Sukses

HEADLINE: Tingkat Kematian Covid-19 di Indonesia Lampaui Global, Solusinya?

Liputan6.com, Jakarta - Saat membuka rapat Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional di Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengungkapkan kegusarannya terkait dampak covid-19. Dia mengungkapkan masyarakat kian khawatir dengan pandemi yang sudah bercokol di Indonesia sejak Maret 2020 lalu.

Jokowi juga menyoroti jumlah kematian pasien corona di Indonesia yang mencapai 5.302 orang. Angka itu dinilainya melebih rata-rata tingkat global, dengan selisih 0,8 persen.

Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr Adib Khumaidi mengaku prihatin dengan peningkatan angka kematian ini. Hampir satu bulan terakhir, kata dia, berita tentang orang wafat akibat Covid-19 masih terus ada. Terutama di daerah episentrum penyumbang pasien positif.

"Ada delapan provinsi yang menyuplai 74% kasus terkonfirmasi positif, belum lagi angka yang terpapar, OTG, (pasien) dirawat itu juga semakin tinggi," kata Adib kepada Liputan6.com, Jakarta, Senin (3/8/2020).

Menurutnya, permasalahan ini tidak bisa dipandang dari sisi hilirnya semata. Namun juga perlu memperhatikan dari segi hulunya, yang mana aktivitas masyarakat sudah mulai kembali berjalan.

"Juga masalah kepatuhan di dalam protokol yang rendah, aktivitas berkerumun yang masih terjadi, dan yang kita lihat angka yang terkonfirmasi positif jadi meningkat, angka pasien dirawat Covid akhirnya juga meningkat," ujar dia.

Meningkatnya jumlah pasien positif ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi tim medis dan tenaga kesehatan. Dia menilai potensi mereka untuk terpapar Covid-19 semakin tinggi.

"Ini perhatian bagi kami IDI dan saya kira juga pemerintah bahwa perlindungan dan keselamatan bagi mereka menjadi penting. Kita analogikan ini sebuah pasukan tempur, satu prajurit tempur hilang, sama saja kita kehilangan sumber daya dalam memenangkan peperangan, ini perlu dipahami juga," ujar dia.

Adib mengungkapkan beberapa faktor yang menyebabkan trend positif corona masih terus naik. Menurutnya, perlu menjadi upaya ke depan, selain sosialisasi dan edukasi, ketegasan aturan protokol kesehatan juga harus dilakukan. Tapi yang paling penting adalah bagaimana pemerintah membuat ketentuan di dalam tata kelola ruang, karena ada kluster potensi besar seperti perkantoran, mal, dan pasar.

Infografis Tingkat Kematian Covid-19 di Indonesia Lampaui Dunia. (Liputan6.com/Abdillah

"Perkantoran bukan hanya pembatasan jumlah, tapi apakah sudah memenuhi kaidah kesehatan belum? Sirkulasi udara, durasi rapat, menjaga jarak, itu sudah dilakukan belum? Itu faktor loh. Juga pola di pasar harus ada distancing," ujar dia.

Artinya, lanjut Adib, pemerintah tidak bisa meminta masyarakat mematuhi protokol tanpa membuat standarisasi dalam pengelolaan di kantor dan pasar tadi. "Perlu ada tekanan regulasi," tegas dia.

Adib memandang, solusi yang harus diambil untuk menekan jumlah kasus Covid-19 yaitu dengan membuat ketegasan aturan pengelolaan dan juga mengurangi kerumunan. Selain itu, juga mengedukasi komunitas yang sering berkumpul sebagai kontrol sosial.

"Kalau PSBB lagi, itu sulit juga bagi pemerintah. Itu sulit. Saat ini, masyarakat sudah kembali aktivitas, dan ekonomi juga (mulai berjalan)," ujar dia.

Hal senada juga disampaikan Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah. Menurut dia, jumlah kematian yang melampaui dunia ini harus menjadi perhatian bersama.

"Hal ini menjadi alert bagi kita semua bahwa COVID-19 ini bukan hal yang main-main terutama pada kelompok rentan. Kita masih memiliki PR untuk terus menurunkan angka kematian karena COVID-19 di Indonesia," ujar dia kepada Liputan6.com, Senin (3/8/2020).

Dewi menuturkan, kondisi ini dapat disebabkan beberapa faktor. Di antaranya banyak pasien COVID-19 baru datang ke faskes saat kondisi sudah memburuk. Selain itu, banyak masyarakat Indonesia yang memiliki NCD (non-communicable disease) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan sebagainya yang merupakan faktor komorbid pasien COVID-19 dan dapat memperburuk kondisi si pasien.

