Sukses

Kisah Nining, Guru Honorer dari Banten yang Tinggal di Pinggir Toilet Sekolah

Liputan6.com, Pandeglang - Nining Suryati namanya. Seorang guru honerer yang mengabdikan diri di Sekolah Negeri Karyabuana, Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Banten.

Julukan pahlawan tanpa tanda jasa tak lantas membuatnya bergelimang kemewahan. Nining saat ini tinggal satu atap dengan toilet sekolah tempatnya mengajar.

Dia hanya berlinangan air mata ketika kedua anaknya bertanya kapan mereka memiliki rumah seperti teman-temannya.

Namun apa daya, setiap bulannya, dia hanya menerima honor Rp 350 ribu selama 15 tahun.

Honor ini digunakannya untuk biaya pendidikan anaknya dan makan sehari-hari. 

Apakah honor Rp 350 ribu itu cukup? Tentu saja tidak.

Nining kerap kali kekurangan dan makan seadanya. Sering kali dia meminta maaf kepada anak-anaknya karena tak mampu menghidupi mereka dengan layak.

"Kalau ingat mereka lagi curhat sama saya, 'Bu... pengen itu deh kayak teman aku', seperti teriris hati saya. Saya hanya dapat mendengarkan dan memberi pengertian tentang kondisi kedua orangtuanya. Maafin ibu ya, belum bisa buat kalian bahagia, sampai hal kecil yang kalian mau seperti anak lainnya," ucap Nining sambil mengusap air mata dengan kerudung cokelatnya yang ditemani sang suami, Eby, di kediamannya, Senin, 15 Juli 2019.

Kenyataan hidup ini, meski mengiris hati, tetap tak menyurutkan semangat Nining mendidik siswa-siswinya di sekolahnya. Juga untuk anaknya.

Kini, putra pertamanya telah bekerja di Jakarta, sedangkan putrinya mengenyam pendidikan di Ponpes Darul Ullum kelas dua MTs, di Kecamatan Saketi, Kabupaten Pandeglang, Banten.

 

2 dari 2 halaman

Komentar Bupati

Usai maraknya pemberitaan soal Nining, Bupati Pandeglang, Irna Narulita, justru menganggap media 'menggoreng' pemberitaan tentang guru honorer tersebut.

Istri dari politisi Dimyati Natakusumah itu mengatakan, Nining numpang tinggal di dekat toilet. Nining sendiri lah yang membuat rumah di lokasi tersebut.

"Jadi ada TKS (Tenaga Kerja Sukarela), suka bantu kepala sekolah ya, ternyata mereka enak di situ bro, numpang disitu, bukan di dalam WC bro. Sebelahnya itu ada ruangan yg bisa mereka tinggalin. Ya buat rumah sendiri belum bisa, terus bisa jaga keamanan sekolahnya. Jadi enak di goreng-goreng gitu ya," kata Irna Narulita saat ditemui awak media di Pemkab Pandeglang, Senin 15 Juli 2019.

Irna pun telah memarahi Camat Cigeulis karena dianggapnya tidak aspiratif, terkait keluh kesan dari Nining dan Eby yang tinggal satu atap dengan toilet sekolah.

Dia menganggap kecamatan baru bereaksi setelah pemberitaan ramai di berbagai media. 

"Saya marahin camatnya nih. Kamu digoreng-goreng media baru (reaksi), harusnya kepala sekolahnya panggil, saya bilang. Kabid SD (Dindik Kabupaten Pandeglang)-nya panggil, koordinasi yang urgent-urgent (penting) dengan dinas Perkim (Perumahan dan Pemukiman) kah, dengan Dinsos kah," tutur Irna.

Irna pun mengatakan keluarga Nining dan Eby memiliki banyak tanah di Kabupaten Pandeglang. Meski begitu, Pemkab Pandeglang berjanji tetap membangunkan rumah layak huni bagi Nining dan Eby.

"Capek jadi bupati. Punya tanah enggak mereka? Punya. Kalau punya tanah kan harusnya segera dibangun (rumah). Bahkan keluarganya banyak tanahnya. Camat, korwil (PGRI) beriktikad membangun rumahnya. Sudah ramai. Itu lah bupati, masyaallah. Bukan tinggal di WC, bersebelahan dengan WC," ujar Irna.

Loading