, hingga rekannya itu berhasil kembali ke dalam.
Setelah tertinggal di luar, Pandu mengaku diminta membuka jersey Persib yang ia kenakan. Usai menanggalkan baju, ia mengaku dikeroyok dan disuruh pergi. Pandu lalu mencari perlindungan kepada petugas rest area.
"Sampai akhirnya saya jatuh, terus salah satu di antara mereka akhirnya ada yang minta saya pergi. Nah di situlah yang akhirnya saya bisa melarikan diri, menyelamatkan diri," kata dia.
"Di situ ada salah satu tempat tambal ban, nah saya lari ke situ. Ya, Alhamdulillah teman-teman di sana, petugas di sana mau bantu, kooperatif, saya bisa aman sih," lanjut dia.
Pandu berharap polisi mengusut tuntas kasus tersebut. Menurut informasi yang ia terima, ada salah seorang pelaku yang telah ditangkap, namun para penyerang menutup wajah sehingga sulit dikenali.
"Orang-orangnya juga ditutup wajahnya. Jadi memang enggak bisa dikenali. Mudah-mudahan itu benar. Ya mudah-mudahan ini jadi kabar baik lah buat kami di tim," kata dia.
Pelatih Ungkap Intimidasi dan Pelemparan ke Bus
Di lokasi yang sama, Pelatih Persib U-18, Tito Agung Setiawan, menuturkan rombongan biasa beristirahat secara acak saat menempuh perjalanan jauh dan tidak menyadari ada kelompok suporter J yang juga beristirahat di lokasi itu.
"Kita tidak menyadari bahwa memang ada rombongan yang dari suporter, suporter yang memang sedang melakukan istirahat juga di rest area 360," ujar dia.
Tito menyebut Pandu saat itu mengenakan jersey Persib. Hal tersebut diduga menjadi pemicu kelompok itu masuk ke dalam bus dan memprovokasi ofisial serta pemain dengan kata-kata kasar sambil memaksa mereka turun. Menurutnya, rombongan tidak merespons provokasi tersebut.
"Ada satu dua orang yang masuk ya sambil mengkonfrontasi mengintimidasi lah, memprovokasi kita, memaksa kita untuk turun dengan kata-kata kasar juga. Kita tidak terpancing," kata dia.
Ia menambahkan bus sempat dilempari batu hingga kaca pecah, dan serpihan mengenai beberapa pemain serta ofisial. Rombongan kemudian memutuskan meninggalkan lokasi untuk mencari bantuan dan melapor ke kantor polisi terdekat.
"Kami memutuskan untuk bus keluar dulu untuk mencari bantuan, bantuan Polsek setempat. Kita menemukan Polresta Batang waktu itu, kami melaporkan telah terjadi kejadian seperti ini, akhirnya ditindaklanjuti Polresta Batang untuk menjemput rekan kami (Pandu) yang memang tertinggal di rest area 360," jelas dia.
Menurut Tito, peristiwa tersebut membuat para pemain mengalami trauma, sementara kompetisi tandang masih menanti. Ia meminta adanya pengawalan aparat saat tim bertanding di luar kota.
"Harus ada pendampingan, harus ada perwakilan dari TNI, dari Polri, itu sangat memberikan rasa aman buat kami, untuk tetap melakukan pembinaan sepak bola ini, untuk terus menjalankan kompetisi yang memang harus memang kita lalui ini," kata dia.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348624/original/061599100_1789451727-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-15T125442.652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371648/original/023919200_1791798014-Cek_fakta_-_Lesti_kejora_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371326/original/098310100_1791783590-cek_fakta_bonus_timnas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371262/original/060653500_1791780398-Your_paragraph_text__3_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371692/original/080681300_1791799974-IMG_20261012_170304.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1304107/original/025769200_1470039203-Persib.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9371001/original/004173100_1791721798-WhatsApp_Image_2026-10-11_at_6.54.17_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5582945/original/056926200_1778132999-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4192232/original/046280400_1665758549-IMG_20221014_193652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4953473/original/059895800_1727324477-Screenshot__199_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3439060/original/027890100_1619331962-WhatsApp_Image_2021-04-25_at_08.18.15.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5501317/original/009183900_1770893383-Foto_Ilustrasi__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9364651/original/002458200_1791013905-A6_00020.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363979/original/062618200_1790927438-WhatsApp_Image_2026-10-02_at_14.34.23.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363541/original/082820800_1790873841-Foto_2.jpg.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363423/original/047017100_1790859858-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_6.58.42_PM__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)