Sukses

Zamrisyaf, Pembuat Pembangkit Listrik Sederhana di Padang

Liputan6.com, Padang: Sumatra Barat 20 tahun silam. Saat itu, banyak desa di Ranah Minang belum mendapat sambungan listrik. Keadaannya masih gelap di sana-sini. Bahkan, warga di pelosok masih takut keluar rumah di malam hari karena listrik belum terpasang seperti sekarang ini.

Di pertengahan 1982, kondisi ini berangsur-angsur berubah. Hal ini karena Zamrisyaf, pemuda Desa Sitalang, Kabupaten Agam, yang berhasil membuat pembangkit listrik dari kincir angin. Karyanya langsung membuat gempar masyarakat Sumbar, mengingat Zamrisyaf bukan sarjana teknik elektro atau doktor di bidang kelistrikan. Dia hanya lulusan Sekolah Teknologi Menengah Muhammadiyah Padang jurusan mesin yang resah dengan kondisi daerahnya yang gelap gulita. Dia juga bukan orang yang mengetahui seluk-beluk pembangkit listrik. Modalnya cuma satu: tekad yang kuat untuk menerangi Sumbar.

Keberhasilan Zamrisyaf kontan memancing perhatian para pejabat di Sumbar, dari gubernur sampai camat. Pujian terucap, janji-janji pun terlontar. Ironisnya, janji-janji itu tak pernah ada realisasinya. "Saat itu gubernur sangat respons sekali. Banyak pejabat yang datang melihat proyek ini. Bahkan, mereka juga berjanji dan ditulis media massa. Orang kampung saya membacanya. Karena tak ada realisasinya, orang kampung menyangka saya yang berbohong," kata Zamrisyaf.

Merasa dibohongi, Zamrisyaf pun kecewa. Dia akhirnya pergi ke Malaysia karena tak tahan diejek para tetangga. Kabar baik didapat justru saat dia masih menjadi pendatang haram di Negeri Jiran. Zamrisyaf mendapat penghargaan Kalpataru dari Menteri Lingkungan Hidup pada 1983. Oleh orang tuanya, dia kemudian diminta pulang ke Indonesia.

Penghargaan Kalpataru membuat pejabat di Sumbar mulai membuka mata. Gubernur Sumbar kemudian menitipkan Zamrisyaf bekerja di Perusahaan Listrik Negara Proyek Induk Pembangkit dan Jaringan (Pikitring) Sumbar-Riau. Kesempatan ini tak disia-siakannya. Dia kemudian menimba ilmu dari beberapa ahli di PLN untuk menyempurnakan pembangkit listrik di Sumbar. Waktu berjalan, Zamrisyaf pun mulai mengganti ratusan kincir listriknya dengan turbin. Karyanya ini dengan cepat menyebar ke pelosok Sumbar.

Seiring perkembangan zaman, aliran listrik PLN mulai masuk ke Sumbar. Ini membuat hasil karya Zamrisyaf ditinggalkan. Namun, dia tak berhenti di sini. Di pertengahan 2003, Zamrisyaf kemudian membuat pembangkit listrik tenaga gelombang laut sistem bandulan. Lagi-lagi karyanya dirancang dengan modal nekat dan biaya sendiri.

Akhir September silam, temuannya ini diujicobakan. Menurut Zamrisyaf, pembangkit listrik tenaga gelombang laut sistem bandulan masih bisa dikembangkan. Sayangnya, hingga kini belum ada sponssor yang mau membiayainya, bahkan dari PLN tempatnya bekerja. "Proyek ini jelas perlu biaya, perlu sponsor agar bisa terus berkembang," ujar Zamrisyaf.

Harapan Zamrisyaf tak banyak: proyeknya bisa diteruskan hingga bermanfaat untuk orang banyak. Apalagi, sistem portabel adalah yang pertama di dunia. Sistem yang memungkinkan pembangkit listriknya digunakan di daerah-daerah kepulauan yang tak terjangkau jaringan PLN. Bila proyeknya tak jalan, dia khawatir kejadian 20 tahun silam akan terulang lagi, yakni pujian datang tapi tidak ada yang mengucurkan dana untuk mengembangkannya.(ULF/Deni Risman)

    Live Streaming EMTEK GOES TO CAMPUS 2018 di Surabaya

    Tutup Video