Sukses


Wakil Ketua MPR: Orang Betawi Terbuka dan Apa Adanya

Liputan6.com, Jakarta Organisasi Rumpun Masyarakat Betawi yang berkantor di Condet, Jakarta Timur, melakukan silaturahmi dengan Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid, di Lt. 9, Gedung Nusantara III, Komplek Gedung MPR/DPR/DPD, Senayan, Jakarta.

Nur Ali selaku ketua organisasi menjelaskan tujuan kedatangan guna meminta kesediaan Hidayat Nur Wahid menjadi pembina Rumpun Masyarakat Betawi.

“Ya sebagai pengarah, memberi arahan kepada organisasi ini,” ujar Nur Ali. Sebagai ketua, Ali pun menjelaskan bahwa organisasinya dibentuk untuk menepis stigma bahwa masyarakat Betawi adalah masyarakat yang arogan.

Menanggapi apa yang dikatakan oleh Nur Ali bahwa masyarakat Betawi adalah arogan ditepis Hidayat Nur Wahid. “Saya menangkap kesan bahwa masyarakat Betawi tak arogan,” papar Hidayat.

Menurut Hidayat, bila ada organisasi yang aneh-aneh itu bukan karena Betawinya. Dirinya justru menyebut masyarakat Betawi adalah masyarakat yang terbuka dan apa adanya. Dicontohkan keterbukaan masyarakat Betawi terhadap kaum pendatang terbukti di Jakarta banyak nama kampung berdasarkan suku, seperti Kampung Melayu, Kampung Arab, Kampung Ambon, Kampung Bali, Kampung China, Kampung Jawa, dan lain sebagainya.

“Masyarakat Betawi masyarakat yang menerima kedatangan dari berbagai pihak sehingga Jakarta menjadi beragam,” ujarnya.

Disinggung soal rencana penggusuran lokalisasi pelacuran Kalijodo, Hidayat mengatakan bahwa seluruh warga pasti Jakarta mendukung. Namun ditegaskan oleh dirinya penggusuran lokalisasi pelacuran tidak hanya di Kalijodo namun di seluruh tempat yang ada sebab pelacuran tidak sesuai dengan norma apa pun, baik agama maupun norma masyarakat.

“Pelacuran tidak sesuai dengan norma hukum apa pun,” katanya.

Tak hanya itu, penggusuran lokalisasi di satu sisi tidak boleh diiringi dengan rencana mendirikan lokalisasi di tempat yang lain.

“Kita harus membantu upaya untuk menciptakan Jakarta yang lebih baik,” tegas Hidayat Nur Wahid.    

(*)