Sukses


Ketua MPR: Aisyiyah Bisa Perangi Politik Uang

Liputan6.com, Jakarta Warga Indonesia berhak ikut andil dalam membentuk cita-cita negara untuk masa depan. Pernyataan itu disampaikan oleh Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Zulkifli Hasan saat menjadi pembicara dalam acara Tanwir I Aisyiyah periode 2015-2020 di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Sabtu (20/1/2018).

Mengenai Aisyiyah, Zulkifli Hasan mengatakan dengan adanya organisasi laiknya Aisyiyah sangat penting bagi masyarakat. Apalagi dengan adanya tahun-tahun politik saat ini.

"Para Ibu Aisyiyah perannya sangat penting untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat agar sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa tidak diganti dengan keuangan yang maha esa," imbuh Zulkifli Hasan.

Ia melanjutkan, sudah mulai terjadi pergeseran di mana uang mulai berkuasa agar pemimpin bisa dipilih. Sebagai contoh, peran uang sangat berpengaruh dalam pemilihan kepala suatu daerah.

"Sekarang uang selalu dikedepankan. Mulai dari memilih kepala desa, bupati, gubernur dan masuk partai harus pakai uang. Orang itu hebat kalau uangnya banyak. Di mana nilai-nilai. Inilah yang membuat kesenjangan semakin jauh," ujar Zulkifli Hasan.

Maka dari itu, ia berharap para anggota Aisyiyah memberikan peranan kepada masyarakat agar sila pertama pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa tidak diganti dengan keuangan yang maha esa.

Untuk itu Zulkifli mengajak segenap anggota Aisyiyah untuk memerangi hal itu demi politik yang berkemajuan.

"Agar rakyat memilih tidak sekadar bagi sembako tapi juga memilih masa depan," tutur Zulkifli di depan puluahn anggota Aisyiyah.

Ia melanjutkan, melalui Tanwir I di Universitas Muhammadiyah Surabaya, Aisyiyah bisa memberikan konsep gagasan untuk menyumbang Indonesia di dalam perkembangan zaman seperti saat ini.

"Ibu Aisyiyah adalah ibu penerang republik ini. Saya bisa menjadi anggota DPR, Menteri Kehutanan dan Ketua MPR bukan karena hebat tapi karena ibu," tuturnya.

 

 

(*)

Artikel Selanjutnya
Temui Jokowi, Pimpinan DPD Bahas Penambahan Kursi?
Artikel Selanjutnya
Cak Imin: Perbedaan Muhammadiyah dan NU Hanya soal Sunnah