Sukses

5 Hal Terkait Obat Covid-19 Baru Buatan Unair

Liputan6.com, Jakarta - Universitas Airlangga (Unair) membuat kombinasi obat sebagai obat baru untuk pasien virus Corona Covid-19.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair Purwati mengklaim, obat baru Covid-19 buatan Indonesia memiliki efektivitas tingkat kesembuhan yang tinggi bagi pasien Covid-19.

Obat Covid-19 yang belum diberi nama tersebut merupakan hasil penelitian Unair Surabaya bersama TNI Angkatan Darat (AD), Badan Intelijen Negara (BIN), dan Polri.

"Efikasi obat tadi sudah kami paparkan. Untuk perbaikan klinis dalam 1 sampai 3 hari itu 90 persen," ujar Purwati, Sabtu, 15 Agustus 2020.

Saat ini, Unair pun telah menyelesaikan uji klinis tahap ketiga obat penawar untuk penanganan pasien Corona Covid-19.

Mengingat obat ini merupakan obat baru, maka kini sudah masuk tahap izin produksi dan izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Berikut 5 hal terkait obat baru untuk pasien virus Corona Covid-19 buatan Unair dihimpun Liputan6.com:

 

2 dari 7 halaman

Miliki Efektivitas Tinggi

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Universitas Airlangga (Unair) Purwati mengklaim obat baru Covid-19 buatan Indonesia memiliki efektivitas tingkat kesembuhan yang tinggi bagi pasien Covid-19.

Obat tersebut diyakini mampu membunuh virus mencapai 90 persen setelah diberikan kurun waktu 1-3 hari.

"Efikasi obat tadi sudah kami paparkan. Untuk perbaikan klinis dalam 1 sampai 3 hari itu 90 persen," ujar Purwati, Sabtu, 15 Agustus 2020.

Dia menyebut efektivitas obat ini diuji berdasarkan hasil pemeriksaan PCR. Bahkan dalam sejumlah kondisi, efektivitas obat ini bisa mencapai 98,9 persen yang artinya hampir seluruh virus bisa mati dalam waktu singkat.

 

3 dari 7 halaman

Hasil Penelitian Gabungan

Obat Covid-19 yang belum diberi nama tersebut merupakan hasil penelitian Universitas Airlangga (Unair) Surabaya bersama TNI Angkatan Darat (AD), Badan Intelijen Negara (BIN) dan Polri.

Purwati memastikan obat tersebut telah melalui uji klinis. Untuk uji klinis tahap 4 dilakukan setelah obat dipasarkan secara masal.

"Jadi uji klinis itu 1, 2, 3 dan 4. Dan 4 itu pos marketing evaluation obat-obat yang sudah dapat ijin edar maka setelah itu dilakukan kajian. Jadi untuk memperoleh izin edar itu jenisnya sampai 3," ujar dia.

 

4 dari 7 halaman

Efek Samping Obat

Selain itu, Purwati menyebut obat Covid-19 ini tidak berbahaya untuk dikonsumsi. Kendati tak berbahaya, dia mengaku obat ini memiliki efek samping seperti obat lainnya.

"Setiap sesuatu obat pasti ada efek sampingnya. Setidaknya uji toksisitas dari kombinasi obat yang kita lakukan, maka di situ efek samping ditemukan tidak terlalu toksit," kata dia.

Meski demikian, dia mengungkapkan, dosis obat ini lebih rendah dibanding tiga obat tunggal yang dikombinasikan oleh Unair. Kemudian hasil rekam jantung, liver, dan ginjal pasien selama tujuh hari terbilang aman.

"Alhamdulilah terjadi perbaikan daripada fungsi liver. Jadi relatif aman untuk digunakan," pungkas Purwati.

 

5 dari 7 halaman

Kombinasi 3 Obat dan Sudah Selesai Uji Klinis

Unair telah menyelesaikan uji klinis tahap ketiga obat penawar untuk penanganan pasien Covid-19.

"Karena ini akan menjadi obat baru maka diharapkan ini akan menjadi obat Covid-19 pertama di dunia," kata Rektor Unair Prof Mohammad Nasih.

Obat ini hampir dipastikan akan menjadi obat pertama untuk penyakit Covid-19 di dunia. Nasih menuturkan, obat baru ini merupakan hasil kombinasi dari tiga jenis obat.

Pertama, Lopinavir/Ritonavir dan Azithromycin. Kedua, Lopinavir/Ritonavir dan Doxycycline. Ketiga, Hydrochloroquine dan Azithromyci.

Di luar negeri tiga obat itu diberikan satu per satu kepada pasien. Kemudian tiga obat itu dikombinasikan oleh Unair menjadi satu obat.

Hasilnya efektifitas obat lebih dari 90 persen. Selain itu dosis yang dihasilkan lebih rendah dibanding apabila obat diberikan secara tunggal.

"Setelah kami kombinasikan daya penyembuhannya meningkat dengan sangat tajam dan baik. Untuk kombinasi tertentu itu sampai 98 persen efektivitasnya," imbuh Nasih seperti dikutip dari Antara.

Dalam melaksanakan uji klinis obat kombinasi tersebut, tim Unair tidak hanya melakukan pada satu pihak dan satu tempat saja.

Nasih menuturkan, tim Unair melakukan uji klinis pada 13 center di Indonesia dan masing-masing center dikoordinasi oleh salah seorang dokter profesional.

 

6 dari 7 halaman

Tunggu BPOM

Nasih menuturkan, pembuatan obat Covid-19 ini sudah dilakukan sejak Maret 2020. Seluruh prosedur yang dipakai telah mengikuti yang disyaratkan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Saat ini obat tersebut hanya tinggal menunggu izin edar dari BPOM sebelum diproduksi masal.

"Yang perlu ditekankan adalah untuk produksi dan edarnya kita tetap masih menunggu izin produksi dan edar BPOM. Artinya obat ini belum akan diproduksi sepanjang belum ada izin BPOM," jelas Nasih.

Nasih menjelaskan, obat Covid-19 ini sudah masuk tahap izin produksi dan izin edar. Obat tersebut merupakan kombinasi dari berbagai macam obat, sehingga BPOM menganggap sebagai sesuatu yang baru.

"Tentu karena ini akan menjadi obat baru, maka diharapkan ini akan menjadi obat COVID-19 pertama di dunia," tegas Nasih.

Nasih menuturkan, rujukan dari obat kombinasi yang ditemukan oleh tim gabungan menjadi obat Covid-19 tersebut merupakan berbagai macam obat tunggal yang telah diberikan kepada pasien Covid-19 di berbagai belahan dunia.

7 dari 7 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: