Sukses

Journal: Sisi Gelap Medsos, Konten Dibayar Nyawa

Liputan6.com, Jakarta - Dua remaja melompat ke tengah jalan. Satu dari kanan, satu lagi dari kiri. Secara bersamaan, sebuah truk melintas dan tabrakan tak terhindarkan. Cuma satu remaja yang selamat. Satunya lagi mati konyol.

Peristiwa tersebut terjadi di Cisauk, Kabupaten Tangerang, Banten pada 5 Agustus 2021 pukul 05.30 WIB. Aksi mereka sengaja direkam dari seberang jalan dan videonya viral di media sosial (medsos).

Belakangan diketahui aksi berbahaya dua remaja itu untuk kepentingan konten tantangan di medsos. Aksi pengadangan truk oleh kelompok remaja sesungguhnya telah berulangkali terjadi dan memakan korban jiwa seperti di Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi dan Pamulang, Tangerang Selatan.

Para remaja itu mati konyol. Membayar nyawa demi konten 'Challenge Malaikat Maut' di media sosial TikTok. Setelah merekam aksi menantang maut mengadang truk yang sedang melintas, lantas mereka mengunggahnya di media sosial.

Sementara itu, di Bali, gadis berinisial RR ditangkap polisi setelah tampil bugil sambil masturbasi ketika melakukan siaran langsung (live) di akun media sosial, Mango. RR diketahui sengaja menampilkan konten porno dalam media sosialnya untuk meraup untung.

Demi konten, sebagian orang seakan tidak segan melakukan tindakan membahayakan nyawa dan melanggar norma. Bahkan, aksi para remaja juga merugikan pihak lain seperti sopir truk, yang tentu mesti berurusan dengan polisi usai menabrak remaja yang melakukan 'Challenge Malaikat Maut'.

Dari kasus tewasnya seorang remaja di Cikarang Utara saat melakukan 'Challenge Malaikat Maut', Kasat Lantas Polres Metro Bekasi AKBP Argo Wiyono, menyebut aksi sekelompok remaja yang mengadang truk belum dapat dijerat pidana. Sebab, tidak ada tindakan penyerta dari para remaja itu ketika mencegat truk yang tengah melintas.

"Tindakan penyerta contohnya pada saat mengadang truk, mereka melempar batu disertai ancaman atau perbuatan atau membawa pisau, nah itu masuk dalam keadaan terpaksa kan. Ini kan dari video-video yang ada, mereka lompat seolah-seolah mau nyetop," jelas Argo kepada wartawan kala itu.

Padahal, aksi sekelompok remaja ini jelas membahayakan keselamatan dan meresahkan masyarakat. Mereka seolah menempatkan konten media sosial di atas segalanya. Lalu, sebenarnya apa motivasi utama mereka melakukan tindakan-tindakan nekat? Apakah semata-mata demi konten yang viral atau ada alasan lain.

Konten berbahaya di medsos (Liputan6.com / Triyasni)

Aturan Konten Sensitif

Aturan mengenai konten yang sensitif sebenarnya juga ada di dalam Undang-Undang No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Di dalam UU ITE terdapat Pasal-Pasal yang berisi Perbuatan Yang Dilarang (dilakukan terkait dengan Internet atau Siber), Kewajiban Pemerintah memfasilitasi pemanfaatan teknologi Informasi dengan baik, serta dalam kondisi tertentu apabila diperlukan pemutusan akses terkait dengan Pasal 40 ayat 2a pada UU No 11 Tahun 2016 yang memuat Revisi UU ITE.

Dalam pengelolaan penanganan konten negatif, dilakukan klasifikasi untuk kemudahan pengelolaannya. Berikut sederet ragam konten di bawah ini bisa diadukan ke Kementerian Komunikasi dan Informatika.

