Sukses

5 Hal Terkait Ditunjuknya Faldo Maldini Jadi Stafsus Menteri

Liputan6.com, Jakarta - Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Faldo Maldini ditunjuk sebagai Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Media Menteri Sekretaris Negara (Stafsus Mensesneg).

Sebelumnya, Faldo Maldini merupakan Juru Bicara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Dirinya pun dikenal banyak menyerang dan mengkritik kebijakan Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat debat Pilpres kala itu.

Ditunjuknya Faldo sebagai Stafsus Menteri itu pun ditanggapi politikus PKB yang juga mantan wakil ketua timses Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019 Abdul Kadir Karding.

Karding menilai seyogyanya Faldo tidak mengambil jalan ini karena kerap menyerang pribadi Jokowi saat berbeda pilihan dalam Pilpres.

"Dulu mungkin dia mengkritik Jokowi karena dia ada di PAN yang berbeda dengan koalisi 01. Tapi apa pun itu kalau menurut saya, sebagai aktivis ini, kalau misal saya agak berat ya. Karena dulu yang dikritik bukan kebijakan saja, tapi kepada orangnya," ujar Karding, Selasa, 27 Juli 2021.

Kendatai demikian, Faldo mengatakan penunjukan dirinya sebagai Stafsus Mensesneg merupakan panggilan negara yang harus dipenuhi.

"Ini panggilan merah putih. Kami siap sparing dan datang kalau diminta oleh negara," ujar Faldo Maldini.

Berikut sederet hal terkait ditunjuknya Faldo Maldini menjadi Stafsus Menteri dihimpun Liputan6.com:

 

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

2 dari 6 halaman

Sempat Jadi Jubir Prabowo Subianto-Sandiaga Uno di Pilpres 2019

Sebelum ditunjuk sebagai Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Media Menteri Sekretaris Negara (Stafsus Mensesneg), Faldo Maldini merupakan juru bicara Prabowo Subianto–Sandiaga Uno pada saat Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019.

Faldo pun dulu dikenal kerap menyerang kebijakan dan pribadi Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat berbeda pandangan politik.

 

3 dari 6 halaman

Ditanggapi Eks Timses Jokowi-Ma'ruf

Politikus PKB yang juga mantan Wakil Ketua Timses Jokowi-Ma'ruf di Pilpres 2019, Abdul Kadir Karding menilai seyogyanya Faldo Maldini tidak mengambil jalan menjadi Stafsus Menteri. Karena dia kerap menyerang pribadi Jokowi saat berbeda pilihan dalam Pilpres.

"Dulu mungkin dia mengkritik Jokowi karena dia ada di PAN yang berbeda dengan koalisi 01. Tapi apa pun itu kalau menurut saya, sebagai aktivis ini, kalau misal saya agak berat ya. Karena dulu yang dikritik bukan kebijakan saja, tapi kepada orangnya," ujar Karding, Selasa 27 Juli 2021.

Dengan masuk ke gerbong pemerintahan, kata Karding, Faldo berada dalam posisi yang berat. Dia harus mengabdi kepada orang yang dulu dikritiknya.

"Jadi kalau saya pribadi melakukan hal seperti itu mungkin berat ya, karena mengabdi pada orang yang saya hajar dan itu seluruh Indonesia tahu. Saya punya rasa enggak mungkin sampai, agak sulit bagi saya," katanya.

"Itu kalau saya, kalau Faldo saya enggak tahu ya," imbuhnya.

Karding menduga, pengangkatan Faldo Maldini karena koneksinya sebagai politikus PSI saat ini. Faldo diketahui menjabat sebagai Ketua DPW PSI Sumatera Barat. Sejak akhir 2019 lalu, ia mengundurkan diri dari PAN.

"Mungkin itu dia masuk ke sana rekomendasi PSI," jelas dia.

 

4 dari 6 halaman

Diangkat Jadi Stafsus Menteri Per 14 Juli 2021

Faldo Maldini pun mengaku, penunjukan dirinya sebagai Stafsus Menteri adalah sebuah panggilan negara.

"Ini panggilan Merah Putih. Kami siap sparing dan datang kalau diminta oleh negara," ujar Faldo kepada wartawan, Selasa 27 Juli 2021.

Faldo ditunjuk sebagai Stafsus Bidang Komunikasi dan Media. Ia diangkat terhitung sejak 14 Juli 2021.

"Penugasan kami per 14 Juli 2021 sebagai Staf Khusus Mensesneg bidang komunikasi dan media. Kalau teman-teman media ingin diskusi, silakan jangan ragu-ragu kontak kami. Saya sudah beli tiga power bank baru. Mudah-mudahan cukup," ujar Faldo.

 

5 dari 6 halaman

Anggap Wajar dan Tak Masalah Jika Masyarakat Tak Move On

Faldo Maldini dikenal kerap menyerang kebijakan dan pribadi Presiden Joko Widodo atau Jokowi saat berbeda pandangan politik.

Menurut dia, Pilpres adalah tempat terbaik untuk menguji program dan kebijakan pasangan capres-cawapres sehingga wajar apabila terjadi debat.

"Kalau saya tidak kritis saat itu, tentu lebih aneh. Kami bukan musuh, kita semua anak bangsa. Jangankan abis Pilpres, abis debat di TV saja kami langsung pelukan," kata Faldo saat dikonfirmasi Liputan6.com, Rabu (28/7/2021).

"Kalau ada yang belum move on, ya wajar saja. Kan tidak bisa kita paksa orang sama seperti kita," sambung dia.

 

6 dari 6 halaman

Siap Banyak Komunikasi dengan Media

Faldo mengaku akan banyak berdiskusi dengan media usai ditunjuk menjadi Stafsus Mensesneg.

Dirinya menyebut jabatan ini merupakan panggilan merah putih serta amanah dari negara.

"Kami berharap ditemani (media) untuk memenangkan menit-menit tersisa. Menyampaikan semua progres yang dilakukan oleh pemerintah dan inisiatif masyarakat, bukan hanya untuk bertahan, tetapi juga untuk memenangkan pertarungan ini," jelas Faldo Maldini.

 

(Deni Koesnaedi)