"Pemda harus memastikan jumlah tempat tidur, RS rujukan, kamar ICU, dan SDM nakes cukup untuk memberikan pelayanan yang cepat, tanpa ada delay yang lama," ujar dia.

Dewi mengungkapkan, kebanyakan surveilans di Indonesia berasal dari pasien yang datang ke faskes dan sudah memiliki gejala. Jika active case finding surveillance dilakukan, maka akan bnyak ditemukan orang positif COVID-19 namun tidak memiliki gejala.

"Dan ini kecenderungan untuk sembuh sangat besar. Dengan melakukan surveilans aktif, akan meningkatkan angka denominator sehingga persentase case angka kematian juga akan bergerak semakin kecil," terang dia.

Untuk itu, agar angka kematian tersebut dapat ditekan, ia meminta masyarakat disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan di mana pun berada. Jika ada gejala sesak nafas, segera periksa ke faskes untuk segera ditangani.

"Makan makanan bergizi, istirahat cukup dan olahraga teratur untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Kemudian juga lindungi kelompok rentan serta pelayanan kesehatan harus dipastikan cukup dan diberikan secara cepat untuk penanganan mereka yang terpapar Covid-19 ini," ujar dia.

Selain itu, tenaga kesehatan juga harus tetap waspada meskipun bekerja pada rumah sakit non-rujukan atau di Puskesmas, klinik, atau lainnya. Karena pasien COVID-19 bisa saja sudah terinfeksi namun tidak menunjukkan gejala sama sekali. "Dan tak kalah penting, APD harus dipastikan tersedia dan digunakan dengan benar," ujar dia.

2 dari 5 halaman

Salah di Awal

Pandangan berbeda justru disampaikan Pakar Epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI) Ede Surya Darmawan. Dia menilai saat ini sebenarnya angka kematian akibat Covid-19 sudah menunjukkan tren yang baik bila dilihat dari awal Maret 2020 lalu.

"Sebenarnya kita menurun ya dari total dulu kan kita pernah (angka kematian) 11 persen ya, kemudian turun terus. Sekarang ini kalo saya liat angkanya di lima ribuan pembaginya 108 (ribu) mungkin hari ini bisa 110, artinya (secara persentase) terjadi penurunan," ujar dia kepada Liputan6.com, Senin (3/8/2020).

"Tapi memang di global juga begitu, artinya secara umum terjadi penurunan sehingga di kita termasuk negara yang salah satu yang tinggi, pasien mengalir terus tidak tercover di rumah sakit. Barang kali itu persoalannya," imbuh dia.

Yang kedua, lanjut dia, yang dikhawatirkan adalah adanya penyakit penyerta yang sudah diderita tapi belum tertangani sehingga ketika Covid datang, dapat memparah kondisi. Dua persoalan tersebut harus ditangani.

"Satu adalah Covidnya supaya tidak terinfeksi, yang kedua adalah penyakit penyertanya. Yang paling sering kan ginjal ya lalu paru-paru itu sendiri, kemudian jantung," ujar Ede.

Dengan demikain, kedua hal itu harus dikelola sehingga tidak terjadi peningkatan kasus. Di samping itu, juga masyarakat harus berprilaku dan memiliki pola hidup yang sehat.

'Di kita ini rokok kan tinggi ya. Rokok kan mengakibatkan dua, di satu sisi mengakibatkan mudahnya paru-paru menerima virus Covid, dua adalah akan lebih mudah mengalami radang paru yang pneumonia itu. Pneumonia kan membuat Covidnya berkembang dengan cepat," ujar dia.

Untuk menekan kurva kematian akibat Covid-19, kata Ede, pelayanan kesehatan harus dikuatkan. WHO sudah punya 10 kriteria yang harus disiapkan pihak rumah sakit, mulai kesiapan menghadapi lonjakan sampai SDM, peralatan, laboratorium juga komunikasi, baik itu komunikasi pada masyarakat umum maupun komunikasi risiko di antara para pasien.

"Nah pedomannya sudah ada di Kemenkes, semua tinggal itu dijalankan sebaik-baiknya," kata dia.

Yang perlu diperhatikan, lanjut Ede, bagaimana proses pelayanan di rumah sakit yang menjalin kerja sama itu. Pemerintah diminta tak melakukan pengawasan, juga memberikan pembinaan terhadap rumah sakit agar dapat memberikan pelayanan prima.