1. Informasi/dokumen elektronik yang melanggar Peraturan Perundang-Undangan

a. Pornografi/Pornografi Anak; b. Perjudian; c. Pemerasan; d. Penipuan; e. Kekerasan/Kekerasan Anak; f. Fitnah/Pencemaran Nama Baik; g. Pelanggaran Kekayaan Intelektual; h. Produk dengan Aturan Khusus; i. Provokasi SARA; j. Berita Bohong; k. Terorisme/Radikalisme; l. Informasi/Dokumen Elektronik Melanggar UU

2. Informasi/dokumen elektronik yang melanggar norma sosial yang berlaku di masyarakat

a. Informasi/dokumen elektronik yang meresahkan masyarakat

b. Informasi/dokumen elektronik yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kepantasan untuk ditampilkan di muka umum

3. Informasi elektronik/dokumen elektronik tertentu yang membuat dapat diaksesnya konten negatif yang terblokir (web proxy, open proxy, open browser dan lainnya).

2 dari 5 halaman

FoMo Mendarah Daging

Pengamat Media Sosial, Abang Edwin Syarif Agustin, menilai fenomena rela membahayakan nyawa demi konten sangat menyedihkan. Ia tak habis pikir banyak pengguna medsos yang gelap mata hanya demi konten.

Edwin mencontohkan, tidak hanya di Indonesia, di luar negeri juga banyak konten yang merenggut nyawa. Ada orang yang jatuh dari tebing hanya untuk selfie. Lalu ada juga orang yang nekat foto di sebelah singa.

"Bagi saya yang terjadi sekarang sudah bisa ditebak. Ini karena FoMo (fear of missing out) sudah mendarah daging ke anak-anak yang sekarang, sehingga kalau tidak jadi yang pertama dan terdepan, you're nobody," kata Edwin kepada Liputan6.com.

FoMo adalah sebuah fenomena kecemasan yang dirasakan seseorang. Kecemasan tersebut terkait perasaan takut ketinggalan atau tertinggal suatu keseruan yang terjadi di sekitarnya. Alhasil orang tersebut terdorong ingin membuat konten mengikuti tren yang ada meski berbahaya.

Edwin menilai, banyak pengguna medsos saat ini, terutama anak muda, yang berlebihan dan terlalu mengagungkan konten. Mereka rela melakukan apapun, termasuk membahayakan nyawa sendiri dan orang lain, hanya demi konten.

"Jadi yang mereka kejar itu viralnya, followers yang membengkak. Itu jadi currency yang arahnya ke sana."

Data platform media sosial yang digunakan di Indonesia (we are social / hootsuite)

Tak Harus Dibayar Nyawa

Ia mengatakan, konten yang bagus tak harus dibayar dengan nyawa atau membahayakan nyawa orang lain. "Kalau viral, tapi kita mati, ya enggak worth it sama sekali. Banyak anak muda yang tidak mikir sejauh itu. Ini fenomena yang mesti diluruskan."

Menurut dia, platform media sosial seperti Facebook atau Instagram sebenarnya sudah memiliki kebijakan untuk menghentikan konten-konten yang berbahaya, yakni dengan proactive dan reactive.

"Kalau reactive itu mengandalkan community reporting. Jadi, kalau kita melihat konten yang melanggar guidelines, kita bisa melaporkan itu. Kemudian platform akan bereaksi berdasarkan laporan kita. Kalau proactive itu tak mungkin bisa dilakukan platform sendirian karena ada jutaan konten. Jadi harus dibantu community reporting."

Ia mengatakan, setiap platform medsos juga memiliki divisi untuk melakukan suspend akun. "Biasanya itu by keyword, jadi kalau ada kata-kata yang tidak bagus atau berbahaya, mesin akan menangkap, dan otomatis akun di-suspend. Cuma masalahnya, mesin kan susah mengenali bahasa manusia, jadi banyak yang salah juga," tambah Dosen Podomoro University tersebut.

3 dari 5 halaman

Bisnis Jual Beli Followers

Tidak sedikit individu-individu yang haus popularitas dan berambisi menjadi sosok terkenal. Di media sosial, Anda bahkan bisa "membeli popularitas" itu sendiri sesuai pesanan. Ketika ada orang yang rela melakukan aksi nekat demi konten, hal itu jadi tidak mengejutkan lagi. Mereka yang jeli melihat peluang bisnis, tahu betul bagaimana memanfaatkan individu-individu tersebut.

