Sukses

Hardinsyah, Penyebar Pengetahuan

Liputan6.com, Jakarta: Tak banyak yang tahu bila tanggal 28 Februari ditetapkan sebagai Hari Gizi Nasional. Padahal, ketidakpedulian terhadap gizi bakal menimbulkan pola hidup yang tidak sehat. Lantaran itulah, kegiatan Profesor Hardinsyah yang menyebarkan pengetahuan akan zat penting tersebut patut dihargai. Bahkan, ia menyosialisasikan pengetahuan mengenai gizi itu kepada siswa taman kanak-kanak, belum lama berselang.

Bagi Dekan Fakultas Ekologi Manusia di Institut Pertanian Bogor itu, mengajar murid TK tak membuat dirinya kikuk. Hardinsyah, guru besar yang banyak mengecap pendidikan di luar negeri ini tanpa rasa canggung mengajari bocah berusia di bawah lima tahun atau balita untuk memahami pentingnya makanan bergizi. Ia pun yakin strategi ini tepat karena pemahaman akan gizi harus dimulai dari anak-anak. Terlebih, kebiasaan anak lebih mudah menulari orang tuanya.

Kecenderungan masyarakat kota yang ingin bergaya hidup praktis membuat mereka terjerumus dalam pola makan yang tidak terkontrol. Akibatnya terjadilah kegemukan yang sebenarnya rawan akan terserang penyakit.

Namun di masyarakat pedesaan muncul kasus yang berbeda. Minimnya pengetahuan akan gizi makanan membuat mereka hidup dalam kondisi kurang gizi. Padahal di sekitar mereka banyak terdapat makanan yang sehati.

Ada 27 persen anak Indonesia yang kekurangan gizi. Sedangkan lima persen di antara mereka justru berlebih gizi. Penelitian Hardinsyah menunjukkan jumlah wanita di Tanah Air yang kekurangan maupun kelebihan gizi sama jumlahnya, yakni mencapai 20 persen.

Kelebihan dan kekurangan gizi dapat berakibat fatal bagi perkembangan sebuah bangsa. Dengan kata lain, hilangnya satu generasi dapat terjadi karena kekurangan maupun kelebihan gizi.

Sosialisasi pentingnya pemahaman akan kandungan gizi suatu makanan terus dilakukan sang profesor ke berbagai pelosok negeri. Ia yang kini telah berusia 48 tahun itu telah menyebarkan pengetahuannya akan gizi. Mulai dari Papua yang rawan kekurangan gizi hingga ke kalangan menengah atas di Ibu Kota yang rawan kelebihan gizi.(ANS/Satya Pandia)