Sukses

Meniti Jejak Wayang Potehi

Liputan6.com, Jombang: "Orang Tionghoa bukan pendarat dari luar negeri. Mereka sudah ada sejak nenek moyang kita," tutur sastrawan Pramoedya Ananta Toer semasa hidupnya. "Mereka itu sebenarnya orang-orang Indonesia yang hidup dan mati di Indonesia juga. Tetapi, karena suatu tabir politik, tiba-tiba menjadi orang asing yang tidak asing."

Tionghoa bukan nenek moyang. Kala itu, sekitar abad ke-17, imigran dari dataran Cina masuk ke wilayah Hindia Belanda. Tiga abad yang silam. Bagaimana kebudayaan asli Cina tidak hidup dan berkembang di tanah perantauan ini? Termasuk keseniannya.
 
Barongsai dan liong memang begitu lama mengakar di Tanah Air ini. Bukan hanya itu. Ada pula wayang potehi --ada yang menyebutnya wayang thiti. Bisa dikatakan, kesenian itu menjadi benang merah yang kuat antara keturunan Tionghoa di Indonesia dan para leluhurnya di Tiongkok.

Bagi Wie Tao San, seorang keturunan Tiongkok yang hidup pada generasi berbeda dengan moyangnya, merasa perlu untuk menyelusuri jejak kebudayaan itu. Ya, dengan menjadi personel grup wayang potehi "Fu He An". Kelompok kesenian itu bermarkas di Klenteng Hong San Kiong, Jombang, Jawa Timur.

Bukan cuma Wie Tao San. Darah seni pedalangan wayang potehi pun mengalir dalam sosok Tok Hoy Lay, Ketua Yayasan Tempat Ibadah Tri Dharma Hong San Kiong. Darah seni mengucur deras dari ayah dan kakeknya yang juga dalang wayang potehi.

Untuk menjaga nilai budaya Tiongkok, Hok Lay tidak memilih berperan sebagai dalang. Ia lebih senang berada di balik layar dengan mendukung kelangsungan hidup kelompok wayang potehi.

Wayang potehi berasal dari distrik Quanzhou, Provinsi Fujian, Cina. Potehi berarti wayang berupa boneka terbuat dari kain. Ada dua kisah yang mengurai sejarah wayang potehi lahir ke dunia.

Pertama, dari seorang pelajar bernama Liang Ping Lin. Ia frustasi lantaran terus gagal mengikuti tes kepegawaian pada zaman Dinasti Ming, awal abad ke-17. Kemudian, ia mencoba memainkan kain-kain perca menjadi boneka. Itu semua dilakukannya sesuai petunjuk seorang kakek yang dijumpainya dalam mimpi. Sejak itulah, ia mulai menyelami dunia wayang potehi.

Kisah lainnya datang dari lima terhukum mati yang hidup pada zaman Dinasti Chang. Empat di antara mereka stres berat. Namun, seorang terpidana lainnya tetap tenang dan justru menghibur diri sambil bermain boneka. Pihak kerajaan yang tahu pun, akhirnya membebaskannya. Dari sinilah muncul pula cikal bakal wayang potehi.

Pada dasarnya, wayang potehi adalah wayang persembahan untuk para dewa. Dan lazimnya dimainkan di halaman klenteng. Lakon ceritanya diambil dari legenda kuno. Satu judul cerita dapat menghabiskan waktu hingga tiga bulan.

Awal abad ke-19 merupakan sebuah periode budaya dunia belasteran yang begitu marak di Tanah Air. Ada Tionghoa Totok atau yang akrab disebut Hoakiao. Ada pula Tionghoa peranakan alias Kiauseng. Di Indonesia, mereka berbaur tanpa dipisahkan hasta.

Wayang potehi memasuki babak lain pada 1959. Kala itu, muncul pelarangan terhadap kaum Tionghoa untuk berniaga di pedesaan. Perasaan takut dan awan gelap pun menyelimuti hari-hari mereka. Tak pelak, situasi itu membuat sebagian dari mereka memutuskan untuk kembali ke Cina daratan. Saat itu, rahim era melahirkan sebutan pribumi dan nonpribumi.

Kondisi itu diperparah dengan munculnya instruksi presiden yang membatasi gerak budaya Tionghoa paada 1967. Saat rezim Soeharto. Bahkan, warga Tionghoa harus sembunyi-sembunyi untuk sekadar beribadah.

Lebih dari 30 tahun lamanya akar tradisi kebudayaan Tionghoa di Indonesia mati suri. Grup wayang potehi "Fu He An" yang dipimpin Tok Hok Lay tak ingin situasi buruk melenyapkan tradisi leluhur itu. Demi itu semua, pewaris langsung kesenian itu  merekrut sejumlah dalang wayang potehi yang rata-rata orang Jawa dan muslim.(ASW/SHA)

    Loading