Bisnis jual followers dan like media sosial bukan barang baru di Indonesia. Penjual followers dan like di Instagram dengan nama akun @wijaya_pratama_follmaxs.id, mengaku telah menggeluti bisnis ini sejak 2018.

Untuk tarif penjualannya disesuaikan dengan jumlah followers yang dipesan sebuah akun. Harga termurah yakni Rp 60 ribu, di mana Anda sudah bisa mendapatkan tambahan 500 followers, sedangkan untuk membeli 5.000 follower, Anda mesti menyiapkan dana Rp500 ribu. Untuk tarif menjual like sebuah postingan, Anda perlu membayar Rp35 ribu untuk memperoleh 500 like di sebuah postingan, tapi jika menginginkan 5.000 like harus merogoh kocek Rp250 ribu. Dalam sehari, ia bisa mendapatkan ratusan order.

Pelanggannya pun beraneka ragam, termasuk pula artis, selebgram, serta sejumlah akun yang sudah centang biru di Instragam. Namun, ternyata bisnisnya bukan hanya di Instagram, ia juga menjual followers di platform medsos lain seperti Facebook, Twitter, TikTok, dan YouTube. Malah, bisnisnya ini juga dimanfaatkan oleh mereka yang berjualan di platform E-Commerce.

"Kalau rame, sehari bisa dapat 3 sampai 7 juta rupiah. Sebulan kadang 60 juta rupiah," kata sosok yang enggan disebut namanya ini kepada Liputan6.com.

Ilustrasi Instagram. (USA-Reiseblogger / Pixabay)

Demi Pikat Konsumen

Menurut dia, saat situasi pandemi COVID-19 seperti sekarang, marak orang yang berjualan di media sosial dan jumlah followers yang banyak dinilai sebagai salah satu kunci memikat hati konsumen. Sebab, tidak sedikit orang yang mengartikan bahwa sudah banyak follower berarti dapat dipercaya.

Sementara itu, penjual followers lainnya di Instagram dengan nama akun @belifolowers_termurah1 mengaku masih tergolong baru di bisnis ini. Penghasilan sehari mencapai Rp200-600 ribu. Pelanggannya pun beragam, dari orang biasa sampai artis dan selebgram.

Dia memilih menjual followers di Instagram karena pendapatannya cukup bagus dan tidak melanggar hukum. Ia juga memberi jaminan penggantian apabila jumlah followers akun pelanggannya turun. "Ya senang bisa membantu orang yang ingin terlihat jadi selebritis," katanya kepada Liputan6.com.

Terkait fenomena beli followers, Edwin mengatakan, pada dasarnya medsos adalah media pamer. Dan salah satu yang bisa dipameri saat ini adalah jumlah followers.

Dengan memiliki banyak followers, maka pengguana medsos seakan-akan adalah seorang bintang, terkenal dan memiliki banyak fans. "Jadi kalau punya followers banyak, itu kita jadi kayak punya pengagum banyak."

Ini juga didorong oleh brand atau perusahaan yang mau beriklan pada akun medsos seseorang jika memiliki followers yang banyak.

"Nah orang-orang jadi makin berlomba-lomba karena bisa mendapat pemasukan dari iklan. Ujung-ujungnya ya bagaimana cara followers-nya banyak? Ya beli followers. Tapi kalau sekarang atau ke sininya brand juga lebih melihat ke engagement, seperti comment atau like. Kalau di luar negeri bahkan comment itu ada yang dibayar demi menaikkan engagement," ucap Edwin.

4 dari 5 halaman

Sisi Gelap Medsos

Nyaris 10 tahun terakhir ketika media sosial menjadi semakin besar pengaruhnya di kehidupan sehari-hari. Indonesia seperti diketahui juga merupakan negara pengguna media sosial terbesar keempat di dunia.

Dalam penelitian situs HootSuite dan agensi marketing, We Are Social bertajuk "Digital 2021: Global Overview Reports", Indonesia masuk 10 besar negara yang kecanduan media sosial. Indonesia menempati urutan kesembilan dari 47 negara yang diteliti.