"Perlu satu sisi kerja sama dari rumah sakit -rumah sakit yang menganai Covid, dan disisi lain juga pemerintah memberikan pembinaan, bukan cuman pengawasan supaya proses ini berjalan. Karena ini kan persoalan bareng-bareng," ujar dia.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran UI Ari Fahrial Syam menilai, kematian akibat Covid-19 di Indonesia yang melebihi global juga dipengaruhi kondisi saat virus itu mulai masuk ke Indonesia.

"Pertama itu memang angka itu muncul di awal, sekitar bulan Maret hingga April, ketika kita memang (mengalami) keterbatasan rumah sakit. Karena di awal, secara pertama laboratorium hanya ditunjuk satu dari Litbangkes, kemudian rumah sakit rujukan juga terbatas," kata Ari saat dihubungi Health Liputan6.com pada Senin (3/8/2020).

"Dalam tanda petik, pasien tidak bisa dirawat langsung. Dengan berjalannya waktu kan rumah sakit rujukan makin banyak. Jadi itu intinya di awal," ujarnya.

Ari mengatakan, banyak pasien COVID-19 di Indonesia yang sudah datang dengan kondisi bawaan atau komorbid. Di sini, edukasi bagi mereka yang memiliki masalah tersebut juga sudah lebih gencar.

"Jadi pembatasan itu yang penting. Kemudian bagi orang-orang yang komorbid juga menghindari kontak dengan orang," ujarnya.

Ari menyebut, dari sisi pemeriksaan swab saat ini juga sudah lebih dini dilakukan. Hal ini mengantisipasi apabila seseorang menjadi kontak dari pasien COVID-19 dan mudah terdeteksi.

"Jadi sebenarnya angka ini muncul di awal ketika kita memang sempat mencapai 8 persen. Jakarta waktu itu sempat 10,5 persen," kata Ari yang berprofesi sebagai dokter spesialis penyakit dalam tersebut.

"Salah di awal. Pertama masalah laboratorium hanya satu dan rumah sakit rujukan terbatas. Karena pemerintah kurang mengantisipasi di awal, jadi angka itu buruk karena angka awal. Kalau kemarinya sih angka relatif sudah stabil."

Ia menegaskan bahwa saat ini angka kesembuhan pun juga tinggi mengingat makin cepatnya kasus untuk ditemukan. "Prinsipnya semakin dini kasus ditemukan, semakin mudah untuk diatasi."

3 dari 5 halaman

Lampaui Dunia Sejak Awal

Alarm tingkat kematian pasien covid-19 yang melampaui global sebelumnya sudah disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19, yang saat itu dijabat Achmad Yurianto. Saat itu, jumlah positif pasien Covid-19 masih di bawah angka 100 ribu.

Dalam siaran langsungnya melalui akun Youtube BNPB, Minggu 6 Juli 2020, Yuri mengumumkan ada penambahan 82 pasien yang meninggal. Sehingga totalnya menjadi 3.171 orang.

Jika dilihat secara nasional, Yuri menuturkan, angka kematian Covid-19 di Indonesia sebesar 5 persen. Angka ini dinilainya lebih tinggi ketimbang angka rata-rata kematian Covid-19 secara global.

"Ini relatif lebih tinggi dibandingkan angka rata-rata dunia yaitu 4,72 persen," kata Yuri.

Akhir Juli 2020 lalu, tingkat kematian pasien positif juga masih menduduki posisi yang sama. Namun bergeser hampir mendekati tingkat rata-rata dunia sebesar 4,2 persen.

"Pada Juli ini jumlah maksimalnya sudah turun lebih banyak jadi 5,08 persen dan rata-rata 4,86 persen. Sedangkan angka kematian dunia 4,2 persen. Jadi Indonesia sudah mendekati rata-rata dunia," tutur Jubir Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito dalam konferensi pers di Istana, Jakarta, Jumat (24/7/2020) soal persentase kematian akibat Covid-19.

Wiku menjelaskan, sebenarnya persentase kematian kasus positif Covid-19 di Indonesia menunjukkan tren positif. Tren itu terlihat pada persentase data kematian kasus positif sejak Maret 2020.

Dia mengatakan, persentase maksimal kematian akibat virus Corona pada Maret 2020 sebanyak 9,34 persen dengan rata-rata 4,89 persen.

"Kalau kita lihat di April, angkanya meningkat lagi maksimumnya 9,5 persen dan rata-rata 8,64 persen. Jadi cukup tinggi dibanding Maret," ujar Wiku.

Persentase kematian ini mulai turun pada Mei 2020. Pada bulan tersebut, persentase maksimal jumlah kematian akibat Covid-19 di Indonesia turun menjadi 7,66 persen dengan rata-rata 6,68 persen.

Angka ini kembali turun pada Juni 2020 dengan persentase maksimum 6,09 persen dan rata-rata 5,56 persen.

