Sukses

Di KTT D-8, Jokowi: Nasionalisme Vaksin Covid-19 Meningkat, Ini Harus Kita Tolak

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengajak negara-negara anggota D-8 terus mendorong akses yang adil terhadap vaksin Covid-19. Pasalnya, saat ini satu negara masih mengamankan stok vaksin pertama untuk kepentingan warga negaranya sendiri atau disebut nasionalisme vaksin.

Hal ini disampaikan Jokowi saat menyampaikan pidato secara virtual dari Istana Negara, Jakarta, pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-10 D-8. KTT ini digelar di Dhaka, Bangladesh dan diikuti oleh delapan kepala negara atau kepala pemerintahan negara-negara anggota.

"Ketersediaan dan keterjangkauan vaksin merupakan kunci untuk keluar dari krisis. Namun, saat ini kita saksikan meningkatnya nasionalisme vaksin. Ini harus kita tolak. Kita harus mendukung vaksin multilateral," tegas Jokowi dikutip dari siaran pers Sekretariat Presiden.

Menurut dia, vaksin Covid-19 adalah barang publik global di saat pandemi. Untuk itu, dunia perlu bersatu untuk memproduksi vaksin untuk semua masyarakat agar pandemi Covid-19 segera berakhir.

Artinya, dunia harus dapat menggandakan kapasitas produksi vaksin. Dalam hal ini, tidak boleh ada pembatasan terhadap produksi dan distribusi vaksin.

"Di sinilah D-8 bisa berperan dalam menawarkan kapasitas produksi yang dimilikinya untuk meningkatkan produksi, mendorong akses yang sama terhadap vaksin, dan mendorong transfer teknologi," jelas dia.

Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia dan beberapa negara-negara anggota D-8 juga tengah mengembangkan produksi vaksin Covid-19 sendiri. Dia pun berharap agar nantinya negara D-8 dapat membuka kerja sama vaksin.

"D-8 harus membuka kerja sama pengembangan dan produksi vaksin ke depan," ucap Jokowi.

Di KTT ini, dia juga mengajak negara-negara D-8 berkontribusi pada pemulihan ekonomi global. Dengan potensi perdagangan antarnegara anggota yang melebihi USD1,5 triliun, Jokowi meyakini D-8 dapat berkontribusi besar dalam pemulihan ekonomi global.

"Fasilitasi perdagangan intranegara D-8 harus didorong, hambatan perdagangan harus diminimalisir, intensifikasi intraperdagangan antarnegara anggota D-8 adalah kunci. Ini akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi," tutur dia.

2 dari 3 halaman

Pengembangan Teknologi Digital

Selain itu, Jokowi berbicara soal pengembangan teknologi digital. Dia mengatakan bahwa digitalisasi, artificial intelligence, computing power, big data, data analytics telah melahirkan terobosan-terobosan baru dan merupakan ekonomi masa depan.

Oleh sebab itu, D-8 didorong untuk memanfaatkan teknologi tersebut demi menyejahterakan rakyat setiap negara anggota. Jokowi menilai negara D-8 memiliki potensi yang besar, keunggulan demografi penduduk muda D-8 sekitar 323 juta orang atau sekitar 27,3 persen.

Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan jumlah penduduk muda negara G-7 sebesar 135 juta atau sekitar 17,3 persen dari total populasi. Jokowi menyebut bahwa investasi kepada kaum muda merupakan investasi untuk masa depan.

"Untuk itu, inovasi harus terus ditumbuhkan, industri start-up harus terus didorong. Keunggulan D-8 sebagai negara mayoritas muslim harus dimanfaatkan. Pengembangan industri start-up berbasis syariah dapat dikembangkan," tutur Jokowi.

Sebagai informasi D-8 beranggotakan delapan negara-negara berkembang. Kedelapan negara tersebut antara lain, Bangladesh, Indonesia, Iran, Malaysia, Mesir, Nigeria, Pakistan, dan Turki.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: