Sukses

Pagi Ini Pemakaman Naro di Makam Pahlawan

Liputan6.com, Jakarta: Dari panggung politik yang ingar-bingar, perjalanan hidup H. Jaenlani Naro berakhir di Taman Makam Pahlawan yang sunyi. Politisi kawakan yang pernah menorehkan sejarah pencalonan sebagai presiden di zaman Orde Baru, tutup usia pada Sabtu (28/10) sekitar pukul 10.30. Penyakit jantung telah menyerang ayah anggota DPR RI, Husein Naro tersebut.

Dalam usia 71 tahun, Naro memang dirawat secara intensif di Rumah Sakit Pelni Petamburan Jakarta. Kini, jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Hang Tuah Raya Nomor 57 Jakarta Selatan. Sedianya, Naro akan dikebumikan hari ini, di Taman Makam Pahlawan Kalibata, pukul 09:00 WIB. Direncanakan pula, Wakil Ketua DPR Tosari Wijaya bertindak sebagai inspektur upacara. Sebelumnya, jenazah akan disalatkan di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru.

Mantan Wakil Ketua DPR/MPR selama dua periode di pemerintahan Presiden Soeharto, itu lahir di Palembang 3 Januari 1929. Naro meninggalkan seorang istri Andalia Tirtaamidjaja dan tiga anak masing-masing Muhammad Husein, Nandalia Herlanggawati dan Wulan Sari.

Dikenal sebagai politisi yang cekatan, karir politik Naro boleh dibilang menarik. Betapa tidak, ketika Sidang Umum MPR 1988, Naro nekat mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden bersama dengan Sudharmono SH. Tapi, sehubungan situasi politik saat itu, Sudharmono-lah yang terpilih. Setelah cabut dari PPP, sarjana muda lulusan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada yang melanjutkan ke UI dan mendapat Doktor HC dari China Academy Taiwan itu mendirikan Partai Persatuan.

Sempat lama menghilang, Naro mendirikan Partai Persatuan, ketika suasana politik membolehkan partai politik baru berdiri. Naro yang dikenal sebagai politisi kawakan bergabung dengan Partai Persatuan Pembangunan. Jabatan partai terakhir yang diembannya adalah sebagai Ketua Umum PPP, sebelum hijrah dan mendirikan Partai Persatuan.

Naro juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA) pada 1983. Pengalaman kerjanya dimulai sebagai Jaksa di Karawang, Jabar (1953), Kepala Dinas Reserse Kejaksaan Tinggi Jakarta (1960), Kepala Kejaksaan Tinggi Singaraja, Bali (1962-1965), Pemimpin Umum Harian Djiwa Proklamasi (1965), Pemimpin Umum Harian Mimbar Pancasila (1968), Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) (1968-1971), Anggota Staf Ahli Menteri Kehakiman (1971), Wakil Ketua DPR-RI (1971-1978), Wakil Ketua MPR (1972-1978).

Selain itu, almarhum juga dikenal sebagai pejuang dan mengatongi sejumlah bintang dan tanda penghargaan, antara lain, Bintang Gerilya, Bintang Perang Kemerdekaan I dan II, Satya Lencana Sapta Marga, Satya Lencana Wira Dharma, Bintang Mahaputra Utama, Bintang Mahaputra Adipradana dan Bintang Gwang Hwa Merrit Diplomatic Service dari pemerintah Korea Selatan.

Dari pemantauan SCTV, sejumlah pejabat dan mantan pejabat pemerintah yang melayat di rumah duka sejak Sabtu pagi, antara lain Emil Salim, mantan Wapres Sudharmono, mantan Menteri Penerangan Harmoko, Ketua DPP PPP Hamzah Haz dan Buya Ismail Hasan Metareum.(RSB/Zbh