Sukses

Sudah 50 Mayat di Banjarnegara Dievakuasi

Liputan6.com, Banjarnegara: Tim evakuasi menemukan 13 jenazah korban longsor di Dusun Gunung Raja, Desa Sijeruk, Banjarmangu, Banjarnegara, Jawa Tengah, Jumat (6/1) petang. Dengan demikian, total korban tewas yang berhasil dievakuasi sejauh ini mencapai 50 jenazah. Sebagian besar korban berada di Rukun Tetangga 02 Dusun Gunung Raja, Desa Sijeruk.

Berdasarkan pemantauan SCTV, evakuasi berjalan lambat karena tingginya lumpur yang mencapai enam meter. Tanah yang menutupi permukiman warga di lima rukun tetangga itu tak bisa dipindahkan terlalu jauh. Akibatnya, petugas mencari secara acak ratusan korban yang diduga masih tertimbun karena tak ada yang mengetahui tepatnya keberadaan korban yang tertimbun.

Kendati lambat, kinerja tim evakuasi tak dapat dipandang sebelah mata. Mereka bekerja keras di lokasi yang terkadang masih diguyur hujan. Tim juga telah bekerja secara tertata mulai dari pencarian hingga pemakaman. Hari ini, pencarian dihentikan pada pukul 16.00 WIB dan akan diteruskan besok karena diperkirakan masih banyak korban yang tertimbun longsoran tanah.

Di antara jenazah yang ditemukan hari ini adalah ayah dari Purwanto. Penemuan ini tak pelak membuat Purwanto yang telah tiga hari ini mencari ayahnya, histeris. Sejumlah warga dibantu petugas terpaksa membawa Purwanto ke pos kesehatan untuk ditenangkan. Di tempat ini ternyata tak hanya Purwanto yang berderai air mata. Beberapa warga juga terlihat histeris setelah menemukan anggota keluarga mereka telah menjadi mayat.

Setiap hari memang banyak warga yang mendatangi posko pengumpulan jenazah untuk mencari tahu anggota keluarga mereka yang mungkin menjadi korban. Suasana pun tak jarang menjadi riuh dengan raungan tangis karena setiap hari ditemukan belasan jenazah.

Sore ini, ayah Purwanto beserta sembilan korban yang berhasil dikenali dimakamkan oleh keluarganya. Mereka dikebumikan di pemakaman umum di luar Desa Sijeruk, Banjarnegara. Sedangkan empat jasad lain dimakamkan massal di pemakaman Gunung Raja, tak jauh dari lokasi musibah [baca: Sore Ini, Pemakaman Massal Korban Longsor].

Keempat jenazah ini diperkirakan berasal dari satu keluarga dan tak memiliki famili lain di Desa Sijeruk. Mereka diduga berada dalam satu rumah ketika musibah terjadi dan tak sempat menyelamatkan diri.

Purwanto dan sejumlah warga lain terbilang beruntung karena menemukan kembali anggota keluarganya kendati telah menjadi mayat. Tapi tidak demikian dengan Kusnaedi. Kepala Dusun Gunung Raja ini belum juga menemukan istrinya yang hilang tertimbun longsoran tanah. Saat kejadian, istri Kusnaedi sedang berada di dalam masjid.

Menurut Kusnaedi, gejala longsor sebenarnya telah terjadi sejak sekitar pukul 01.00 WIB. Saat itu dia mendengar suara bergemuruh di bukit dekat perkampungannya seiring dengan hujan yang terus turun. Suara gemuruh itu terulang sekitar satu jam kemudian. Puncaknya, gelegar tanah longsor terdengar sekitar pukul 05.00 WIB, ketika sebagian warga usai menunaikan salat Subuh.

Kusnaedi menambahkan, saat bencana terjadi, di dalam masjid sebenarnya ada empat orang. Yakni Kusnaedi, anaknya, cucunya, dan istrinya. Namun istri Kusnaedi terlambat meninggalkan masjid. Padahal, istrinya sempat memakaikan jaket kepada cucunya yang akan meninggalkan masjid. Karena itu, saat longsor menimpa masjid, istri Kusnaedi ikut terkubur. "Alhamdulillah, saya selamat, cucu saya selamat, anak saya selamat, hanya istri saya yang tertimbun," tutur pria baya ini.

Hingga kini, istri Kusnaedi belum ditemukan. Padahal dia sangat berharap regu penyelamat berhasil mengevakuasi istrinya. "Upama tidak ditemukan, saya enggak rela lah. Bagaimana [cara] petugasnya terserah, [yang penting] harus ditemukan," kata Kusnaedi.

Dusun Gunung Raja sebenarnya berada di kawasan hutan lindung yang ditanami pohon rasamala dan pinus sejak 1931. Namun tepat di dusun tersebut tak banyak pohon tinggi untuk menahan longsoran tanah. Terlebih jenis tanah di tebing yang longsor adalah latosol yang rawan longsor ketika diguyur hujan.

Di tengah suasana duka akibat kehilangan sanak saudara dan harta benda, sekitar 400 warga yang selamat, mengungsi di tempat seadanya. Mereka sebagian ditampung di balai desa, Sekolah Dasar Sijeruk, dan sejumlah rumah warga yang luput dari bencana longsor. Para pengungsi umumnya mengeluhkan air bersih dan sarana mandi cuci kakus (MCK) yang masih terbatas. Juga, dapur umum yang belum optimal.

Sejauh ini barang bantuan untuk korban longsor di Dusun Gunung Raja, Desa Sijeruk, masih mengalir. Berdasarkan data di pos koordinasi setempat, barang bantuan ini datang dari 80 instansi baik pemerintah maupun swasta. Bantuan di antaranya terdiri dari selimut, pakaian, dan alas tidur. Sedangkan para pengungsi mengaku kekurangan makanan dan obat-obatan.(YAN/Tim Liputan 6 SCTV)