Evaluasi Kinerja Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh

Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi Aceh-Nias dalam delapan bulan selesai membangun 16 ribu unit rumah dan tengah menyelesaikan 16 ribu unit lagi. Hasil ini melebihi kapasitas pembangunan rumah oleh Perumnas.

Diterbitkan 16 Desember 2005, 09:39 WIB
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Direktur Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias (BRR) Kuntoro Mangkusubroto menyangkal lamban melaksanakan pembangunan di Nanggroe Aceh Darussalam pasca-Tsunami. Menurut dia, membangun kembali kawasan seluas 800 kilometer atau sepanjang garis pantai Aceh bukan pekerjaan mudah. BRR juga harus memantau alokasi dana bantuan. Bantahan ini disampaikan Kuntoro dalam paparan evaluasi kinerja BRR di Jakarta, Kamis (15/12).

Setelah dibentuk April 2005, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh, sampai pertengahan Desember 2005 selesai membangun 16 ribu unit rumah [baca: Kuntoro Mengomandani Rekonstruksi Aceh-Nias]. Pembangunan 16 ribu rumah lagi dalam tahap penyelesaian. Hasil kerja BRR ini melampaui kapasitas Perumnas dalam menyediakan rumah, yaitu 16.500 per tahun. "Produktivitas BRR hampir empat kali Perumnas hanya dalam tempo enam sampai tujuh bulan," ujar Kuntoro. Proses rehabilitasi bencana ini disebut Kuntoro sebagai program rekonstruksi terbesar di dunia.

Pemulihan sekolah dan pelayanan kesehatan diterangkan Kuntoro berjalan pesat. Pendidikan dan kesehatan penting diutamakan mengingat pascabencana banyak sekolah dan pusat kesehatan masyarakat serta rumah sakit hancur dihantam gelombang air maha dahsyat pada 26 Desember tahun silam. Rehabilitasi di bidang perekonomian juga makin kondusif. Pemulihan mata pencaharian bagi petani dan nelayan telah mencapai 50 persen.

Pembangunan sarana-sarana publik di Aceh telah menghabiskan biaya sekitar US$ 4,4 miliar. BRR kini menunggu bantuan dari donatur yang berjanji akan menggelontorkan uang sejumlah US$ 7,14 miliar. Kendati hasil rehabilitasi yang dikerjakan BRR sudah maksimal, Kuntoro mengakui cepat atau lambatnya proses itu tergantung persepsi publik. Yang pasti, Aceh sedang dipulihkan kembali.

Paparan Kuntoro sedikit berbeda dengan fakta di lapangan. Lebih dari 67 ribu orang, saat ini, masih tinggal di tenda dan barak pengungsian. Sarana pendidikan juga belum tersedia. Puluhan murid di Kecamatan Johan Pahlawan, Kota Meulaboh, Aceh Barat, misalnya. Mereka terpaksa belajar di tenda darurat. Sebab, bangunan SD Negeri 08 yang terletak di Jalan Suak Raya hancur.

Dalam kondisi serba darurat begitu para murid tetap semangat. Belajar di tenda pun jadi buat mereka. Tenaga pengajarnya sebanyak delapan orang. Karena Meulaboh berada di tepi pantai yang udaranya panas maka jika cuaca kurang kondusif sekolah diliburkan. "Kalau mendung, hujan atau angin mereka ketakutan," kata Kepala SDN 08 Rosnah.

Kini persoalan baru tengah menggelayuti kepala Rosnah. Tenda darurat tempat murid belajar mulai sobek-sobek. Rosnah mengaku telah mengadu kepada Dinas Pendidikan Meulaboh, tapi belum ada respons. Sementara perbaikan sekolah yang rusak di Meulaboh baru selesai Desember 2006. Rosnah pun makin kalut.(KEN/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6