Sukses

2 Pernyataan JK soal Utang dan Peluang Indonesia

Liputan6.com, Jakarta - Masa jabatan Presiden Joko Widodo atau Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) hanya tinggal menghitung bulan. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan keduanya.

Masyarakat Indonesia pun terus mengomentari hasil kerja keduanya. Kinerja Jokowi dan JK terus menjadi perhatian mereka dan dicurahkan melalui media sosial masing-masing.

Salah satunya terkait soal menumpuknya utang Indonesia kepada negara luar. Utang Indonesia yang kini mencapai Rp 4.418 triliun mendapat sorotan karena dianggap seksi untuk digoreng di tahun politik.

Meski begitu, JK yakin, utang Indonesia bisa terbayar perlahan. Selain itu, JK juga melihat dampak yang cukup besar dari perang dagang antara China dan Amerika Serikat bagi Indonesia.

Berikut pernyataan JK soal utang dan peluang Indonesia yang dihimpun Liputan6.com:

2 dari 4 halaman

1. Utang Bukan Untuk Foya-Foya

JK meminta warga Indonesia bijak memahami soal utang negara.

"Negara mirip dengan perusahaan, kalau ingin dikembangkan dengan optimal, butuh dana besar," kata Wapres JK di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa, 29 Januari 2019.

JK menjelaskan, jika ingin pembangunan dilakukan dengan pesat, misalnya dalam hal infrastruktur, dibutuhkan dana besar. Di sisi lain, anggaran negara juga diperlukan untuk membiayai hak-hak dasar warga, seperti pendidikan dan kesehatan. Untuk itulah, diperlukan pendanaan lain.

"Utang bukan jumlahnya yang penting, tapi bisa dibayar atau tidak," tegas JK. Selama utang negara untuk hal-hal produktif, bukan sekedar untuk menggelar konferensi atau bangun kantor pemerintah, Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) tersebut berpendapat, itu sah-sah saja.

Misalnya, kata dia, untuk pembangunan MRT, moda angkut massal yang diyakini bisa mengatasi masalah transportasi, terutama di kota-kota besar.

"Kalau yakin dalam 40 tahun bisa dibayar dari hasil MRT, tidak masalah," tambah JK.

Utang, tambah JK, juga digunakan untuk membangun sarana atau infratruktur yang penting untuk orang banyak. Ia menambahkan, uang pinjaman bisa untuk membangun pengairan. Efeknya, kebun dan sawah makin banyak, penghasilan negara dari pajak pun meningkat. "Kita tidak utang untuk foya-foya," tambah JK.

JK menegaskan, tak hanya Indonesia yang punya utang. "Negara-negara besar juga tetap meminjam tetapi meminjam ke dalam, misalnya Amerika Serikat dalam bentuk cetak duit," jelas JK.

 

3 dari 4 halaman

2. Peluang dari Perang Dagang

Meski begitu, JK melihat adanya peluang dari perang dagang yang saat ini terjadi antara China dan Amerika Serikat. Walaupun, kata JK, tetap ada dampak negatif dari kejadian tersebut.

"Negatifnya ialah kalau perang antar China dan Amerika, maka ekspor China ke Amerika mungkin turun karena dipajak disana sehingga mahal. Akibatnya nanti impor China ke Indonesia bisa turun," kata JK.

Tetapi, lanjut dia, yang menguntungkan adalah melihat kebutuhan Amerika yang tetap tinggi, maka Indonesia bisa mengekspor langsung karena tidak dikenakan pajak, ada kuotanya, dan GPS-nya. Maka, kata JK, Indonesia bisa langsung melakukan ekspor ke Amerika.

"Sekarang kita memperbanyak persetujuan dagang free trade agreement dengan banyak negara. Australia segera ditandatangani, Eropa sedang berlangsung, Amerika kemarin sudah selesai," ucapnya.

"Itu semua akan menambah ekspor kita ke negara-negara yang sudah kita ada perjanjian trade agreement. Sehingga efek daripada China itu akan teralih dari ekspor barang-barang baku menjadi ekspor barang jadi. Karena itu, industri kita, manufacturing harus berkembang dan juga sudah banyak negara yang selama ini menginvestasi di China memindahkan ke Indonesia," pungkas JK.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Bertamu ke Rumah JK, Jokowi Bahas Evaluasi Penanganan Bencana
Artikel Selanjutnya
Temui Wapres JK, Sekretaris Utama BKKBN Lapor Perkembangan Kampung KB