Sukses

Dalam Lima Tahun ke Depan, Pariwisata Sumbang Devisa Terbesar

 

Liputan6.com, Jakarta Sektor pariwisata Indonesia ditetapkan sebagai sektor unggulan penyumbang ekonomi bangsa. Kemajuan pesat sektor ini bahkan melampaui CPO (minyak sawit mentah) dan diproyeksikan menjadi core economy sekaligus penyumbang devisa terbesar di Indonesia lima tahun ke depan.

Menteri Pariwisata Arief Yahya saat Rembuk Nasional Pariwisata Indonesia (Masata) mengatakan, selama empat tahun pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla, sektor pariwisata berkembang signifikan.

Indonesia memiliki ribuan destinasi, baik yang sudah populer namanya maupun yang masih belum digarap optimal. Apalagi pembangunan infrastruktur terus digalakkan, maka bukan tidak mungkin dunia pariwisata akan menjadi andalan baru bagi pemasukan negara.

"Saya optimistis tahun ini dan lima tahun ke depan, industri pariwisata menjadi salah satu yang menyumbangkan devisa terbesar, mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar US$20 miliar dolar," katanya di Aruba Room The Kasablanka, Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (15/10/).

Arief mengatakan berdasarkan data World Travel & Tourism Council, pariwisata Indonesia menjadi yang tercepat tumbuh dengan menempati peringkat ke-9 di dunia, nomor tiga di Asia, dan nomor satu di kawasan Asia Tenggara. Capaian di sektor pariwisata itu juga diakui perusahaan media di Inggris, The Telegraph yang mencatat Indonesia sebagai The Top 20 Fastest Growing Travel Destinations.

Indeks daya saing pariwisata Indonesia menurut World Economy Forum (WEF) juga menunjukkan perkembangan membanggakan, dimana peringkat Indonesia naik 8 poin dari 50 pada 2015, ke peringkat 42 pada 2017.

"Persaingan sekarang ini bukan soal yang besar mengalahkan yang kecil, tetapi siapa yang tercepat. Kami bisa melampaui negara-negara pesaing kita di Asia Tenggara," ujarnya semangat.

Pada 2017, kata Menpar, pertumbuhan sektor pariwisata melaju pesat sebesar 22 persen, menempati peringkat kedua setelah Vietnam (29 persen). Sementara Malaysia tumbuh 4 persen, Singapura 5,7 persen, dan Thailand 8,7 persen. Di tahun yang sama, rata-rata pertumbuhan sektor pariwisata di dunia 6,4 persen dan 7 persen di ASEAN.

"Vietnam lebih tinggi karena mereka melakukan deregulasi besar-besaran. Jadi, Vietnam saat ini adalah turis and investor darling," katanya.

Tercatat kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia naik siginifikan dari 2015-2017. Pada 2015 sebanyak 10,41 juta, dan 2016 menjadi 12,01 juta, kemudian pada 2017 sebanyak 14,04 juta.

Sampai Agustus 2018, jumlah wisman mencapai 10,58 juta. Wisatawan nusantara juga terus naik. Sejak 2015 sebanyak 256 juta, pada 2016 berkembang lagi menjadi 264,33 juta, dan di 2017 meningkat menjadi 270,82 juta.

Sementara itu, sumbangan devisa dari sektor pariwisata meningkat dari US$12,2 miliar pada 2015, menjadi US$13,6 miliar di 2016, dan naik lagi menjadi US$15 miliar pada 2017. Pada 2018 ditargetkan meraup devisa US$17 miliar, serta pada 2019 dibidik menyumbang devisa nomor satu mengalahkan sektor lain dengan proyeksi nilai sebesar US$20 miliar.

 

Pada kesempatan yang sama, Gubernur Jawa Tengah menjelaskan, infrastruktur pariwisata daerah memegang peran penting agar wisatawan yang datang merasa nyaman dan tidak kecewa saat berkunjung.

"Jateng sendiri tengah mempersiapkan jalan tol Solo-Jogja, sehingga tidak macet lagi. Kami sedang siapkan dan tahun ini sudah berjalan," katanya.

Ganjar mengatakan, kuliner yang menjadi bagian dari pariwisata merupakan daya tarik setiap daerah. Tak jarang, setiap kali berkunjung ke daerah yang ada di Indonesia ia kerap mengabadikannya melalui video blog miliknya.

"Makanya ayo piknik. Bikinlah keluargamu, temanmu, bahagia. Dan sambil kulineran juga, bagikan kesenanganmu lewat sosial media. Statement Pak Menteri Pariwisata Arief Yahya itu benar 100 persen, kalau kekuatan untuk menjual Indonesia keluar secara _powerfull_ itu pariwisata," katanya.

Sementara itu, Tim Quick Win 5 Destinasi Super Prioritas Pariwisata Irfan Wahid menjelaskan, formula baru storynomics tourism bakal digunakan untuk mengakselerasi percepatan pembangunan wisata di lima kawasan destinasi super prioritas.

Irfan mencontohkan, kisah-kisah dari kawasan Danau Toba sejatinya begitu banyak namun tak pernah digarap dengan benar-benar optimal.

”Kami memiliki kekayaan sejarah, budaya, dan alam yang begitu banyak namun masih sangat minim informasi maupun konten yang menceritakan tentang hal-hal tersebut. Seperti contohnya yang kita alami selama berada di Toba,” katanya.

Ia menilai diperlukan pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten kreatif, dan living culture serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi.

Loading
Artikel Selanjutnya
Indonesia dan Korea Segera Perbarui MoU Penempatan PMI di Korea
Artikel Selanjutnya
ANTAM Salurkan Dana Program Kemitraan Tahap ke-2 Senilai Rp7 Miliar