Sukses

Budayawan Betawi Ungkap Pentingnya Unsur Warisan Budaya Tak Benda

Liputan6.com, Jakarta Warisan sebuah budaya tak melulu memiliki wujud atau bentuk fisik. Warisan budaya ada juga yang bersifat tak benda, atau disebut juga dengan intangible atau abstrak.  

Melansir dari situs kebudayaan.kemdikbud.go.id, sejak 2003, Indonesia harus mengatur identifikasi dan investarisasi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang ada di seluruh wilayah Indonesia. Hal ini sesuai dengan Pasal 11 dan 12 Konvensi 2003.

Sebenarnya, semua jenis kebudayaan memiliki unsur tak bendanya. Hal ini disampaikan oleh Yahya Andi Saputra, Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB). 

“Semua kebudayaan di dalamnya terdapat budaya tak bendanya. Hal tersebut tergantung pada bagaimana pemahaman dari intangible culture itu sendiri,” ucap Yahya setelah acara "LBK Nyaba Kampus” di Universitas Indonesia, Rabu 13/11/2019.

Yahya menjelaskan, budaya tak benda tidak bisa lepas dari “benda” itu sendiri. Namun, budaya tak benda tidak merujuk pada bentuk fisik, melainkan pada bagaimana budaya itu hidup di tengah masyarakat. 

Sebagai bagian dari Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya mencontohkannya dengan gado-gado, salah satu makanan khas Betawi. Bagaimana makanan tersebut diingat oleh masyarakat merupakan bentuk budaya tak bendanya.

“Bagaimana gado-gado itu dipelihara, bagaimana keahlian memasak makanan tersebut di tengah masyarakat, adalah hal yang dipelihara dalam budaya tak benda,” jelasnya.

Untuk itu, ekspresi budaya tak benda dapat diwujudkan dalam berbagai hal. Namun tetap, antara budaya tak benda dan benda adalah hal yang saling berkaitan. 

“Budaya tak benda tidak bisa dijelmakan tanpa artefak itu sendiri. Sebaliknya, budaya dalam benda, tidak akan ada tanpa budaya tak bendanya,” tutur Yahya.

2 dari 2 halaman

Warisan Budaya Tak Benda Lebih Sulit untuk Dilestarikan

Yahya menuturkan, budaya yang bersifat tak benda lebih sulit untuk dilestarikan. Berbeda dengan budaya benda yang ada bentuk fisiknya, budaya tak benda tertanam dalam pikiran manusia. 

“Budaya tak benda lebih susah dilestarikan karena hal itu ada di kepala kita. Ketika seseorang yang memahami suatu budaya itu meninggal, maka budaya tersebut runtuh,” ujarnya. 

Zaman dahulu, Yahya menjelaskan budaya tak benda tersebut tetap lestari karna diwariskan secara alamiah. Budaya dikenalkan oleh orang tua pada anaknya secara alami. 

Kini, siasat yang juga bisa dilakukan untuk menjaga budaya tak benda adalah melalui ilmiah. 

“Sekarang, budaya tersebut dapat diajarkan melalui ilmiah atau pengetahuan umum. Jadi sekarang, budaya dilestarikan melalui pengetahuan secara modern,” jelas Yahya. 

Melihat perkembangan masyarakat di tengah revolusi 4.0, pengurus LKB ini juga menyarankan untuk memanfaatkan internet. Internet dapat dijadikan wadah dokumentasi budaya-budaya yang bersifat tak benda. 

“Teknologi harus dimanfaatkan secara efektif untuk pendokumentasian, pelestarian, dan pengembangan budaya,” tutup Yahya. 

(Kezia Priscilla - Mahasiswa UMN)