Wiku mengatakan, persentase kematian pada kasus positif Covid-19 di Indonesia semakin turun disebabkan oleh beberapa hal. Salah satunya, manajemen penanganan pasien Covid-19 yang lebih baik.

"Kita semua banyak belajar dan kalau kita lihat jumlah ruang isolasi meningkat menjadi 23.519, jumlah bed isolation juga meningkat menjadi 188.510 di Indonesia. Jumlah tenaga kesehatan yang pengetahuan makin tinggi dan terbiasa menangani pasien Covid-19 juga makin baik," ujar Wiku.

Menurut dia, penurunan persentase kematian juga disebabkan lebih banyaknya rumah sakit rujukan di Indonesia. Saat ini, ada 839 RS rujukan di Indonesia.

Merujuk data dunia dari center for system science and engineering John Hopkins University per hari ini, Senin 3 Agustus 2020, tercatat jumlah positif pasien corona dunia mencapai 18,082,307 orang. Sementara jumlah kematian global mencapai 689,420 orang. Bila dipersentasikan, angka tersebut berada pada tingkatan 3,81 persen.

Sementara data dari situs covid-19.go.id disebutkan, jumlah total pasien positif per Senin 3 Agustus 2020, mencapai 113.134 orang dengan jumlah pasien meninggal mencapai 5.302 orang. Persentase dari jumlah itu mencapai 4,69 persen. Jumlah itu terdapat selisih 0,8 persen lebih tinggi dari rata-rata kematian pasien Covid-19 dunia.

 

4 dari 5 halaman

Naik Jadi Nomor 2 di Asia Pacifik

Indonesia naik peringkat ke nomor 2 di daftar tingkat kematian tertinggi akibat Virus Corona (COVID-19) di Asia Pasifik. Sebelumnya, Indonesia ada di nomor 3.

Satu-satunya negara di Asia-Pasifik yang tingkat kematiannya lebih tinggi dari Indonesia adalah China.

Tingkat kematian Indonesia juga sudah melewati Amerika Serikat dan semua negara ASEAN lain.

Berdasarkan data Statista per 31 Juli 2020, China mencatat 5,33 persen tingkat kematian akibat Corona COVID-19. Selanjutnya, ada Indonesia dengan 4,76 persen.

Pada awal Juli lalu, Indonesia masih berada di bawah Jepang. Namun, tingkat kematian Jepang sudah turun menjadi 2,86 persen.

Turunnya persentase kematian Jepang dipengaruhi oleh melonjaknya kasus corona di negara itu selama Juli kemarin. Kini, kasus di Jepang sudah sekitar 35 ribu.

Dibandingkan negara-negara ASEAN lain, tingkat kematian di Indonesia juga satu-satunya yang masih di atas 2 persen. Secara keseluruhan, tingkat kematian Indonesia berada di peringkat 24 dunia atau tidak masuk dalam 10 besar. Kebanyakan negara yang tingkat kematiannya tinggi tertinggi adalah negara-negara maju.

Rata-rata negara yang tingkat kematiannya tinggi juga sudah melakukan tes corona secara masif, sehingga kasus-kasus banyak yang terdeteksi.

Namun, ada juga negara yang kasusnya sedikit, tetapi tingkat kematiannya tinggi seperti Yaman. Negara Arab itu menghadapi pandemi di tengah perang saudara.

Berikut 10 negara dengan tingkat kematian tertinggi akibat Corona COVID-19, berdasarkan data Statista per 31 Juli: 

1. Yaman

Total kasus: 1.726

Angka kematian: 487 kasus

Persentase: 28,22 persen

2. Inggris

Total kasus: 302 ribu

Angka kematian: 45.999

Persentase: 15,22 persen

3. Belgia

Total kasus: 68.006

Angka kematian: 9.840

Persentase: 14,47 persen

4. Prancis

Total kasus: 210.709

Angka kematian: 30.137

Persentase: 14,3 persen

5. Italia

Total kasus: 247.158

Angka kematian: 35.132

Persentase: 14,21 persen

6. Hungaria

Total kasus: 4.484

Angka kematian: 596

Persentase: 13,29 persen

7. Belanda

Total kasus: 53.963

Angka kematian: 6.147

Persentase: 11,39 persen

8. Meksiko

Total kasus: 416.179

Angka kematian: 46.000

Persentase: 11,05 persen

9. Spanyol

Total kasus: 285.430

Angka kematian: 28.443

Persentase: 9,96 persen

10. Kanada

Total kasus: 117.677

Angka kematian: 8.974

Persentase: 7,63 persen

5 dari 5 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: