Sukses

Paket di KBRI Canberra Diduga Bakteri Antraks

Liputan6.com, Canberra: Serbuk kimia dalam paket surat yang diterima Kedutaan Besar Republik Indonesia di Canberra, Australia, Rabu (1/6), diduga berisi serbuk yang mengandung basil penyebab antraks. Sejumlah laporan menyebutkan, bakteri batang itu adalah jenis anthracis. Sedangkan untuk mengantisipasi kejadian terburuk, para staf kedutaan menjalani proses dekontaminasi di dalam gedung. Sejauh ini, mereka dilaporkan dalam keadaan baik dan akan diperbolehkan meninggalkan gedung kedutaan.

Menyusul paket surat tersebut, KBRI ditutup sejak pukul 09.30 waktu setempat [baca: Kedubes RI di Australia Ditutup]. Sementara para petugas pemadam kebakaran dan ambulans serta staf medis disiagakan. Menyikapi persoalan ini, Perdana Menteri Australia John Howard secara resmi meminta maaf kepada pemerintah Indonesia [baca: Indonesia Mengutuk Aksi Teror di KBRI Canberra].

Howard pun mengungkapkan, benda mencurigakan ini berupa serbuk yang dimasukkan dalam amplop dan dialamatkan kepada Duta Besar Indonesia Imron Cotan. Menurut Howard, serbuk tersebut mengandung basil. Namun ia tidak memberi penjelasan lebih terperinci.

Sebelumnya KBRI menerima ancaman terkait dengan vonis 20 tahun penjara bagi Schapelle Leigh Corby yang dijatuhkan oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Denpasar, Bali. Corby, warga Australia dinyatakan bersalah karena membawa 4,1 kilogram mariyuana saat memasuki Denpasar, Oktober tahun silam. [baca: Corby Divonis 20 Tahun Penjara].

Di kesempatan terpisah, Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda mengutuk keras teror yang dilakukan terhadap KBRI di Australia. Hal itu disampaikan Wirajuda saat mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam lawatan ke Jepang. Ia menilai aksi tersebut sebagai tindakan pengecut. Wirajuda mengatakan, dirinya telah ditelepon langsung oleh Menlu Australia Alexander Downer yang menyesal dan mengecam keras insiden itu. Downer juga berjanji pihaknya akan bekerja keras untuk mengungkap kasus ini.

Wirajuda menduga, tindakan itu dilakukan oleh pihak yang tidak suka terhadap Indonesia terutama berkaitan dengan kasus Corby. Kendati demikian, menurut Wirajuda, insiden ini tak akan menganggu hubungan kedua negara.

Meski sentimen anti-Indonesia dan wacana boikot Bali muncul di Australia, kunjungan wisatawan Australia ke Pulau Dewata masih normal [baca: Aksi Anti-Indonesia Marak di Australia]. Di kawasan Kuta, Denpasar, misalnya. Para turis masih tampak di beberapa tempat seperti di Jalan Legian hingga Pantai Kuta.

Pemandangan serupa tampak di Bandar Udara Ngurah Rai. Wisatawan asal Negeri Kanguru yang datang melalui bandara ini juga masih normal seperti hari biasa. Setiap hari, pelancong asing asal Australia yang tiba ke Pulau Dewata rata-rata berjumlah sebanyak 600 orang. Mereka antara lain berasal dari Sydney, Perth, Adelaide, Brisbane, dan kota lainnya.

Kenyataan itu diperkuat keterangan yang diungkapkan Pelaksana Harian Kepala Kantor Imigrasi Bandara Ngurah Rai Kompiang Adnyana. Menurut dia, jumlah kunjungan wisatawan Australia ke Bali relatif stabil. Setiap bulannya, jumlah turis Australia yang datang berkisar 19 hingga 20 ribu orang.

Hingga saat ini, pelancong Australia yang berlibur ke Bali tetap menduduki urutan kedua setelah wisatawan Jepang. Berdasarkan survei Dinas Pariwisata Bali, umumnya, wisatawan Aussie berada di Bali selama 13 hari.(AIS/Tim Liputan 6 SCTV)
    Loading