Pakar Psikologi, Astrid WEN, berpendapat, fenomena aksi membahayakan nyawa yang dilakukan para remaja demi konten di media sosial merupakan tingkah laku extraversion. Individu jenis extraversion cenderung penuh semangat, antusias, dominan, ramah, dan komunikatif. Ia juga akan mengingat semua interaksi sosial, berinteraksi dengan lebih banyak orang, serta memegang kendali dalam hubungan dan peer group.

Dalam hal ini, para remaja ingin menunjukkan siapa dirinya untuk mendapatkan lebih banyak apresiasi atau penghargaan. Sebab, kata Astrid, bagi remaja, semakin banyak menunjukkan siapa dirinya berarti seolah-olah semakin banyak memperoleh perhatian. Apabila konteksnya media sosial, maka penghargaan yang diperoleh yakni dengan kian banyaknya mendapat like, viewer, followers, serta menjadi lebih populer.

Remaja juga termasuk kelompok usia pengguna media sosial paling banyak. Menurut Astrid, remaja sangat cepat menjalin pertemanan di dunia digital. Hal itu disebabkan karakteristik remaja yang bereksplorasi dan belum bisa mensortir siapa saja yang bisa menjadi teman, karena tingkat extraversion-nya tengah dijunjung tinggi.

"Mereka berpikir bahwa punya banyak teman itu sepertinya baik dan kalau remaja, antipasi terhadap suatu peristiwa yang bisa terjadi di jangka panjang itu tidak sekuat orang dewasa," katanya kepada Liputan6.com.

Data pengguna media sosial di Indonesia (we are social / hootsuite)

Naluri Coba-coba Remaja

Wanita yang mengambil gelar Magister Psikologi di Universitas Indonesia ini menerangkan, dari semua tahapan perkembangan manusia, remaja punya naluri untuk coba-cobanya paling tinggi. Biasanya, remaja mencoba semua nilai-nilai hidup yang dia miliki dari orang tua, karena mereka sedang menjalani transisi dari anak-anak ke dewasa.

Astrid juga mengungkapkan bagaimana perilaku remaja yang sangat willing to share the news, sehingga saat ada individu yang melakukan sesuatu dan ditaruh di media sosial, bisa cepat sekali mendapat perhatian sampai menjadi viral. Sementara untuk para remaja yang mencoba membuat konten untuk mendapat perhatian, terkadang faktor keselamatannya tidak dipikirkan dengan baik.

Praktisi Theraplay ini juga membeberkan bagaimana remaja memiliki adrenalin yang tinggi dan ditambah ego yang sedang besar-besarnya. Remaja juga tidak sekuat orang dewasa dalam mengukur bahaya dan belum bisa melihat perspektif orang lain. Seringkali remaja menyukai sesuatu setelah dia melihat sendiri dan mengetahui hal itu mendapat perhatian dan punya nilai, sehingga ingin mencobanya.

Fakta bahwa tidak sedikit remaja yang belum teredukasi mengenai media sosial dan internet jadi masalah lainnya. Astrid juga mengungkapkan bagaimana dampak psikologis manusia ketika mendapatkan exposure dari media sosial terlalu berlebihan.

Ilustrasi remaja (pexels.com/pixabay)

Penulis buku "Indahnya Pengasuhan dengan THERAPLAY" ini berpendapat, melihat media sosial terlalu banyak artinya membiarkan konten dengan berbagai beban emosi, berbagai nilai, dan berbagai perspektif itu masuk ke dalam otak dalam waktu singkat. Padahal, semua yang masuk ke dalam otak perlu waktu memprosesnya sebelum masuk ke hati.

Dia menggambarkan ketika seorang individu memainkan Instagram dan dalam waktu singkat otaknya menerima banyak beban emosi usai melihat beberapa akun teman yang berbeda dengan situasi beragam seperti sedang berduka, sedang makan enak, dan sedang di depan hotel mewah.

"Kita saja yang dewasa masih belum aware, apalagi remaja yang memiliki kerentanan dalam menerima beban emosi. Memang secara hormon badannya masih transisi, jadi kaya belum stabil menerima banyak konten dan beban emosi dalam waktu yang sangat singkat," tutur Astrid.

5 dari 5 halaman

INFOGRAFIS