Sukses

LSM: Polisi Cepat Usut Pengeroyok Anggota TNI, Tidak Pembakar Polsek Ciracas

Liputan6.com, Jakarta - Koalisi Masyarakat Sipil, diwakili Ketua Amnesty Internasional Indonesia Usman Hamid, mengkritisi penegakan hukum atas kasus penyerangan di Polsek Ciracas pada 11 September 2018. Insiden yang berbuntut dengan pengerusakan rumah warga di bilangan Cibubur sehari setelahnya ini, kini diduga mangkrak tanpa pengusutan mendalam pihak kepolisian.

"Media sendiri sudah menyajikan dokumentasi yang sifatnya amatir atau semi amatir, dari video di Arundina atau di Polsek Ciracas harusnya sudah jelas (para pelakunya bisa diamankan)," kata Usman di Kantor Amnesty Internasional Indonesia, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (17/12/2018).

Usman menyayangkan, aksi cepat pihak berwajib dalam kasus yang bermula dari pengeroyokan antara tukang parkir liar dan anggota TNI AL, dinilai tak berimbang. Dengan mudah, polisi dapat menangkap para juru parkir tersangka diduga pelaku pengeroyokan, namun tidak untuk massa pembakar diduga anggota militer.

"Kami koalisi datang dengan berkordinasi dan investigasi antara kedua peristiwa itu, dari video itu sudah jelas logika umum itu sebenarnya sudah semestinya menjadi kesimpulan awal pihak kepolisian," jelas Usman.

Karenanya, pihak koalisi bingung mengapa ada kesan tebang pilih dalam penegakan hukum kasus ini. Sisi lain, koalisi tak membenarkan adanya aksi pengeroyokan, namun tindakan main hakim sendiri lewat pengerahan massa hingga membakar kantor polisi dan menyerang rumah warga pun harus ditindak secara imparsial.

"Jadi kami justru heran kenapa polisi tak mengidentifikasi pelakunya? Lalu kenapa TNI harus bikin tim investigasi untuk mencari (pelakunya) bila tak ada anggotanya yang disebut terlibat?" Usman menyudahi.

 

2 dari 2 halaman

Dilakukan Oknum

Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Wiranto mengatakan, penyerangan di Mapolsek Ciracas, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu dilakukan oknum tertentu. Dia juga memastikan penyerangan itu terjadi tanpa ada perintah atasan.

"Kalau ada perbuatan di lapangan, itu oknum. Bukan perintah atasan. Bukan kebijakan pimpinan, itu oknum. Di mana-mana juga ada oknum, tidak ada hanya di TNI-Polri," kata Wiranto dalam konferensi pers di Kantor Kemenko Polhukam Jakarta Pusat, Senin (17/12/2018).

Wiranto mengaku telah memerintahkan Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk mengusut tuntas dalang dari penyerangan di Mapolsek Ciracas. Dia meminta siapa pun pelaku penyerangan agar ditindak tegas.

"Ini yang kita minta supaya diusut tuntas siapa pun yang terlibat. Kalaupun dari aparat keamanan, ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Sekarang sedang berlangsung penyelidikan di sana," ucapnya.

Kendati begitu, Wiranto menegaskan bahwa soliditas antara TNI dan Polri tidak akan terganggu terkait peristiwa tersebut. Terlebih, TNI-Polri juga harus solid mengamankan Pemilu 2019.

"Soliditas antara Polisi dan TNI tidak boleh terganggu. Ini sudah dilaksanakan seperti itu," tegas Wiranto.

Kasus bermula dari cekcok antara anggota TNI bermatra laut di wilayah perpakiran umum di bilangan Arundina, Ciracas, Jakarta Timur. Cekcok diduga akibat aksi senggol saat juru parkir hendak memindahkan motor.

Insiden sepele yang mungkin dilakukan tanpa kesengajaan malah berimbas pada aksi baku hantam keduanya. Seorang TNI bermatra darat yang melintas dan mencoba melerai hal tersebut, malah disambut amukan massa rekan sesama juru parkir.

Imbasnya, gerakan massa disebut-sebut berasal dari ranah militer pada malam harinya turun gunung mendatangi Polsek Ciracas untuk meminta keadilan, atas insiden dialami dua anggota militer di Arundina tersebut.

Sayangnya, hal tersebut berlangsung alot. Massa yang tak sabar menunggu pihak berwajib menangkap diduga pelaku pengeroyok dua anggota TNI tersebut langsung membakar Mapolsek Ciracas.

Tidak hanya itu, dikarenakan kerja polisi yang dinilai belum dapat mengungkap cepat pelaku yang disebut buron, massa diduga kelompok yang sama dengan pembakaran Mapolsek Ciracas langsung menyerang rumah warga diduga milik pelaku di Cibubur untuk mencari juru parkir yang disebut buron.

Loading
Artikel Selanjutnya
Pamit dari Kemenko Polhukam, Wiranto: Jangan Usir Saya
Artikel Selanjutnya
Wiranto: Mahfud MD Berkompeten Gantikan Saya Jadi Menkopolhukam