Sukses

Patriarki Penyebab Sedikitnya Perempuan Daftar Capim KPK?

Liputan6.com, Balikpapan - Jumlah perempuan yang melamar sebagai calon pimpinan (capim) KPK sangat sedikit dibanding laki-laki. Dari 139 pelamar untuk capim KPK, 8 di antaranya adalah perempuan. Budaya patriarki yaitu laki-laki sebagai sosok otoritas utama, dituding menjadi penyebabnya.

"Hal ini disebabkan masih adanya budaya patriarki dan masih kuat Indonesia, sehingga banyak perempuan yang merasa cukup masih yakin tidak mendapat dukungan lingkungan maupun keluarganya," kata anggota Pansel KPK Harkristuti Harkrisnowo di Balikpapan, Kaltim, Kamis 18 Juni 2015.

Dia mengatakan, Pansel KPK mengajak perempuan di daerah untuk melamar sebagai capim di lembaganya. Namun, ada rasa takut menghadapi hambatan di KPK termasuk isu kriminalisasi.

"Saya pikir ini terjadi di semua pansel karena jumlahnya perempuan yang ikut makin sedikit. Dan ini tantangan untuk perempuan, maka itu kita ke daerah-daerah," kata Harkristuti.

Pansel KPK membuka pendaftaran calon pimpinan pada 4-24 Juni 2015. Sejumlah syarat yang harus dipenuhi calon pimpinan KPK adalah memiliki ijazah Sarjana Hukum atau sarjana lain dan berpengalaman sekurang-kurangnya 15 tahun dalam bidang hukum, ekonomi, keuangan dan perbankan, berusia 40-65 tahun, tidak menjadi pengurus salah satu parpol, melepas jabatan lain selama menjadi anggota pimpinan KPK serta mengumumkan kekayaan sesuai peraturan yang berlaku.

Selanjutnya, Pansel akan memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan masukan atas nama-nama pendaftar pada 27 Juni-26 Juli 2015. Lalu akan dilakukan proses seleksi dengan tes pembuatan makalah dan wawancara hingga didapatkan 8 nama.

Kedelapan nama yang akan dipilih ini nantinya bakal diserahkan ke Presiden Joko Widodo pada 31 Agustus 2015. Kemudian orang nomor satu di Indonesia itu akan meneruskan nama-nama tersebut ke DPR, untuk dilakukan uji kepatutan dan kelayakan. (Ant/Mvi/Tnt)

Loading